Liburan sekolah sering kali identik dengan anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar gawai. Padahal, ada cara sederhana yang tak kalah menyenangkan sekaligus bermanfaat bagi tumbuh kembang mereka, yakni bermain permainan tradisional bersama keluarg
Pesan itulah yang disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak saat menjadi keynote speaker pada International Conference on Innovation in Early Childhood Education (ICIECE) 2026 di Universitas Negeri Malang, Kamis (2/7).
Bagi Arumi, masa liburan adalah kesempatan terbaik bagi orang tuantuk kembali hadir di tengah aktivitas anak. Bukan sekadar menemani, tetapi ikut bermain, bercanda, dan menciptakan kenangan yang kelak akan terus diingat.
Menurutnya, permainan tradisional menyimpan banyak manfaat yang mungkin mulai terlupakan di era digital. Permainan seperti gobak sodor, engklek, petak umpet, hingga bentengan bukan hanya menghadirkan tawa, tetapi juga melatih anak berkomunikasi, bekerja sama, menghargai teman, dan belajar menyelesaikan persoalan dengan cara yang menyenangkan.
“Melalui permainan tradisional, anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, menghargai teman, sekaligus mengembangkan kemampuan kognitifnya secara alami,” ujar Arumi.
Sebagai seorang ibu, Arumi mengaku berusaha mengenalkan permainan-permainan tradisional kepada anak-anaknya. Baginya, aktivitas sederhana tersebut menjadi cara efektif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget tanpa harus memaksa.
Ia menyadari teknologi memang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaan gawai yang berlebihan tetap perlu dikendalikan karena dapat memengaruhi perkembangan anak, mulai dari kemampuan berbicara, pengelolaan emosi, hingga kesehatan mental.
Karena itu, Arumi mengajak para orang tua lebih banyak menciptakan aktivitas yang melibatkan interaksi langsung. Bermain bersama di halaman rumah, mengajak anak berlari, atau sekadar menikmati permainan tradisional dapat menjadi alternatif yang jauh lebih sehat dibanding membiarkan anak terus terpaku pada layar.
Tak hanya baik bagi perkembangan sosial dan emosional, permainan tradisional juga membantu anak tetap aktif bergerak. Aktivitas di luar ruangan dapat meningkatkan kebugaran, membentuk postur tubuh yang baik, sekaligus menumbuhkan kebiasaan hidup sehat sejak dini.
Menurut Arumi, mendampingi anak juga tidak cukup hanya dengan kasih sayang. Orang tua perlu terus belajar memahami kebutuhan anak sesuai tahap usianya, mulai dari pemenuhan gizi hingga stimulasi yang mendukung perkembangan fisik maupun kecerdasannya.
Komitmen itu juga diwujudkan TP PKK Provinsi Jawa Timur melalui berbagai program peningkatan kualitas anak usia dini. Selain terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya gizi untuk mencegah stunting, PKK Jatim juga mengenalkan cerita rakyat dan legenda lokal dalam buku-buku PAUD sebagai media belajar yang menyenangkan.
Arumi bahkan berharap kekayaan cerita daerah Indonesia dapat diterjemahkan ke berbagai bahasa asing agar semakin dikenal dunia, sekaligus menumbuhkan kecintaan anak terhadap budaya bangsa sejak usia dini.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ajakan Arumi menjadi pengingat bahwa kebahagiaan anak tidak selalu hadir dari permainan digital. Kadang, tawa paling lepas justru lahir dari permainan sederhana di halaman rumah, ditemani orang tua yang meluangkan waktu untuk benar-benar hadir. (*)







