KEDIRI – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, Sabtu (20/6) malam. Forum strategis yang berlangsung pada 20-21 Juni 2026 tersebut menjadi bagian penting menjelang Muktamar ke-35 NU.
Pembukaan Munas-Konbes ditandai dengan penabuhan kentongan sebanyak sembilan kali oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar didampingi Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Jenderal PBNU, Khatib Aam PBNU, Gubernur Khofifah, serta perwakilan Pondok Pesantren Al Falah Ploso.
Dalam sambutannya, KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan peradaban yang semakin kompleks sehingga membutuhkan langkah strategis dalam menjalankan khidmat kepada umat. Menurutnya, terdapat tiga kebutuhan mendesak yang harus diperkuat oleh jam’iyah NU.
Ketiga hal tersebut meliputi membangkitkan kembali dhamir ijtima’i atau kesadaran sosial di tengah masyarakat, membangun opini publik yang berlandaskan moral untuk memperkuat kontrol sosial, serta meningkatkan kualitas kepemimpinan yang berlandaskan semangat jihad dan ijtihad.
“Jam’iyah kita yang terorganisasi ini, demi menghadapi tuntutan masa kini dan masa depan, berada dalam kondisi sangat membutuhkan tiga hal penting,” ujar KH Miftachul Akhyar.
Rais Aam PBNU itu menjelaskan bahwa jihad tidak hanya dimaknai sebagai perjuangan fisik, melainkan kesungguhan dalam mengerahkan seluruh kemampuan untuk mencapai ketaatan kepada Allah SWT. Sementara ijtihad menuntut para pemimpin organisasi memiliki kecerdasan, keluasan ilmu, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat terhadap berbagai persoalan kontemporer.
Menanggapi pesan tersebut, Gubernur Khofifah menyatakan bahwa arahan Rais Aam menjadi pedoman penting bagi keluarga besar NU dalam memperkuat peran organisasi di tengah dinamika zaman. Menurutnya, tema Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa”, selaras dengan pesan penguatan kesadaran sosial, moralitas publik, dan kualitas kepemimpinan.
“Menjaga marwah tidak cukup hanya menjaga integritas dan moralitas organisasi, tetapi juga harus diwujudkan melalui khidmat yang semakin nyata dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” kata Khofifah.
Khofifah menegaskan bahwa Munas dan Konbes NU merupakan forum strategis untuk merumuskan pandangan keagamaan sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat, bangsa, dan negara. Ia optimistis forum para ulama tersebut akan menghasilkan keputusan yang mampu memperkuat peran NU dalam membangun kemaslahatan sosial, mempererat persaudaraan, serta menjawab berbagai tantangan masyarakat.
Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada PBNU, keluarga besar Pondok Pesantren Al Falah Ploso, para kiai, santri, relawan, dan panitia penyelenggara. Ia berharap seluruh rangkaian Munas dan Konbes NU 2026 berjalan lancar serta menghasilkan keputusan terbaik bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.
(abi/min)







