SURABAYA, WartaTransparansi.com – DPRD Jawa Timur mendorong penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) diperkuat. Langkah strategis dinilai perlu segera dilakukan untuk mencegah kobaran api meluas ke wilayah yang sulit diprediksi.
Anggota Komisi A DPRD Jatim Jatim, Sumardi, SH, MH, menilai upaya yang dilakukan tim TNBTS, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), serta BPBD Jawa Timur sudah cukup maksimal.
Namun, kondisi alam dan angin kencang masih menjadi kendala dalam proses pemadaman sehingga api berpotensi semakin meluas.
“Saya rasa upaya yang dilakukan teman-teman TNBTS, BBTNBTS dan juga Kalaksa BPBD Jawa Timur sudah cukup maksimal. Tapi sampai hari ini memang kondisi alam masih belum bisa bersahabat karena angin juga cukup kencang sehingga kebakaran semakin meluas,” ujar Sumardi.
Karena itu, Sumardi meminta seluruh pihak terkait segera mengambil langkah-langkah strategis agar kebakaran dapat dihentikan dan tidak semakin meluas ke wilayah yang sulit diprediksi.
Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan, menurutnya, adalah memperkuat pemadaman dari udara dengan menambah armada helikopter water bombing. Saat ini, tiga helikopter telah dikerahkan untuk membantu proses pemadaman kebakaran.
Namun, jumlah tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu mengatasi kondisi di lapangan.
“Tim pemadam kebakaran dengan pengerahan helikopter itu kan sudah ada tiga. Tapi kelihatannya belum mampu juga. Kalau begitu kan perlu ada penambahan juga,” katanya.
Meski demikian, Sumardi, Anggota FPG itu memahami bahwa pengerahan helikopter membutuhkan biaya yang cukup besar. Karena itu, penambahan armada udara perlu dipertimbangkan secara matang dan tidak menjadi satu-satunya pilihan dalam penanganan kebakaran.
“Memang helikopter ini juga biaya tinggi. Mungkin kalau ditambahi juga kita bicara cost yang mungkin menjadi perhitungan dari teman-teman yang ada di lapangan. Cuma mungkin bukan satu-satunya cara,” jelasnya.

Selain menambah helikopter, Sumardi juga mendorong pelibatan unsur lain, termasuk TNI dan Polri, maupun institusi terkait untuk memperkuat personel di lapangan. Kolaborasi lintas lembaga dinilai penting agar upaya pemadaman dapat dilakukan secara lebih optimal.
“Atau paling tidak mungkin melibatkan pihak-pihak lain, TNI-Polri atau institusi yang lain yang bisa diterjunkan untuk bersama-sama melakukan upaya pemadaman di kawasan hutan itu,” ujarnya.
Kebakaran Bromo Jangan Jadi Rutinitas Tahunan
Sumardi juga menyoroti persoalan kebakaran di kawasan Bromo yang dinilai kerap berulang. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius agar kebakaran tidak berubah menjadi peristiwa yang seolah menjadi agenda tahunan.
Ia meminta kejadian kali ini menjadi bahan evaluasi kritis bagi pengelola kawasan TNBTS bersama seluruh jajaran terkait. Evaluasi tidak hanya menyangkut respons ketika kebakaran terjadi, tetapi juga sistem pencegahannya.
“Kita berharap dengan adanya kejadian ini juga menjadi bahan evaluasi yang cukup kritis yang dilakukan oleh teman-teman TNBTS beserta jajaran terkait supaya nanti ini tidak terulang kembali,” tuturnya.
Sumardi mendorong agar program antisipasi kebakaran dilakukan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui rehabilitasi kawasan, termasuk reboisasi dan penanaman vegetasi yang dapat membantu menjaga kondisi lingkungan.
“Kita berharap ini menjadi salah satu critical factor agar menjadi catatan dan tidak sampai luput dari program antisipasi kebakaran. Apakah nanti bisa dilakukan penanaman tumbuh-tumbuhan yang bisa menyerap air, atau paling tidak dilakukan reboisasi,” katanya.
Patroli TNBTS Perlu Terus Dioptimalkan
Terkait kebutuhan posko khusus pemadam kebakaran, Sunardi menilai keberadaannya perlu disesuaikan dengan sistem operasional yang sudah berjalan di kawasan TNBTS.
Menurut dia, petugas TNBTS selama ini telah memiliki sejumlah pos yang mendukung kegiatan patroli dan pengawasan kawasan. Aktivitas tersebut tidak hanya berkaitan dengan pencegahan kebakaran, tetapi juga pengawasan terhadap berbagai aktivitas di kawasan konservasi.
“Kalau posko mungkin dari beberapa kegiatan rutin anak-anak TNBTS ini mereka juga ada beberapa posko. Karena mereka pasti melakukan rutinitas untuk mobile, tidak hanya sebagai posko kebakaran, tetapi posko kegiatan teman-teman TNBTS,” ujarnya.
Ia menilai sistem patroli dan mobilitas petugas tersebut perlu terus dioptimalkan. Pengawasan langsung di lapangan dinilai penting untuk mendeteksi potensi gangguan sejak dini, termasuk potensi kebakaran.
Sumardi mencontohkan, kegiatan patroli petugas TNBTS sebelumnya juga berperan dalam menemukan adanya tanaman ganja di kawasan tersebut.
“Jadi tidak perlu harus ditempatkan khusus. Kegiatan itu mereka sudah bisa melakukan pengawasan secara optimalisasi,” pungkas Sumardi.
(zal/min)







