banner 400x130

Kebutuhan Darah Meningkat, PMI Kediri Perluas Gerai Donor di Kampus-Kampus

Kepala UUD PMi Kota Kediri, dr. Ira Widyastuti. (Foto: Red)

KEDIRI – Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Kediri terus berupaya menjaga ketersediaan stok darah di tengah meningkatnya kebutuhan transfusi darah. Dengan keberadaan 13 rumah sakit di Kota Kediri, termasuk empat Rumah Sakit yang memiliki Bank Darah Rumah Sakit (BDRS), kebutuhan darah mengalami peningkatan cukup signifikan.

Kepala UDD PMI Kota Kediri, dr. Ira Widyastuti, mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir pihaknya menghadapi tantangan besar untuk memenuhi kebutuhan darah. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya jumlah pasien rujukan dari luar wilayah Kota Kediri.

Menurutnya, meskipun wilayah Kota Kediri hanya terdiri dari tiga kecamatan dengan jumlah penduduk sekitar 280 ribu jiwa, kebutuhan darah justru jauh lebih besar dibandingkan kapasitas kebutuhan berdasarkan jumlah penduduk.

“Kalau berdasarkan acuan, pemenuhan kebutuhan darah sebesar 2,5 persen dari jumlah penduduk sebenarnya sudah bagus. Namun, Kota Kediri ini sudah mencapai sekitar 7 persen. Meski demikian, kebutuhan darah masih cukup tinggi,” ungkap dr. Ira.

Ia menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun bersama Dinas Kesehatan Kota Kediri, sekitar 70 hingga 80 persen pengguna darah di rumah sakit Kota Kediri ternyata berasal dari Kabupaten Kediri maupun luar daerah.

Kondisi tersebut membuat UDD PMI Kota Kediri harus bekerja lebih keras dalam menjaga ketersediaan stok darah. Terlebih, Kota Kediri menjadi salah satu pusat layanan kesehatan rujukan dengan keberadaan rumah sakit besar, seperti RSUD Gambiran, RS Bhayangkara Kediri, RS Baptis Kediri, dan RS Ahmad Dahlan.

Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan tersebut, UDD PMI Kota Kediri terus meningkatkan target pengumpulan darah.

Pada 2024, jumlah donasi darah yang dikumpulkan mencapai sekitar 1.800 kantong, sementara produksi darah mencapai 2.600 kantong. Pada 2025, target donasi dinaikkan menjadi 2.000 kantong, tetapi kebutuhan masih belum sepenuhnya terpenuhi.

“Untuk tahun 2026 ini, kami meningkatkan target menjadi 2.500 donasi darah setiap bulan. Alhamdulillah, dengan jumlah tersebut, kebutuhan darah bisa tercukupi dan dalam kondisi tertentu kami juga dapat membantu memenuhi kebutuhan wilayah sekitar,” jelasnya.

Perluas Jangkauan Donor Darah melalui Gerai di Kampus

Salah satu strategi yang dilakukan UDD PMI Kota Kediri untuk meningkatkan jumlah pendonor adalah memperluas lokasi pelayanan donor darah.

Terbaru, UDD PMI Kota Kediri membuka gerai donor darah di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri. Gerai tersebut mulai beroperasi pada 6 Oktober 2026 dengan pelayanan setiap Selasa dan Kamis.

Dr. Ira mengatakan, pembukaan gerai donor darah tersebut merupakan langkah strategis untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa.

UIN Syekh Wasil dinilai memiliki potensi besar karena jumlah mahasiswanya mencapai sekitar 18 ribu orang yang tersebar di tujuh fakultas.

“Kami sudah lama memiliki gagasan untuk membuka gerai donor darah di lingkungan kampus. Alhamdulillah, tahun ini bisa terealisasi setelah kami menjalin kerja sama melalui penandatanganan MoU dengan pihak rektorat,” ujarnya.

Ke depan, UDD PMI Kota Kediri berencana memperluas program serupa ke sejumlah perguruan tinggi lainnya, seperti IIK Bhakti Wiyata dan Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.

Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan basis pendonor baru sekaligus mempermudah masyarakat untuk melakukan donor darah secara rutin.

Namun, keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi tantangan. Dari sekitar 30 pegawai UDD PMI Kota Kediri, termasuk pimpinan, pengemudi, dan petugas keamanan, hanya sekitar 21 orang yang merupakan tenaga teknis pelayanan darah.

Tantangan Relokasi Gedung dan Akreditasi

Selain meningkatnya kebutuhan darah, UDD PMI Kota Kediri juga sempat menghadapi kendala operasional akibat proses pembangunan infrastruktur jalan tol yang berdampak pada lokasi gedung pelayanan.

Dr. Ira menjelaskan, proses pemadatan tanah dan getaran akibat pekerjaan konstruksi menyebabkan sejumlah peralatan pemeriksaan darah bergeser hingga mengalami gangguan atau error.

Akibatnya, sejak sekitar Juli hingga Oktober 2025, pelayanan pemeriksaan sampel darah harus bekerja sama dengan PMI Kabupaten Tulungagung dan PMI Kabupaten Blitar.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan darah jadi, pihaknya mendapatkan dukungan pasokan dari PMI Kabupaten Malang, PMI Kota Malang, dan PMI Kabupaten Tulungagung.

