Ketika melintas di daerah Porong Sidoarjo, ada pohon keres dan mangga dekat lintas kereta api, adalah awal perjuangan Marsinah tahun 1990 an, memperjuangkan hak-hak buruh perempuan dengan lantang.
Tugu Marsinah (sering dikenal sebagai Tugu Kuning), yang menjadi tempat terakhir kali aktivis Marsinah terlihat hidup sebelum diculik, terletak di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo.
Ketika Museum Ibu Marsinah diresmikan, Presiden Prabowo Subianto, Sabtu (16 Mei 2026) saat tulisan ini dibuat, semestinya “Tugu Marsinah” juga sudah menjadi monumen abadi sebagai simbol perjuangan buruh perempuan, bernama Marsinah. Tugu Marsinah sebagai pengaturan Museum karena melengkapi perjuangan akhir dan tempat lahir.
Sebagaimana diketahui
Marsinah bekerja sebagai buruh di pabrik arloji PT Catur Putra Surya (CPS) yang berlokasi di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Kawasan tempat pabrik tersebut beroperasi sebelumnya kini telah tertimbun oleh material lumpur Lapindo. Tetapi bekas Tugu Marsinah masih ada, tetapi tidak sepopuler ketika almarhumah Marsinah berjuang hingga titik dan detak nafas terakhir.
Marsinah menjadi pejuang buruh perempuan sampai nafas terakhir, setelah 9 Mei 1993 diberitakan sudah tidak bernyawa.
Marsinah, terlahir di Nganjuk 10 April 1969, resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025 atas perjuangannya menegakkan hak-hak kaum pekerja. Sebagai buruh perempuan asal Nganjuk yang gugur di Sidoarjo, ia menjadi ikon perlawanan buruh Indonesia dan pahlawan nasional pertama yang lahir pasca-kemerdekaan.
Berbagai sumber menyebutkan, jasad almarhumah Marsinah ditemukan di kawasan hutan jati Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur, pada 8 Mei 1993.
Aktivis buruh tersebut ditemukan di kawasan Dusun Jegong, Desa Wilangan, dalam kondisi mengenaskan setelah dinyatakan hilang sejak 5 Mei 1993. Untuk lebih mendalami kronologi peristiwa ini. Tugu Marsinah di Porong Sidoarjo layak dibangun sebagai simbol pejuang anak bangsa melawan kapitalis.
Ibu Marsinah sudah diberi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional, dan melengkapi ikon perjuangan buruh tokoh buruh memberi tetenger atas perjuangan terhadap nasib buruh, pada 16 Mei 2026, Museum Ibu Marsinah diresmikan dengan bacaan Bismillahirrahmanirrahim dan tanda tangan Presiden Prabowo Subianto.
Museum Marsinah dan Rumah Singgah berlokasi di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Desa ini merupakan kampung halaman sekaligus tempat peristirahatan terakhir Marsinah, pahlawan nasional yang menjadi simbol perjuangan hak-hak buruh di Indonesia.
Almarhum Marsinah sempat bekerja di pabrik sepatu sebelum akhirnya menjadi buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), pabrik arloji di Porong, Sidoarjo, pada 1990. Kemudian dibunuh saat berusia 24 tahun ketika sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), pabrik pembuat jam di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, berjuang sebagai buruh wanita dengan nyata dan berani beda.
Marsinah aktif dari Tugu Kuning (Tugu Marsinah), berorganisasi melalui SPSI dan menjadi salah satu motor penggerak yang gigih menyuarakan hak-hak serta kesejahteraan buruh.
Museum adalah penghargaan sebagai saksi sejarah, tetapi tidak berlebihan di Tugu Marsinah dibangun tetengar sebagai simbol perjuangan yang sesungguhnya dan nyata, dari sanalah Marsinah memperjuangkan buruh perempuan Indonesia menjadi anak-anak bangsa bermarwah menjaga seluruh bumi Indonesia.
Mengapa Tugu Marsinah? Tugu Kuning (Tugu Marisnah) akan lebih hidup karena berada di dekat jalan protokol dan dekat dengan jalur kereta api. Juga dekat dengan kawasan lumpur Lapindo yang juga punya sejarah panjang dalam hal keajaiban pengeboran sumur minyak.
Semoga “Tugu Marsinah”, dibangun atau tidak tetap, tetap menjadi semangat kaum buruh tidak pernah runtuh walau harus terus bergemuruh membela sesama buruh.
Semua untuk kesejahteraan dan kemakmuran buruh, sekaligus menjadi bagian kecil mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)






