banner 400x130

PMI Kota Kediri Siapkan Relawan Terlatih, Genjot Pembinaan PMR dan KSR

Ketua PMI Kota Kediri, Indrakso S. (Foto: Red)

KEDIRI – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Kediri terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM), khususnya relawan dan anggota Palang Merah Remaja (PMR), sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana dan kebutuhan pelayanan kemanusiaan. Selain memperluas pelatihan, PMI Kota Kediri juga mulai menyiapkan strategi menghadapi meningkatnya potensi kedaruratan seiring perkembangan infrastruktur, termasuk keberadaan akses jalan tol.

Ketua PMI Kota Kediri, Indrakso S, mengatakan, selama ini PMI Kota Kediri memprioritaskan program pelatihan PMR dan Korps Sukarela (KSR). Kegiatan tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan, baik di lingkungan markas PMI maupun bekerja sama dengan sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai instansi.

“Anggaran kami fokuskan untuk pelatihan, terutama PMR dan KSR. Pelatihan dilaksanakan secara intensif, baik di sini maupun di luar. Kami juga melibatkan instruktur dan fasilitator yang sudah terlatih sesuai kebutuhan,” ujar Indrakso.

Menurutnya, pembinaan generasi muda menjadi salah satu perhatian utama PMI Kota Kediri. Bahkan, PMI sebelumnya telah meluncurkan program PMR percontohan dengan melibatkan 10 sekolah dari jenjang SD, SMP hingga SMA yang tersebar di tiga wilayah kecamatan, yakni Kota, Mojoroto, dan Pesantren.

Dalam program tersebut, PMI memberikan pelatihan kepada guru pembina sekaligus menyiapkan fasilitator untuk mendukung kegiatan kepalangmerahan di sekolah.

Namun, Indrakso mengakui pengembangan program PMR percontohan masih menghadapi kendala keterbatasan anggaran.

“Pada tahun berikutnya kami mengajukan pembinaan lanjutan, tetapi belum tersedia anggaran. Sehingga kami masih menghadapi kesulitan untuk mengembangkan program PMR percontohan tersebut,” jelasnya.

Perkuat Pelatihan KSR dan Relawan

Ketua Bidang Pelatihan PMI Kota Kediri, Wahyu Purnama Wijaya. (Foto: Red)

Sementara itu, Ketua Bidang Pelatihan PMI Kota Kediri, Wahyu Purnama Wijaya, menjelaskan bahwa pelatihan kepalangmerahan terus dikembangkan dengan melibatkan berbagai perguruan tinggi dan instansi.

Dalam satu tahun, PMI Kota Kediri menjalin kegiatan pembinaan dengan sekitar delapan perguruan tinggi. Salah satu programnya adalah Pendidikan dan Pelatihan KSR tingkat dasar yang kini menggunakan kurikulum terbaru selama 70 jam, menggantikan kurikulum sebelumnya yang berlangsung 120 jam.

“Setiap tahun perguruan tinggi kami jadwalkan untuk pelaksanaan pendidikan dan pelatihan KSR dasar. Sekarang kami sudah menggunakan kurikulum terbaru, yakni 70 jam,” ungkap Wahyu.

Selain perguruan tinggi, PMI Kota Kediri juga bekerja sama dengan PLN dalam kegiatan pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), termasuk berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Di lingkungan sekolah, pembinaan PMR dilakukan melalui orientasi kepalangmerahan, pengenalan prinsip dasar PMI, penggunaan atribut yang benar, hingga keterampilan pertolongan pertama.

Wahyu menilai masih diperlukan edukasi lebih intensif agar sekolah memahami perbedaan antara kegiatan PMR dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

“PMR dan UKS merupakan dua kegiatan yang berbeda, tetapi bisa berjalan berdampingan. Di lapangan masih kami temukan kegiatan PMR yang menggunakan atribut UKS. Ini menjadi pekerjaan rumah kami untuk memberikan pemahaman kepada sekolah,” katanya.

PMI Kota Kediri juga rutin menggelar kegiatan Jumbara, latihan bersama, serta Silaturahmi Antaranggota PMR (Siluntar) sebagai sarana meningkatkan kemampuan sekaligus mengevaluasi pembinaan selama satu tahun.

Selain itu, terdapat program edukasi Ngabuburit Sambil Belajar (Ngajar) selama Ramadan. Kegiatan ini menghadirkan pemateri internal maupun eksternal untuk memberikan pengetahuan kepalangmerahan, manajemen relawan, dan edukasi donor darah kepada masyarakat.

Antisipasi Kedaruratan di Jalur Tol

Wahyu menambahkan, meningkatnya aktivitas dan kebutuhan pelayanan masyarakat menuntut PMI Kota Kediri untuk terus meningkatkan kesiapan personel, terutama dalam bidang pertolongan pertama.

Menurutnya, keberadaan akses jalan tol di wilayah Kediri ke depan berpotensi meningkatkan mobilitas kendaraan dan pemudik. Kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan menyiapkan relawan yang memiliki kemampuan penanganan kegawatdaruratan.

