banner 400x130
Kediri  

Gus Yahya Ajak Warga NU Rawat Ketulusan Khidmah, Singkirkan Kontroversi di Munas-Konbes 2026

Gus Yahya Cholil Staquf memberikan sambutan pada pembukaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri.
Ketua Umum PBNU, Gus Yahya Cholil Staquf, menyampaikan sambutan sekaligus pesan persatuan dan ketulusan khidmah saat membuka Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri. (Foto: istimewa)

KEDIRI – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengajak seluruh pengurus dan kader Nahdlatul Ulama (NU) untuk kembali meneguhkan ketulusan dalam berkhidmah serta mengedepankan persatuan selama pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri.

Pesan itu disampaikan Gus Yahya saat membuka Munas dan Konbes NU 2026 di Aula Utama Ponpes Al-Falah Ploso, Sabtu (20/6/2026) malam. Di hadapan ribuan peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, ia menegaskan bahwa keberadaan warga NU dalam organisasi harus dilandasi niat pengabdian yang tulus.

“Mari kita teguhkan kembali ketulusan khidmah yang menjadi dasar dari keberadaan kita di dalam jam’iyah ini. Kita ada di sini untuk berkhidmah,” ujar Gus Yahya.

Dalam forum permusyawaratan tertinggi NU di bawah muktamar tersebut, Gus Yahya mengingatkan pentingnya menjaga suasana organisasi tetap sejuk dan konstruktif. Menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35, ia meminta seluruh peserta menghindari perbedaan yang tidak produktif serta mengedepankan semangat persaudaraan dalam setiap pembahasan.

Untuk memperkuat pesan itu, Gus Yahya mengutip petuah pendiri NU, Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang menekankan pentingnya cinta dan persatuan dalam berorganisasi.

“Udkhuluha bil mahabbi wal widad, wal ulfati wal ittihad, wal ittishali bil arwahi wal ajsad.”

(Masuklah ke dalam NU dengan rasa cinta dan kasih sayang, dengan kerukunan dan persatuan, serta dengan ikatan lahir dan batin).

Menurutnya, pesan tersebut merupakan pedoman moral bagi seluruh warga NU agar tidak hanya terikat secara administratif dalam organisasi, tetapi juga memiliki kesatuan hati dan tujuan untuk kemaslahatan umat.

Suasana pembukaan semakin khidmat ketika Gus Yahya menyampaikan keyakinannya bahwa NU akan tetap terjaga dari berbagai upaya yang dapat merusak marwah organisasi.

“Apapun yang dilakukan orang untuk mengganggu, untuk mencederai, untuk merusak apa yang mulia di dalam jam’iyah ini, pasti tidak akan mencapai apa yang diinginkan,” tegasnya.

Setelah menyampaikan pesan tersebut, Gus Yahya mengajak hadirin melantunkan wirid yang dikenal sebagai doa tolak bala warisan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

“Ya Jabbar, Ya Qahhar! Ya Jabbar, Ya Qahhar! Ya Jabbar, Ya Qahhar!” seru Gus Yahya yang langsung diikuti ribuan peserta di dalam aula.

Sementara itu, mewakili keluarga besar Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Agus Hasbi Munif menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan PBNU kepada pesantren tersebut sebagai tuan rumah Munas dan Konbes NU 2026.

Ia menilai penyelenggaraan forum strategis NU di Ploso memiliki makna historis yang kuat. Pendiri Ponpes Al-Falah Ploso, KH Jazuli Utsman, diketahui merupakan murid langsung Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sehingga memiliki ikatan sejarah yang erat dengan lahir dan berkembangnya Nahdlatul Ulama.

Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026 juga dihadiri sejumlah tokoh nasional dan ulama terkemuka, di antaranya Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin, Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, serta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa”, Munas dan Konbes NU 2026 diharapkan menghasilkan berbagai rekomendasi strategis yang memperkuat peran NU dalam menjawab tantangan kebangsaan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. (*)

Penulis: Moch Abi Madyan