Opini  

Linguistik Kurban dan Pedagogi Idul Adha

Membaca bahasa kurban sebagai pelajaran tentang makna, dialog, empati, dan pembentukan karakter

Mochammad Indra Yumanto

Oleh: Mochammad Indra Yumanto

(Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dosen STAI Al Akbar Surabaya)

Gema takbir pada malam Idul Adha selalu membawa suasana yang khas. Dari masjid, musala, jalan kampung, hingga ruang-ruang keluarga, kalimat takbir mengalir sebagai tanda bahwa umat Islam sedang memasuki hari besar yang sarat makna. Pagi harinya, umat Islam berbondong-bondong menuju masjid dan lapangan untuk menunaikan salat Id. Setelah itu, masyarakat menyaksikan penyembelihan hewan kurban, pembagian daging, silaturahmi keluarga, dan perjumpaan sosial yang hangat.

Namun, Idul Adha bukan hanya ritual tahunan yang selesai setelah salat Id dan penyembelihan hewan kurban. Di balik takbir, kurban, dan pembagian daging, ada pesan yang lebih dalam tentang bahasa, pendidikan, keluarga, kepedulian sosial, dan pembentukan karakter manusia.

Di sinilah Idul Adha menarik dikaji dari perspektif linguistik dan pedagogi. Dari sisi linguistik, istilah-istilah seperti al-‘id, al-Adha, al-udhiyah, qurban, an-nahr, al-taqwa, dan al-taslim bukan sekadar kosakata keagamaan. Kata-kata itu membentuk cara umat Islam memahami pengorbanan, kedekatan dengan Allah, dan tanggung jawab kepada sesama.

Kata al-‘id berakar pada makna kembali dan berulang. Karena itu, hari raya bukan sekadar tanggal yang datang setiap tahun. Ia adalah momentum kembalinya kegembiraan, kesadaran, dan nilai. Idul Adha datang bukan untuk mengulang seremoni yang sama, tetapi untuk mengajak manusia kembali membaca hidupnya, apa yang masih dikuasai ego, apa yang perlu dilepaskan, dan apa yang harus dibagikan.

Sementara itu, al-Adha berkaitan dengan al-udhiyah, yakni hewan kurban yang disembelih pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyrik sebagai bentuk ibadah. Dalam tradisi fikih, udhiyah memiliki waktu, syarat, dan adab tertentu. Artinya, kurban tidak dilakukan secara sembarangan. Ia bukan sekadar memotong hewan, tetapi ibadah yang diatur agar manusia belajar tertib, ikhlas, dan bertanggung jawab.

Istilah yang sangat penting dalam pembahasan ini adalah qurban. Secara bahasa, qurban berasal dari akar kata Arab qaruba, yang berarti dekat. Dalam Lisan al-‘Arab, Ibn Manzhur menjelaskan bahwa al-qurb adalah lawan dari al-bu‘d, yakni jauh. Maka, kurban pada dasarnya adalah bahasa tentang kedekatan. Orang yang berkurban sedang diajak mendekat kepada Allah, mendekat kepada sesama, dan mendekat kepada dirinya yang lebih jernih.

Dengan begitu, kurban tidak semata sebagai penyembelihan hewan. Ia adalah bahasa “mendekat”. Manusia yang berkurban seharusnya tidak hanya merasa telah menjalankan ibadah, tetapi juga bertanya: apakah setelah berkurban ia semakin dekat kepada Allah? Apakah ia semakin peduli kepada tetangga, fakir miskin, dan orang-orang yang membutuhkan? Apakah ia semakin mampu mengendalikan keserakahan dalam dirinya?

Al-Qur’an menegaskan pusat makna kurban dalam Surah al-Hajj ayat 37. Yang sampai kepada Allah bukan daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan manusia. Dalam Tafsir Jalalain, ayat ini juga dijelaskan sebagai penegasan bahwa nilai utama kurban tidak terletak pada fisik sembelihan, tetapi pada ketulusan dan takwa pelakunya. Ini penting diingat, sebab tanpa takwa, kurban mudah berubah menjadi pesta daging, perlombaan status, atau sekadar dokumentasi sosial.

Al-Qur’an juga menggunakan kata an-nahr dalam Surah al-Kautsar ayat 2: fa shalli li rabbika wanhar, maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Urutan ayat ini menarik. Salat disebut lebih dulu, baru kemudian kurban. Secara pedagogis, ini mengajarkan bahwa ibadah sosial harus lahir dari ketundukan spiritual. Kurban tanpa kesadaran batin bisa kehilangan ruhnya. Sebaliknya, salat yang tidak melahirkan kepedulian sosial juga belum sepenuhnya membumi dalam kehidupan.

Dari sisi pendidikan, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah salah satu contoh komunikasi keluarga yang sangat halus. Selama ini kisah itu sering dikaji sebagai kisah ketaatan. Itu benar. Tetapi jika diperhatikan lebih dekat, kisah tersebut juga mengandung pelajaran besar tentang cara mendidik.

Ketika Nabi Ibrahim menerima perintah melalui mimpi, ia tidak langsung memaksakan kehendak kepada Ismail. Ia membuka dialog dengan kalimat fanzhur madza tara, maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu? Kalimat ini pendek, tetapi sangat dalam. Seorang ayah yang juga nabi tidak mendidik dengan paksaan buta. Ia memberi ruang bicara, melibatkan anak dalam percakapan iman, dan memberi kesempatan kepada Ismail untuk memahami serta merespons secara sadar.