“Ke depan, kemungkinan dua atau tiga tahun lagi kita semakin dekat dengan akses tol. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menyiapkan tim untuk pelayanan di posko. Mobilitas pemudik akan semakin meningkat dan potensi kerawanan juga perlu kita antisipasi,” jelasnya.

Ia menegaskan, penguatan kapasitas anggota KSR dan Tenaga Sukarela (TSR) menjadi bagian penting dalam menghadapi kebutuhan tersebut.

PMI juga terus membangun sinergi dengan berbagai komunitas dan instansi. Menurut Wahyu, penanganan bencana merupakan tanggung jawab bersama sehingga diperlukan kolaborasi dan pertukaran keterampilan antarlembaga.

“Prinsip kami, bencana adalah urusan bersama. Karena itu, kami bisa saling bersinergi dengan komunitas lain, berbagi ilmu, dan belajar bersama. Harapannya, ke depan penanganan kedaruratan bisa semakin solid,” tambahnya.

Keterbatasan Ambulans Jadi Tantangan

Sekretaris PMI Kota Kediri, Abdul Gani. (Foto: Red)

Sekretaris PMI Kota Kediri, Abdul Gani, menjelaskan bahwa koordinasi penanganan bencana selama ini dilakukan melalui sejumlah jejaring komunikasi lintas instansi, termasuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Melalui jejaring tersebut, informasi mengenai kejadian darurat seperti pohon tumbang maupun bencana lainnya dapat segera diteruskan kepada relawan dan instansi terdekat.

Sebagai contoh, ketika terjadi kejadian di wilayah Ngronggo, relawan dari perguruan tinggi terdekat seperti Universitas Islam Kadiri (UNISKA) dan UIN dapat bergerak lebih dahulu sebelum personel dan armada PMI menyusul.

“Kami menggunakan sistem zona. Alhamdulillah, di setiap kecamatan terdapat perguruan tinggi yang lokasinya relatif dekat. Jadi, ketika ada kejadian, relawan terdekat bisa segera bergerak. Targetnya, paling tidak satu jam setelah kejadian personel sudah bisa memberikan respons,” terang Abdul Gani.

Meski demikian, ia mengakui keterbatasan sarana operasional masih menjadi tantangan. Salah satunya adalah jumlah ambulans yang baru tersedia satu unit.

“Kendaraan operasional kami masih belum mencukupi. Ambulans hanya satu unit, sementara anggaran operasionalnya juga sangat terbatas. Untuk kebutuhan ambulans, anggaran yang tersedia sekitar Rp12 juta per tahun,” ungkapnya.

Keterbatasan tersebut tidak menyurutkan komitmen PMI dalam mendukung kegiatan kemanusiaan. Bahkan, relawan KSR dan TSR tetap dilibatkan dalam berbagai kegiatan lapangan dengan dukungan anggaran yang tersedia.

Abdul Gani juga menyampaikan bahwa kerja sama dengan BPBD dan instansi terkait selama ini berjalan cukup baik. Dalam sejumlah kejadian, termasuk pencarian dan penanganan korban hanyut, relawan PMI turut terlibat bersama unsur terkait.

Revitalisasi Gedung UDD Masih Menjadi Perhatian

Selain penguatan SDM dan kesiapsiagaan bencana, PMI Kota Kediri juga tengah mengupayakan revitalisasi gedung Unit Donor Darah (UDD).

Indrakso menjelaskan, gedung lama yang telah digunakan sejak 1986 dinilai sudah tidak memenuhi persyaratan untuk menunjang kebutuhan laboratorium dan pelayanan darah ke depan.

“Sejak 2022 kami sudah mengajukan revitalisasi gedung induk UDD. Gedung ini sudah cukup lama dan tidak lagi memenuhi persyaratan apabila digunakan sebagai laboratorium pelayanan darah ke depan. Karena itu, kami merencanakan renovasi total dengan pembangunan dua lantai,” jelasnya.

Rencana revitalisasi tersebut diperkirakan membutuhkan nilai penggantian bangunan sekitar Rp5 miliar. Skema yang ditempuh bukan berupa penerimaan uang tunai, melainkan penggantian dalam bentuk bangunan sesuai kebutuhan teknis pelayanan darah.

Selama proses pembangunan infrastruktur jalan, aktivitas UDD juga telah dipindahkan ke lokasi sementara. Biaya sewa gedung sementara pada tahun kedua ditanggung oleh Pemerintah Kota Kediri.

Indrakso berharap revitalisasi gedung UDD dapat segera terealisasi sehingga pelayanan donor darah dan distribusi darah kepada masyarakat semakin optimal.

“Kami berharap fasilitas pelayanan darah bisa semakin baik. Sebab, kebutuhan pelayanan darah harus didukung gedung, laboratorium, serta tata ruang yang memenuhi standar,” pungkasnya.

Dengan berbagai program pelatihan, penguatan jejaring relawan, serta pembenahan fasilitas pelayanan darah, PMI Kota Kediri berupaya meningkatkan kesiapsiagaan dan kualitas pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat.

Penulis: FahrizalEditor: Redaksi