SURABAYA, Wartatransparansi.com – Penilaian kinerja kepala daerah kembali menjadi perhatian publik setelah hasil survei nasional menempatkan sejumlah nama dalam daftar 10 gubernur berkinerja terbaik versi anak muda. Namun, absennya Gubernur Jawa Timur dalam daftar tersebut memunculkan kritik terhadap metode penilaian yang digunakan.
Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans) menilai, pendekatan survei yang hanya menilai gubernur secara individu kurang tepat karena mengabaikan aspek kerja tim dalam pemerintahan daerah. Menurutnya, kepemimpinan provinsi merupakan hasil kolaborasi antara gubernur dan wakil gubernur.
“Memimpin daerah itu bukan kerja sendiri, melainkan kerja tim antara gubernur dan wakil gubernur. Jika penilaian dilakukan terhadap keduanya sebagai satu kesatuan, saya yakin Jawa Timur bisa masuk dalam daftar tersebut,” ujar kyai muda yang juga pengasuh pondok pesantren Queen Al Falah Darul Ulum Jombang ini.
Ia menambahkan, berbagai penghargaan yang diraih pemerintah daerah selama ini merupakan hasil kerja kolektif. Peran wakil gubernur, menurutnya, tidak bisa dipisahkan dari capaian tersebut.
“Kalau dipisah dan dinilai perorangan, bahkan masuk 10 besar pun tidak. Ini menunjukkan bahwa capaian yang ada adalah hasil kerja bersama,” tegasnya.
Hasil Survei: 10 Gubernur Terbaik Versi Anak Muda
Berdasarkan Survei Nasional Q1 Muda Bicara ID yang dilakukan pada 1–31 Maret 2026 dengan 800 responden di 38 provinsi, berikut daftar 10 gubernur berkinerja terbaik menurut anak muda:
Sherly Tjoanda (Maluku Utara) – 18,50%
Pramono Anung (DKI Jakarta) – 17,30%
Dedi Mulyadi (Jawa Barat) – 17,10%
Sri Sultan HB X (DI Yogyakarta) – 15,00%
Muzakir Manaf (Aceh) – 7,20%
Anwar Hafid (Sulawesi Tengah) – 7,00%
Mahyeldi Ansharullah (Sumatera Barat) – 6,20%
Bobby Nasution (Sumatera Utara) – 3,10%
I Wayan Koster (Bali) – 2,40%
Lalu Muhamad Iqbal (NTB) – 1,20%
Sementara itu, kategori “gubernur lainnya” mencatat angka 5,1%.
Survei ini mengukur tingkat kepuasan anak muda terhadap kinerja pemerintah daerah, mencakup aspek kebijakan publik, kondisi perekonomian, hingga kesehatan mental generasi muda.
Kritik terhadap Metodologi Survei
Gus Hans menilai, hasil survei tersebut justru memperlihatkan kelemahan dalam metodologi penilaian. Ia menegaskan bahwa jika evaluasi dilakukan secara parsial, maka hasilnya tidak akan mencerminkan realitas kinerja pemerintahan.
“Bisa jadi kalau dinilai satu per satu, penghargaan yang selama ini diterima tidak akan ada. Namun karena kerja tim gubernur dan wakil gubernur, capaian itu bisa diraih,” jelasnya.
Ia berharap ke depan lembaga survei dapat menyusun metode yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan faktor kolaborasi dalam kepemimpinan daerah, sehingga hasil penilaian menjadi lebih objektif dan representatif. (*)






