BANDUNG, WartaTransparansi.com – Bagi sebagian orang, konser hanyalah soal musik dan keramaian. Namun, bagi Slank, setiap panggung di Bandung selalu menyimpan cerita yang lebih dalam. Kota ini bukan sekadar salah satu titik tur, melainkan ruang yang mengabadikan babak penting perjalanan mereka.
Minggu (5/7/2026), ribuan Slankers kembali memenuhi Prabuwangi Park, Arcamanik. Mereka datang membawa semangat yang sama seperti puluhan tahun silam: bernyanyi bersama, mengenang perjalanan, dan merayakan persaudaraan yang telah tumbuh lintas generasi.
Di balik riuh penonton, tersimpan kenangan yang masih begitu hidup bagi Ridho. Gitaris Slank itu mengingat dengan jelas momen 1997, ketika dirinya untuk pertama kali berdiri di atas panggung bersama formasi Slank yang kini bertahan hingga hampir tiga dekade.
“Di Sabuga tahun 1997, formasi Slank yang sekarang pertama kali manggung di Bandung. Inget banget, saat itu ngecat-ngecat rambut sama Ivan,” kenangnya sambil tersenyum saat konferensi pers sebelum konser.
Kenangan itu langsung disambut tawa personel lain. Kaka pun masih mengingat bagaimana Ridho harus menghadapi ujian pertamanya sebagai gitaris Slank.
“Ridho langsung dapat PR mengulik 30 lagu untuk manggung di Bandung,” ujar sang vokalis.
Bandung memang menjadi saksi lahirnya salah satu formasi paling ikonik dalam sejarah Slank. Dari kota inilah chemistry Kaka, Bimbim, Ivanka, Ridho, dan Abdee mulai terbangun hingga akhirnya melahirkan puluhan album, ratusan lagu, serta jutaan penggemar yang setia mengikuti perjalanan mereka.
Namun, konser HS Hey Slank Berani Kita Beda Tour kali ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Di balik panggung megah, tersimpan misi yang lebih besar: menghidupkan kembali denyut ekonomi kreatif dan membuka ruang bagi musisi lokal untuk tumbuh bersama.
Bandung dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini dikenal sebagai salah satu barometer industri kreatif Indonesia, dengan komunitas musik yang hidup, pelaku UMKM yang dinamis, hingga penonton yang selalu antusias menyambut pertunjukan musik.
Karena itu, penyelenggara menghadirkan sembilan grup musik, jumlah terbanyak dibandingkan tujuh kota sebelumnya. Tiga di antaranya merupakan kebanggaan Bandung, yakni DT09, Stand Here Alone (SHA), dan Preman Disko.
Bagi DT09, kesempatan itu menjadi pengakuan bahwa musik yang tumbuh dari akar rumput tetap memiliki ruang di panggung besar.
“Kami grup musik yang lahir dari grassroot, lahir dari tribun Persib, Bobotoh,” kata manajer DT09, Reza.
Sementara bagi Mbenk, vokalis Stand Here Alone, tampil bersama Slank adalah mimpi yang akhirnya menjadi nyata. Sejak remaja ia mengaku telah menjadi Slankers dan tumbuh bersama lagu-lagu dari album PLUR.
“SHA tetap ada alur darahnya Slank. Saya tidak akan pernah melewatkan momen ini,” tuturnya.
Di luar sorotan lampu panggung, konser juga menggerakkan roda ekonomi. Pedagang makanan, penjual merchandise, pekerja panggung, kru produksi, hingga pelaku UMKM ikut merasakan dampak dari ribuan penonton yang memadati kawasan konser.
Direktur Komersial HS, Tessa Arya Pradana, menyebut Bandung merupakan salah satu kota dengan potensi pasar yang sangat besar.
“Ini membuat Bandung jadi salah satu pasar paling seksi,” ujarnya.
Malam itu, lagu demi lagu mengalun, ribuan suara menyatu dalam satu irama. Bagi Slank, Bandung tetap menjadi rumah yang selalu menghadirkan kenangan. Bagi para musisi lokal, konser ini menjadi panggung harapan. Dan bagi para pelaku ekonomi kreatif, keramaian konser membuktikan bahwa musik bukan sekadar hiburan, melainkan penggerak kehidupan yang mampu menyatukan nostalgia, kreativitas, dan harapan dalam satu harmoni.
(ant/din)







