MAKKAH — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat memperkuat peran sebagai peace maker atau pembawa perdamaian dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu disampaikannya bertepatan dengan Hari Perdamaian Internasional yang diperingati setiap 21 September.
Tahun ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusung tema “Invest in Peace: For Everyone, Everywhere, Every Day” atau “Berinvestasi dalam Perdamaian: Untuk Semua Orang, Di Mana Saja, Setiap Hari”.
Menurut Khofifah, tema tersebut menegaskan bahwa perdamaian merupakan tanggung jawab bersama dan harus dimulai dari lingkungan terdekat.
“Perdamaian dan kerukunan tidak hadir dengan sendirinya. Keduanya harus terus dijaga melalui sikap saling menghormati, kesediaan untuk mendengar, serta kemampuan menyelesaikan perbedaan melalui dialog,” kata Khofifah, yang kini melakkan melakukan kunjunga ke Arab Saudi, Selasa (22/9/2026).
Ia menegaskan, perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik, tetapi juga terciptanya rasa saling menghormati, memahami, membantu, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Khofifah mengatakan, upaya menjaga perdamaian harus dimulai dari kemampuan setiap individu menciptakan kedamaian dalam diri. Nilai tersebut kemudian diwujudkan dalam hubungan harmonis di keluarga, lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, hingga masyarakat.
“Kedamaian harus dimulai dari dalam diri. Ketika seseorang memiliki cinta kasih, kebijaksanaan, dan kemampuan mengendalikan diri, maka ia akan lebih mampu menghargai orang lain dan menyelesaikan perbedaan tanpa kekerasan,” tuturnya.
Menurutnya, kondisi masyarakat yang aman dan damai juga menjadi fondasi penting bagi pendidikan, pertumbuhan ekonomi, pelayanan publik, serta pembangunan kesejahteraan.
Khofifah menyebut Jawa Timur memiliki modal sosial berupa keberagaman suku, agama, budaya, tradisi, dan latar belakang masyarakat. Keberagaman itu, lanjutnya, harus dirawat menjadi kekuatan persaudaraan, bukan berkembang menjadi prasangka, diskriminasi, kebencian, maupun kekerasan.
“Jawa Timur adalah rumah bersama. Keberagaman yang kita miliki harus menjadi energi untuk memperkuat persaudaraan dan gotong royong,” katanya.
Ia juga mendorong keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, tempat ibadah, dan komunitas untuk memperkuat budaya dialog serta penyelesaian persoalan melalui musyawarah.
Generasi muda, kata Khofifah, juga memiliki peran penting sebagai penggerak kerukunan. Kreativitas dan jejaring mereka dapat digunakan untuk membangun persahabatan lintas kelompok sekaligus mencegah berkembangnya prasangka.
Di ruang digital, masyarakat diminta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, ujaran kebencian, provokasi, maupun konten yang merendahkan kelompok lain.
“Kebebasan menyampaikan pendapat harus dijalankan dengan etika, empati, dan tanggung jawab,” ujarnya.
Khofifah menambahkan, investasi dalam perdamaian juga diwujudkan melalui pelayanan yang adil dan inklusif serta kesempatan yang setara bagi masyarakat.
Pemprov Jatim, lanjutnya, akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, media, dunia usaha, komunitas, perempuan, dan generasi muda untuk menjaga harmoni sosial.
“Selamat Hari Perdamaian Internasional Tahun 2026. Mari menjaga perdamaian dan kerukunan untuk semua orang, di mana saja, dan setiap hari,” pungkasnya. (*)





