MAKASSAR – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memaparkan berbagai strategi transformasi pendidikan dan inovasi pemerintahan yang dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di hadapan ratusan peserta Pelatihan Dasar (Latsar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Pemerintahan (Pusjar SKMP) Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Makassar, Jumat (26/6/2026).
Sebanyak 163 peserta yang mayoritas merupakan dosen muda dari berbagai perguruan tinggi di Makassar mengikuti paparan Khofifah mengenai pembangunan sumber daya manusia (SDM), inovasi daerah, serta peran strategis aparatur sipil negara (ASN) dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Didampingi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai, Khofifah menegaskan bahwa pembangunan SDM harus menjadi prioritas utama setiap daerah. Menurutnya, transformasi pendidikan bukan sekadar meningkatkan kualitas sekolah, tetapi membentuk manusia yang unggul, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
“ASN bukan sekadar pelaksana kebijakan, melainkan penggerak perubahan yang menentukan masa depan Indonesia. Pemimpin bukan diukur dari banyaknya program, tetapi dari besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat,” tegas Khofifah.
Ia menilai cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila seluruh daerah mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Karena itu, pembangunan daerah harus menjadi fondasi kemajuan nasional.
Khofifah juga menekankan bahwa pendidikan merupakan instrumen paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan sekaligus investasi terbesar bagi sebuah bangsa.
“Di mana-mana rumus memutus mata rantai kemiskinan adalah melalui pendidikan. Karena itu pendidikan harus menjadi penguatan bagi para policy maker sekaligus investasi terbesar dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Menurut Khofifah, transformasi pendidikan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga memastikan seluruh masyarakat memperoleh kesempatan berkembang secara setara.
“Saya selalu menyampaikan no one left behind. Kita harus tumbuh bersama, berkembang bersama, maju bersama, dan akhirnya sejahtera bersama,” katanya.
Komtmen tersebut, lanjut Khofifah, tercermin dari berbagai capaian Jawa Timur. Salah satunya, provinsi ini menjadi peringkat pertama penerimaan mahasiswa melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) selama tujuh tahun berturut-turut sejak 2020 hingga 2026.
Pemprov Jawa Timur juga terus memperluas akses pendidikan melalui program beasiswa. Pada 2026, sebanyak 81.131 calon siswa SMA/SMK swasta dan 62.000 calon mahasiswa perguruan tinggi swasta menerima bantuan pendidikan.
Selain itu, jumlah sekolah swasta yang berpartisipasi dalam program beasiswa meningkat 18,84 persen, dari 1.772 menjadi 2.106 sekolah.
“Kita ingin setiap anak di Jawa Timur memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Partnership seperti ini saya rasa hanya ada di Jawa Timur,” ungkapnya.
Khofifah menambahkan, pembangunan pendidikan di Jawa Timur juga diarahkan agar menghasilkan lulusan yang mampu menjawab kebutuhan dunia kerja. Berbagai program terus dikembangkan, mulai dari pembelajaran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), digital learning, East Java Information Education System (EJIES), hingga pengembangan sekolah taruna.
“Jawa Timur terus mendorong sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang berkarya dan berinovasi sehingga lulusannya siap menghadapi kebutuhan dunia kerja,” katanya.
Ia menegaskan bahwa dunia kerja saat ini semakin menuntut kompetensi yang terukur dibanding sekadar kepemilikan ijazah.
“Kita membutuhkan kompetensi sesuai kebutuhan pasar. Saat ini sertifikat kompetensi semakin penting karena dapat menggambarkan kemampuan yang dimiliki seseorang,” ujarnya.
Menutup paparannya, Khofifah mengajak seluruh peserta Latsar memanfaatkan bonus demografi Indonesia dengan terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu menjadi pemimpin yang adaptif, inovatif, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Pusjar SKMP LAN RI Makassar mengapresiasi kesediaan Gubernur Khofifah berbagi pengalaman. Menurutnya, berbagai praktik baik Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat menjadi referensi bagi para calon ASN dalam membangun tata kelola pemerintahan yang inovatif dan berdampak. (*)







