SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meluncurkan Program Studi Magister Kajian Turats di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Sabtu (10/10/2026).
Program ini menjadi program magister kajian turats pertama di Indonesia untuk memperkuat pelestarian dan pengembangan khazanah keilmuan ulama Nusantara.
Khofifah mengatakan, program tersebut diharapkan melahirkan generasi intelektual pesantren yang mampu menggali, merawat, dan mengembangkan warisan keilmuan Islam Nusantara sebagai referensi dunia. Dalam kesempatan itu, ia juga menyerahkan beasiswa magister secara simbolis kepada 10 mahasiswa penerima.
“Kehidupan keislaman yang moderat dan damai merupakan khazanah yang sangat penting untuk diperkenalkan kepada masyarakat dunia,” ujar Khofifah.
Menurutnya, turats dan manuskrip kuno bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan menyimpan pemikiran dan perjuangan ulama dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari tafsir, hadis, fikih, tasawuf hingga sejarah.
Khofifah menilai Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi referensi dunia dalam pengembangan Islam moderat, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin. Potensi tersebut didukung tradisi pesantren serta pemikiran ulama yang berkembang di wilayah tersebut.
Ia menjelaskan, upaya penyelamatan manuskrip kuno ulama Nusantara mulai menguat setelah dirinya dilantik sebagai gubernur pada Februari 2019. Sejak itu, penelusuran naskah dilakukan untuk mengidentifikasi karya-karya ulama yang membutuhkan perawatan dan pelestarian.
Dari proses tersebut, sekitar 400 kitab berhasil diidentifikasi, dengan sekitar 200 kitab telah menjalani digitalisasi. Hasil penggalian khazanah keilmuan itu juga disusun dalam bentuk ikhtisar dan pernah diserahkan kepada Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmed Mohamed Ahmed El-Tayeb.
Khofifah turut mendorong pendataan dan penerbitan turats secara tertib, termasuk pencatatan identitas penerbitan melalui e-SBN, agar karya ulama terlindungi dan sumber kepengarangannya dapat ditelusuri.
Sementara itu, Plt. Direktur Pascasarjana UINSA, Prof. Masdar Hilmy, menyatakan pihaknya siap mengawal pelaksanaan program studi tersebut agar memberikan manfaat bagi pesantren dan perguruan tinggi.
Masdar berharap Pemprov Jatim dapat memberikan beasiswa kepada minimal 10 mahasiswa setiap tahun untuk mendukung keberlanjutan program serta pelestarian kajian klasik Islam.
“Kami siap hadir dan mengawal prodi ini memberikan manfaat dan berkah untuk pesantren dan pendidikan di perguruan tinggi,” kata Masdar. (*)