“Selama peralatan kami mengalami kendala, pelayanan donor tetap berjalan. Untuk pemeriksaan sampel, kami bekerja sama dengan PMI Tulungagung dan PMI Blitar. Sedangkan kebutuhan darah jadi juga dibantu beberapa PMI daerah lain,” terangnya.

Pada Agustus 2025, UDD PMI Kota Kediri mulai melakukan pemindahan operasional ke gedung sementara karena bangunan lama dinilai sudah tidak representatif akibat dampak pembangunan jalan tol.

Meski menempati bangunan sementara, pelayanan donor darah tetap berjalan. Bahkan, proses perizinan dan persyaratan operasional turut mendapatkan pendampingan dari Dinas Kesehatan Kota Kediri.

Di sisi lain, UDD PMI Kota Kediri juga telah menyelesaikan proses akreditasi yang menjadi salah satu persyaratan peningkatan mutu pelayanan.

Dr. Ira menyebut proses akreditasi tidak mudah karena lembaga penilai sempat mempertanyakan kepastian lokasi gedung UDD yang akan direlokasi.

Namun, melalui pendampingan Dinas Kesehatan Kota Kediri, proses akreditasi akhirnya dapat dilaksanakan.

“Alhamdulillah, meskipun menghadapi berbagai kendala, proses akreditasi bisa kami selesaikan. Ini menjadi bagian penting untuk memastikan pelayanan UDD tetap memenuhi standar yang ditetapkan,” katanya.

Strategi Donor Darah Saat Ramadan

Untuk menjaga stok darah selama Ramadan, UDD PMI Kota Kediri memiliki strategi khusus melalui kegiatan donor darah malam hari atau yang biasa disebut ‘ngamen donor darah’.

Program tersebut telah berjalan sejak 2012. Tim UDD PMI Kota Kediri mendatangi sejumlah titik keramaian setelah waktu berbuka puasa atau bakda Magrib.

Menurut dr. Ira, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa stok darah yang dikumpulkan sebelum Ramadan sering kali habis pada pertengahan hingga akhir bulan puasa. Bahkan, kondisi kekurangan stok dapat berlanjut hingga dua minggu setelah Lebaran.

Karena itu, pihaknya memilih tetap aktif menggelar kegiatan donor darah selama Ramadan.

“Biasanya pada minggu pertama Ramadan kami memberikan kesempatan kepada teman-teman untuk menikmati ibadah puasa. Namun, mulai minggu kedua sampai mendekati Lebaran, kegiatan donor darah terus kami intensifkan karena pada periode tersebut kebutuhan darah tetap tinggi, sementara jumlah pendonor cenderung menurun,” jelasnya.

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, UDD PMI juga memberikan apresiasi berupa paket kebutuhan pokok, seperti minyak goreng dan gula, pada momentum tertentu.

Pemberian apresiasi serupa juga dilakukan pada peringatan 17 Agustus, Hari Donor Darah Sedunia pada 14 Juni, Hari Palang Merah Indonesia pada 17 September, serta kegiatan khusus relawan pada akhir tahun.

Meski demikian, dr. Ira menegaskan bahwa pemberian apresiasi bukan tujuan utama masyarakat mendonorkan darah.

“Kami ingin masyarakat tetap memiliki kesadaran bahwa donor darah merupakan kegiatan kemanusiaan. Pemberian tambahan itu hanya stimulus pada momentum tertentu agar semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berdonor,” tuturnya.

Produksi Trombosit Jadi Keunggulan UDD PMI Kota Kediri

Selain pelayanan donor darah konvensional, UDD PMI Kota Kediri juga memiliki layanan pengolahan komponen darah, termasuk produksi trombosit melalui metode aferesis.

Fasilitas tersebut merupakan salah satu keunggulan yang tetap dimanfaatkan setelah pandemi Covid-19 berakhir. Sebelumnya, peralatan aferesis juga digunakan untuk memproduksi plasma konvalesen bagi pasien Covid-19.

Kini, alat tersebut terus dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan trombosit sejumlah rumah sakit di dalam maupun luar Kota Kediri.

Dr. Ira menjelaskan, melalui metode aferesis, satu pendonor dapat menghasilkan hingga 10 kantong trombosit, bergantung pada kondisi pendonor dan hasil proses pengolahan. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan metode konvensional yang umumnya menghasilkan satu kantong dari satu pendonor.

“Alhamdulillah, setelah pandemi Covid-19, alat aferesis tetap bisa kami manfaatkan untuk produksi trombosit. Bahkan, beberapa rumah sakit dalam maupun luar kota lebih banyak meminta trombosit dari kami karena kualitas dan proses produksinya,” ungkapnya.

Dengan berbagai strategi tersebut, UDD PMI Kota Kediri berkomitmen menjaga ketersediaan darah bagi masyarakat yang membutuhkan.

Meski menghadapi keterbatasan wilayah, sumber daya manusia, serta tantangan infrastruktur, pelayanan kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama.

“Kami memiliki komitmen bahwa masyarakat yang membutuhkan darah harus tetap mendapatkan pelayanan. Kalau stok tidak tersedia, kami harus berupaya mencari dan berkoordinasi dengan PMI daerah lain agar kebutuhan pasien tetap bisa terpenuhi,” pungkas dr. Ira.

Penulis: FahrizalEditor: Redaksi