SURABAYA — Konsistensi mendonorkan darah hingga 100 kali mendapat apresiasi khusus dari Palang Merah Indonesia (PMI). Dua pendonor asal Jawa Timur terpilih mendapatkan hadiah umrah sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka dalam membantu sesama melalui donor darah.
Sekretaris PMI Provinsi Jawa Timur sekaligus Kepala Markas PMI Jatim, Dwi Suyatno, mengatakan kedua pendonor tersebut merupakan bagian dari 10 pendonor darah 100 kali yang mendapatkan hadiah umrah dari PMI Pusat melalui mekanisme undian.
Dari 10 pendonor yang mendapatkan kesempatan tersebut, dua di antaranya berasal dari Jawa Timur. Keduanya masing-masing Indra Vironike dari UDD PMI Kab. Sidoarjo dan Erry Siswanto dari UDD PMI Kota Probolinggo.
“Jadi tahun yang lalu pendonor 100 kali itu diterima Presiden di Jakarta. Ada 649 pendonor dari Jatim yang diberikan penghargaan. Kemudian PMI Pusat melakukan reward, salah satunya melalui undian. Ada 10 orang yang mendapatkan kesempatan untuk umrah, dan dua di antaranya dari Jawa Timur,” ujar Dwi.
Menurut dia, kedua pendonor asal Jawa Timur tersebut akan mengikuti rangkaian manasik sebelum bertolak ke Tanah Suci. Rencananya, keberangkatan menuju Makkah dilakukan pada 28 September 2026 dengan rangkaian perjalanan sekitar sembilan hari.
Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap para pendonor dari wilayahnya, PMI Provinsi Jawa Timur turut memfasilitasi perjalanan kedua pendonor tersebut. PMI Jatim menanggung transportasi dari daerah asal menuju Jakarta, termasuk pendampingan hingga keberangkatan.
“Kita memberangkatkan dari masing-masing daerah menuju Jakarta. Kita punya tim UDD yang kita tugaskan untuk mengikuti dan mendampingi sampai Jakarta. Nanti pulangnya kita jemput dan kita antarkan lagi ke masing-masing daerah,” jelasnya.
Dwi menilai penghargaan tersebut bukan sekadar hadiah, tetapi juga bentuk apresiasi atas pengabdian para pendonor yang telah berulang kali menyumbangkan darahnya untuk membantu pasien yang membutuhkan.
Ia berharap penghargaan semacam ini dapat menjadi pemicu semangat bagi pendonor lain untuk terus berdonor hingga mencapai 100 kali.
“Ini bisa menjadi stimulan buat para pendonor lainnya. Bagaimana negara mengapresiasi, mulai pemerintah, provinsi sampai kabupaten dan kota. Harapan kami, dua orang yang mendapat reward dari PMI Pusat ini tentunya akan memengaruhi pendonor-pendonor lainnya agar semakin semangat melakukan donor sampai 100 kali,” katanya.
Penghargaan Berjenjang untuk Pendonor
Dwi menjelaskan, apresiasi bagi pendonor darah diberikan secara berjenjang berdasarkan jumlah donor yang telah dilakukan. Penghargaan diberikan mulai dari 25 kali, 50 kali, 75 kali hingga 100 kali donor.
Untuk penghargaan donor 50 kali, kewenangannya berada di tingkat kabupaten/kota. Sementara penghargaan bagi pendonor yang mencapai 75 kali diberikan oleh PMI provinsi. Adapun penghargaan untuk pendonor 100 kali menjadi kewenangan PMI Pusat.
“Pendonor kita memberikan apresiasi, salah satunya penghargaan. Mulai pendonor 25 kali, 50 kali, 75 kali sampai 100 kali. Yang 50 kali kewenangan bupati atau wali kota, 75 kali kewenangan provinsi, sedangkan 100 kali kewenangan PMI Pusat,” tuturnya.
Untuk Jawa Timur, jumlah pendonor yang mencapai 100 kali donor tergolong tinggi. Dalam periode penghargaan yang mencakup pendonor 2019 hingga 2022, tercatat sekitar 649 pendonor dari Jawa Timur yang mendapat penghargaan di tingkat pusat. Jumlah tersebut menjadi salah satu yang terbesar dibandingkan provinsi lain.
Tingginya jumlah pendonor tersebut, menurut Dwi, menunjukkan kuatnya tradisi donor darah di Jawa Timur. Ia bahkan mengingat suasana ketika ratusan pendonor Jatim berangkat ke Jakarta untuk menghadiri agenda penghargaan di Istana.
Para pendonor dari Jawa Timur saat itu diberangkatkan menggunakan kereta api hingga empat gerbong. Sebelum menghadiri agenda di Istana, mereka sempat berkumpul di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah.
“Kemarin Jawa Timur paling semarak. Dari 600 sekian pendonor itu kita tempatkan di Anjungan Jawa Timur. Kita siapkan makanan khas Jawa Timur dan hiburan. Ramai sekali,” ungkapnya.
Menurut Dwi, suasana kebersamaan para pendonor tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa donor darah bukan hanya soal memberikan darah, tetapi juga membangun solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak menjadi pendonor rutin. Sebab, semakin banyak pendonor aktif, semakin besar pula ketersediaan darah yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pelayanan kemanusiaan.
“Ini kebanggaan bagi pendonor yang sudah 100 kali dipanggil ke Jakarta. Harapannya tentu semakin banyak teman-teman pendonor yang terus berdonor dan mencapai 100 kali,” pungkas Dwi. (*)







