Oleh: H. S. Makin Rahmat
(Wartawan Utama/ Pembimbing Haji dan Umroh)
Ketika tahun 2025/1446 mendapatkan amanah sebagai Pembimbing Ibadah (Bimbad) Kloter 94 Sub, saya semakin yakin bahwa dibalik ikhtiar manusia memenuhi panggilan Allah SWT, untuk menyempurnakan rukun Islam kelima, ada misteri dan Ritual yang tidak bisa dinalar. Semua menjadi Hak otoritas Allah Azza wajalla Yang Maha Rahman Rahim.
Dalam keterbatasan hamba dan selalu menyampaikan sholawat kepada Baginda Rasulullah SAW, ternyata Dzat Allah dengan sifat ya Shabbaru (Maha Sabar), ya Syakuru (Maha Bersyukur) menuntun tapak tilas para kekasih Allah yang mendapatkan tempaan ujian dalam berikhtiar tanpa putus asa dan selalu dalam kepasrahan kepada Dzat Pengatur alam semesta.
Sesuai Firman Allah QS Al-Haj: 27:
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍۙ
“(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” Keraguan dan kegamangan Nabi Ibrahim Al Khalilullah diperintah memanggil manusia berhaji di lembah Mekah, tentu tidak bisa dinalar. Dalam beberapa literasi tafsir, bahwa unsur perintah tidak perlu penafsiran atau logika.
Artinya, para kekasih Allah saja tidak diberikan kelonggaran istimewa untuk mempengaruhi hak prerogatif Sang Kalik. Dalam beberapa peristiwa, Rasulullah SAW juga mendapatkan teguran ketika berharap tokoh Quraisy bisa masuk Islam sehingga sempat mengabaikan seorang sahabat buta.
Kepatuhan dan ketaatan Nabi Ibrahim kemudian naik ke jabal (gunung) Qubais memanggil manusia berhaji, menjadikan fenomena ibadah haji tetap misteri sepanjang masa. Seharusnya, kita sebagai manusia yang diberikan kesempatan hidup di zaman modern, bisa lebih mencerna misteri dan rahasia Allah, khususnya dalam konteks pelaksanaan ibadah haji.
Sebelum Al faqir mengulas hakekat dari ritual haji, simak firman Allah SWT di QS Ibrahim ayat 37, yang artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yg tdk ada tanamannya (berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”
Doa Nabi Ibrahim Al Khalilullah inilah bagian yang tidak bisa terpisahkan dalam rangkaian siklus kehidupan sehari-hari, bahwa untuk meraih derajat kemabruran tetap tidak bisa lepas dari Kodrat dan Kehendak Sang Pencipta. Dari kota Mekah yang gersang kering kerontang, Allah menjamin segala buah-buahan dan kenikmatan surgawi bagi hambaNya yang patuh dan taat.
Mari kita mulai dari keistimewaan Wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah. “Alhajju Arofah”. Haji tidak bisa terpisahkan dengan Wukuf. Lantas apa spiritual Wukuf di Arafah? Tentu puncak taubat dan penyucian jiwa: Arafah adalah tempat mustajab (dikabulkan doa) momen terbaik untuk introspeksi diri (muhasabah), dan memohon ampunan (taubat nasuha).
Dalam kaidah lain, wukuf merupakan refleksi Padang Mahsyar dan kematian.
Wukuf di Arafah yang diikuti jutaan jemaah dengan pakaian ihram putih tanpa perbedaan status sosial adalah simulasi Padang Mahsyar menuju makrifatullah. Sebab, Wukuf secara harfiah berarti “berhenti”. Ini berhenti dari hiruk-pikuk duniawi. Ada keseriusan totalitas Penghambaan sebagai momen perjumpaan langsung antara hamba dan Allah, menunjukkan totalitas ketundukan dan kepasrahan diri. Saat wukuf, tamu Allah (dloifullah) harus mampu menjaga ketenangan hati, lahir-batin untuk menyegarkan kembali iman.
Berikutnya, spiritual Mabit di Muzdalifah. Usai Wukuf dan Penguatan Iman, jamaah diwajibkan Mabit (bermalam) di Muzdalifah, setelah Arafah, berfungsi sebagai jeda spiritual untuk merenungkan pengalaman batin selama wukuf sebelum menuju mabit di Mina dengan ritual melempar jumroh ula, wustha dan Aqobah.
Yang jelas, ada kesetaraan. Tidak melihat latar belakang, jabatan, kekayaan, dan keturunan semua tunduk dalam kesederhanaan dan kerendahan hati. Walau kebijakan mulur (melintas) diperbolehkan, tapi pengalaman tidur di bawah langit terbuka dan beralas bumi mengajarkan kesederhanaan, melepas kemewahan dunia dan kesadaran hamba yang sangat fakir di hadapan Allah.
Saya sendiri merenung, dari amalan haji dan umroh, salah satu yang membedakan adalah wukuf, mabit Musdalifah dan mabit di Mina untuk melempar jumroh. Sayangnya tidak sedikit jamaah haji, menilai ritual di Musdalifah dan mabit di Mina sekedar formalitas karena secara fisik dan batin sudah terkuras saat wukuf?
Dari sini, Al faqir berharap jamaah haji jangan sampai terlena. Simbol kesiapan spiritual melawan hawa nafsu dan angkara murka, bagian inti dalam memasrahkan diri pada Allah SWT. Jujur, peristiwa Nabi Ibrahim diperintah menyembelih Ismail, terjadi di Jabal Qurban Mina. Godaan iblis dan setan mempengaruhi Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar merupakan rentetan ritual bahwa perlawanan dan pengorbanan tidak pernah padam. Sehingga ada pelaksanaan melempar jumlah Aqobah tujuh kali dengan menyebut: Bismillahi Allahuakbar 3 kali. Dihari berikutnya, baik Nafar awal atau Tsani, punya kewajiban melempar jumlah ula, wustha dan Aqobah di hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah).
Kemudian saat kelahiran Rasulullah SAW, pasukan Raja Abrahah yang ingin menghancurkan Kabah, atas perintah Allah datang sekawanan burung Ababil dengan kerikil dari neraka menghadang dan membumihanguskan pasukan Raja Abrahah. Itupun juga terjadi di Mina. Ada yang menyebut, Mina merupakan kemah, rumah bersandar ujian bagi para kekasih Allah, Nabi dan Rasul.
Jadi, bila mengulik pelajaran kita Thowaf dan Sa’i, ada nilai-nilai spiritual yang agung sebagai pengikat hamba dan sang Khalik. Mengapa harus berputar 7 kali berlawanan jarum jam, dan Sa’i dimulai bukit shofa dan berakhir di Marwa juga tujuh kali perjalanan. Istilah sai sendiri bukan lari-lari kecil, tapi bermakna ikhtiar tiada henti. Kesimpulan sederhana, mulai Wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, Thowaf, sai, dan tahallul mendidik jiwa untuk mencapai derajat manusia yang lebih bertakwa, menyadari kefanaan dunia, dan bersiap diri untuk kehidupan akhirat yang hakiki. Dan, bagi jamaah haji yang mabrur tiada lain balasannya selain surga. Wallahu a’lam bish-showab. (*)






