banner 400x130

Dari Sanggar ke Panggung Nasional, Reog Kyai Lodra Persembahkan Piala Presiden untuk Jawa Timur

Sorak kemenangan pecah ketika nama Reog Kyai Lodra diumumkan sebagai Juara Umum Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026. Bagi sebagian orang, kemenangan itu mungkin hanya deretan trofi dan penghargaan. Festival tersebut berlangsung sejak tanggal 6-15 Juni di Ponorogo dan hari ini Jumat, 18 Juni diterima Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi Surabaya

Namun bagi puluhan anak muda yang berdiri di balik megahnya pertunjukan reog tersebut, keberhasilan itu adalah buah dari perjalanan panjang yang penuh latihan, pengorbanan, dan kecintaan terhadap budaya leluhur.

Sebanyak 77 talenta muda yang terdiri dari penari dan pengrawit menjadi bagian dari tim Reog Kyai Lodra asal Surabaya. Mereka datang dari berbagai latar belakang sekolah dan perguruan tinggi, sebagian besar bahkan belum pernah merasakan tampil di panggung nasional sebelumnya.

Di balik gemerlap panggung, mereka menjalani proses latihan yang tidak ringan. Gerakan tari yang harus selaras, irama gamelan yang harus menyatu, hingga penghayatan terhadap nilai-nilai budaya reog menjadi tantangan yang harus ditaklukkan bersama. Bagi mereka, reog bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi identitas dan warisan yang harus dijaga.

Ketua Tim Reog Kyai Lodra Jawa Timur, Joko Winarko, menyebut proses regenerasi menjadi kunci utama keberhasilan. Para peserta tidak hanya dilatih untuk menjadi penampil yang baik, tetapi juga dibentuk karakter dan kecintaannya terhadap budaya bangsa.

“Kami ingin mereka memahami bahwa reog mengajarkan keberanian, disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan. Nilai-nilai itu yang kami tanamkan selama proses pembinaan,” ujarnya.

Kerja keras itu akhirnya terbayar lunas. Dalam ajang FNRP XXXI, Reog Kyai Lodra berhasil menyabet gelar Juara Umum sekaligus meraih penghargaan Penyaji Terbaik, Penata Tari Terbaik, dan Penata Musik Terbaik. Prestasi tersebut mengantarkan mereka membawa pulang Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia.

Kemenangan itu mendapat apresiasi langsung dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Menurutnya, keberhasilan Reog Kyai Lodra menjadi bukti bahwa regenerasi seni tradisional di Jawa Timur berjalan dengan baik.

Di tengah derasnya arus modernisasi, para seniman muda ini justru memilih mendekat kepada akar budaya mereka. Mereka membuktikan bahwa kesenian tradisional tidak kalah menarik dibandingkan budaya populer yang mendominasi ruang digital saat ini.

Lebih membanggakan lagi, prestasi tersebut membuka jalan bagi Reog Kyai Lodra untuk tampil dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Presiden, Jakarta. Sebuah kesempatan yang tidak hanya menjadi kebanggaan bagi kelompok seni tersebut, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Jawa Timur.

Kisah Reog Kyai Lodra menjadi pengingat bahwa budaya akan tetap hidup selama ada generasi yang mau merawatnya.

Dari ruang-ruang latihan sederhana hingga panggung nasional, para anak muda ini telah menunjukkan bahwa warisan leluhur bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan kebanggaan yang terus hidup dan menginspirasi masa depan. (*)

Penulis: Amin Istighfarin