banner 400x130

Masuki Bencana Kekeringan BPBD Gelar Apel Gladi Siaga Karhutla Bersama Aplikasi Mojo Mandala

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin mendampingi Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa pada apel Gladi Kesiapsiagaan Karhutla

MOJOKERTO, WartaTransparansi.com – Memasuki musim kemarau yang kian ekstrim Pemkab. Mojokerto melalui Dinas BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) menggelar apel Gladi Kesiapsiagaan Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) dengan mengkolaborasikan aplikasi “Mojokerto Tangguh Rek” dan “Mojo Mandala” di Taman Brantas Indah (TBI), kawasan Sungai Brantas, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Mojokerto.

Apel kesiapsiagaan ini merupakan wujud komitmen, keseriusan, dan tanggung jawab kita bersama dalam memastikan seluruh sumber daya yang dimiliki berada dalam kondisi siap menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan

Panatauan dilokasi Apel Gladi Kesiapsiagaan Karhutla diikuti sebanyak 295 personel gabungan yang terdiri atas unsur TNI, Polri, BPBD, Basarnas, Satpol PP, PMI, Perum Perhutani, relawan kebencanaan, dunia usaha, serta berbagai instansi terkait. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi wujud kolaborasi pentahelix dalam memperkuat kapasitas penanggulangan bencana di Kabupaten Mojokerto.

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin menyampaikan digelarnya apel siaga karhutala ini, sebagai komitmen bahwa Pemkab Mojokerto sudah siap segalanya jika sewaktu-waktu terjadi bencana terkait bencana kekeringan.

Rinaldi Rizal berharap dengan mengkolaborasikan aplikasit“Mojokerto Tangguh Rek” dan “Mojo Mandala” ini bisa menjadikan warga Kabupaten Mojokerto, lebih tangguh dalam menghadapi bencana dan segala kondisi ketidakpastian saat ini, karena bencana musim kemarau yang sulit diprediksi.

“Saat ini kami Fokus meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat. Jadi, pengetahuan masyarakat dulu yang harus ditingkatkan, lebih kepada mempersiapkan,” jelas Rinaldi Rizal kepada Kamis, (9/7/2026).terangnya.

Untuk mendudkung kesiapsiagaan ini, lanjut Rinaldi Rizal , pihak BPBD Kab. Mojokerto telah memasang sistem peringatan dini di lokasi yang pernah terjadi maupun yang berpotensi terjadi bencana. Sehingga diharapkan bisa meminimalkan dampak banjir maupun tanah longsor.

Dijelaskan pada aplikasi Mojomandala sudah canggih karena mampu menyuguhkan data jumlah bencana banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan, gempa bumi dan erupsi gunung api di Kabupaten Mojokerto, serta bencana nonalam. Aplikasi ini juga untuk mendukung tindakan cepat dan tepat oleh Tim Respons Cepat (TRC).

“Selain menampilkan data, pada aplikasi juga muncul alarm waspada atau bahaya, di desa yang biasa terdampak juga bunyi alarm peringatan kalau terjadi bencana,”pungkas Rinaldi Rizal.

Secara terpisah Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa, menegaskan, apel kesiapsiagaan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam memastikan kesiapan personel, peralatan, dan sistem koordinasi menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan yang diperkirakan meningkat selama musim kemarau tahun ini.

“Apel kesiapsiagaan ini merupakan wujud komitmen, keseriusan, dan tanggung jawab kita bersama dalam memastikan seluruh sumber daya yang dimiliki berada dalam kondisi siap menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan,” tegas Gus Barra, panggilan akrab Bupati Mojokerto, Kamis (9/7/2026).

Gus Barra menjelaskan, berdasarkan penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026 di Jawa Timur, seluruh daerah, termasuk Kabupaten Mojokerto, dituntut meningkatkan kewaspadaan melalui langkah-langkah mitigasi yang terukur, terkoordinasi, dan berkelanjutan.

Di sisi lain, perubahan iklim global menyebabkan musim kemarau semakin sulit diprediksi sehingga berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Menurutnya, Kabupaten Mojokerto memiliki kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan hutan konservasi yang menjadikan wilayahnya memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama yang dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Usai memimpin apel, Gus Barra bersama jajaran Forkopimda menyaksikan simulasi penanganan kebakaran hutan dan lahan yang diperagakan oleh personel gabungan. Simulasi kemudian dilanjutkan dengan pertolongan kecelakaan air (laka air) di aliran Sungai Brantas sebagai bentuk uji kesiapan personel, peralatan, sistem komando, dan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Gus Barra mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat upaya pencegahan melalui patroli terpadu, meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara terbuka, mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi dan sistem peringatan dini, memastikan kesiapan personel beserta sarana prasarana, serta memperkuat budaya gotong royong dalam membangun ketangguhan daerah.

Ia juga mengimbau masyarakat agar menjadi pelopor dalam menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran terbuka serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun potensi kebakaran. Menurutnya, pencegahan yang dilakukan sejak dini akan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi.

“Dengan kesiapsiagaan yang matang, koordinasi yang solid, sumber daya yang memadai, serta semangat gotong royong yang terus terpelihara, Kabupaten Mojokerto akan semakin tangguh, adaptif, dan resilien dalam menghadapi berbagai tantangan kebencanaan,” pungkas Bupati Mojokerto. (*)

Penulis: Gatot Sugianto