PROBOLINGGO – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan apresiasi terhadap kreativitas peserta didik dalam mengembangkan produk berbasis potensi lokal melalui program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP). Beragam hasil budidaya dan olahan pangan yang dipamerkan di Probolinggo dinilai menjadi bukti bahwa lingkungan sekolah dapat dikembangkan sebagai ruang pembelajaran produktif sekaligus penguatan ekonomi.
Apresiasi tersebut disampaikan Khofifah saat meninjau pameran hasil program SIKAP Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Probolinggo, Selasa (3/11/2026). Dalam kunjungan tersebut, Khofifah melihat langsung berbagai produk yang dihasilkan siswa dari sejumlah SMA, SMK, dan SLB di wilayah Kota dan Kabupaten Probolinggo.
Pameran tersebut menghadirkan sembilan stan dengan 32 jenis produk unggulan. Berbagai hasil kreativitas siswa ditampilkan, mulai dari komoditas hortikultura seperti kentang, tomat, dan wortel hingga produk pangan olahan berupa minuman bunga telang, ikan marinasi, dimsum, dan puding.
Khofifah menyambut positif upaya satuan pendidikan dalam mengembangkan potensi lingkungan sekolah menjadi sumber pembelajaran yang memiliki manfaat nyata. Menurutnya, program SIKAP tidak sekadar mengajarkan teori tentang ketahanan pangan, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk membudidayakan tanaman pangan.
“SIKAP inilah yang dikembangkan di semua SMA/SMK, negeri maupun swasta, SLB negeri maupun swasta, se-Jawa Timur. Kita harapkan bahwa ketahanan pangan bisa kita maksimalkan melalui media tanam yang memungkinkan. Jadi kalau tidak ada yang di atas lahan langsung, maka bisa di polibag,” ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, keterbatasan lahan bukan alasan bagi sekolah untuk tidak mengembangkan kegiatan budidaya. Pemanfaatan polibag maupun media tanam alternatif dapat menjadi solusi agar kegiatan pertanian tetap berjalan, termasuk di sekolah yang memiliki area terbatas.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai bagian dari gerakan penguatan ketahanan pangan nasional. Melalui SIKAP, peserta didik diharapkan memahami proses produksi pangan sejak tahap penanaman, perawatan hingga menghasilkan panen.
“Jadi melalui SIKAP, kita ingin bagaimana sekolah-sekolah itu menjadi bagian pembelajaran dan penguatan terwujudnya ketahanan pangan di Indonesia dimulai dari sekolah-sekolah di Jawa Timur,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menilai program SIKAP menjadi salah satu sarana untuk memperkuat pembelajaran berbasis praktik dan inovasi. Peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan di dalam kelas, tetapi juga didorong menghasilkan karya yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Aries menegaskan pentingnya pembelajaran yang memberikan ruang bagi guru dan siswa untuk mengembangkan kreativitas serta keterampilan. Hal tersebut sejalan dengan pendekatan pendidikan vokasi yang menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Alat tersebut menjadi salah satu wujud nyata pembelajaran vokasi yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga mendorong lahirnya karya inovatif yang dapat menjawab kebutuhan di lapangan,” kata Aries dalam keterangannya saat meninjau inovasi siswa di Probolinggo.
Menurut Aries, pengembangan SIKAP juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal lebih dekat sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kemandirian, tanggung jawab, kreativitas, serta kemampuan berinovasi.
Pameran produk SIKAP menjadi salah satu gambaran bagaimana hasil pembelajaran di sekolah dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah. Produk yang sebelumnya hanya berupa bahan mentah dapat diolah menjadi makanan maupun minuman dengan tampilan dan nilai jual yang lebih menarik.
Keterlibatan siswa dalam proses tersebut juga membuka ruang pembelajaran kewirausahaan. Mereka dapat mengenal tahapan produksi, pengolahan bahan baku, pengemasan hingga pemasaran. Dengan demikian, kegiatan SIKAP tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga memberikan bekal keterampilan untuk menghadapi dunia kerja maupun membangun usaha.
Selain pameran produk, kunjungan Khofifah di SMKN 4 Kota Probolinggo juga dirangkaikan dengan penanaman 100 pohon bersama guru dan murid. Bibit yang ditanam terdiri atas tanaman mangga, alpukat, dan kelengkeng.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan pendidikan. Sekolah memiliki peluang untuk mengoptimalkan lahan yang tersedia sekaligus mengajak peserta didik lebih dekat dengan kegiatan produktif yang bermanfaat bagi lingkungan.
Melalui pengembangan program SIKAP, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap satuan pendidikan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis, jiwa kewirausahaan, dan kepedulian terhadap ketahanan pangan.
Khofifah dan Aries berharap kreativitas yang ditampilkan dalam pameran tersebut terus dikembangkan sehingga tidak berhenti sebagai hasil kegiatan pembelajaran semata. Dengan pendampingan, inovasi, dan penguatan kualitas produk, hasil karya siswa berpeluang menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.