Jawaban Ismail juga menunjukkan kematangan seorang anak didik: ya abati if‘al ma tu’mar, wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Di sana ada adab, kesadaran, dan keteguhan. Ismail tidak digambarkan sebagai anak yang kehilangan suara. Ia hadir sebagai pribadi yang memahami makna ketaatan.

Dari kisah ini, Idul Adha mengajarkan pedagogi dialogis. Pendidikan bukan hanya perintah dari orang tua kepada anak, dari guru kepada murid, atau dari lembaga kepada peserta didik. Pendidikan adalah proses menumbuhkan kesadaran. Anak tidak cukup diberi tahu apa yang benar. Ia seyogyanya diajak memahami mengapa sesuatu bernilai, mengapa ketaatan diperlukan, dan mengapa pengorbanan kadang menjadi jalan menuju kematangan.

Kurban juga mengajarkan pedagogi sosial. Penyembelihan hewan bukan tujuan akhir. Ia adalah sarana agar manusia belajar berbagi. Daging kurban yang dibagikan kepada keluarga, tetangga, fakir miskin, dan masyarakat luas adalah pelajaran konkret bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada kepuasan pribadi. Dalam tradisi fikih Syafi’i, distribusi daging kepada fakir miskin menjadi bagian penting dari kurban. Ini menunjukkan bahwa ibadah tersebut sejak awal memang memiliki dimensi sosial yang kuat.

Dalam masyarakat yang sering mengukur martabat manusia dari kepemilikan, kurban mengajarkan hal sebaliknya. Nilai manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang ia simpan, tetapi oleh apa yang ia relakan untuk dibagikan. Di tengah gaya hidup konsumtif, Idul Adha mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari menambah, tetapi juga dari melepas. Tidak semua yang dikeluarkan adalah kehilangan. Bisa jadi, di sanalah kemanusiaan seseorang justru diuji.

Sebagai kritik sosial. Kadang-kadang kurban berkutat pada seremoni. Dokumentasi lebih ramai daripada refleksi. Jumlah hewan lebih dibanggakan daripada manfaat sosialnya. Nama penyumbang lebih menonjol daripada pesan ketakwaannya. Padahal, jika kurban kehilangan empati, ia hanya akan menjadi ritual yang tampak meriah, tetapi kurang mengubah hati.

Hadis Nabi juga memberi teladan yang indah. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW berkurban dengan dua ekor kambing kibas, menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri, membaca basmalah, dan bertakbir. Teladan ini menunjukkan bahwa kurban bukan pekerjaan mekanis, melainkan ibadah yang dijalankan dengan niat, zikir, dan kesadaran.

Dalam konteks pendidikan modern, Idul Adha dapat menjadi bahan belajar yang sangat menarik. Anak didik diajak membaca simbol. Hewan kurban adalah simbol. Penyembelihan adalah simbol. Pembagian daging adalah simbol. Takbir juga simbol. Semua itu mengajarkan bahwa agama tidak hanya berisi aturan, tetapi juga makna yang seharusnya direnungkan dengan hati dan pikiran.

Yang disembelih dalam Idul Adha bukan hanya hewan, tetapi juga ego, kesombongan, kerakusan, dendam, dan ketidakpedulian. Jika hewan kurban sudah disembelih, tetapi ego manusia tetap tumbuh liar, maka pelajaran Idul Adha belum benar-benar masuk ke dalam diri.

Di sinilah pembelajaran bahasa Arab dapat mengambil peran penting. Guru bahasa Arab, dosen, dan pendidik Islam dapat menjadikan Idul Adha sebagai bahan ajar lintas keterampilan. Peserta didik diajak membaca ayat-ayat tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, memahami kosakata seperti al-‘id, al-Adha, al-udhiyah, qurban, an-nahr, al-taqwa, dan al-taslim, lalu mendiskusikan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan cara itu, pembelajaran bahasa Arab tidak hanya berkutat pada nahwu dan sharaf semata. Kaidah tetap penting, tetapi bahasa tidak boleh kehilangan ruhnya. Bahasa Arab diajarkan sebagai jalan memahami makna, membangun komunikasi, dan membentuk karakter. Bahasa yang hanya diajarkan sebagai struktur mudah terasa kering. Sebaliknya, bahasa yang diajarkan bersama nilai akan lebih hidup dalam kesadaran peserta didik.

Bagi Indonesia yang majemuk, Idul Adha memiliki pesan yang sangat relevan. Ia dapat menjadi momentum memperkuat kesalehan sosial, kerukunan, kepedulian, dan cara beragama yang ramah. Di tengah krisis empati, polarisasi sosial, dan kecenderungan sebagian orang menjadikan agama sebatas identitas formal, Idul Adha menawarkan pesan yang teduh, semakin dekat seseorang kepada Tuhan, seharusnya semakin peka pula ia kepada sesama.

Pada akhirnya, kurban mengajarkan bahwa manusia beriman tidak hanya sibuk menghitung apa yang ia miliki. Ia juga perlu bertanya, “Apa yang sanggup aku dekatkan kepada Allah dan aku manfaatkan untuk sesama?” Di sanalah Idul Adha menjadi sekolah ruhani: dari memiliki menuju memberi, dari ego menuju empati, dari daging menuju takwa, dari ritual menuju karakter.

Pada akhirnya, kurban mengajarkan bahwa manusia beriman tidak hanya sibuk menghitung apa yang ia miliki. Ia juga perlu belajar melihat apa yang bisa ia bagi, apa yang bisa ia relakan, dan apa yang bisa ia persembahkan untuk mendekat kepada Allah serta menolong sesama. Di situlah Idul Adha menjadi sekolah ruhani, manusia belajar memberi, menundukkan ego, menumbuhkan empati, merawat takwa, dan membentuk karakter. (*)