KEDIRI WartaTransparansi.com – Dinas Pendidikan Kota Kediri memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah dengan menggelar Pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang diikuti 15 perwakilan guru, Selasa (30/6).
Melalui pelatihan tersebut, para peserta dibekali kemampuan mitigasi hingga penyusunan prosedur penanganan bencana yang dapat diterapkan di masing-masing satuan pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Mandung Sulaksono, mengatakan pelatihan tersebut merupakan tindak lanjut atas meningkatnya kejadian bencana di berbagai daerah di Indonesia. Program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan itu diharapkan mampu meningkatkan kemampuan sekolah dalam menyusun manajemen penanggulangan bencana sesuai dengan potensi risiko di wilayah masing-masing.
Menurut Mandung, sekolah yang mengikuti pelatihan diharapkan menjadi percontohan penerapan SPAB di Kota Kediri. Sebelumnya, Dinas Pendidikan bersama BPBD Kota Kediri juga telah mendampingi penerapan SPAB di SMPN 6 Kediri.
Ke depan, melalui penguatan kesiapsiagaan tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami langkah yang harus dilakukan saat bencana terjadi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana.
Narasumber dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur, Dahlia Kusumawati, menjelaskan pelatihan SPAB membekali peserta dengan materi manajemen penanggulangan bencana yang mencakup mitigasi, manajemen kedaruratan, praktik penanganan bencana, hingga penyusunan rencana tindak lanjut di setiap satuan pendidikan.
Menurut Dahlia, satuan pendidikan aman bencana adalah sekolah yang memiliki prosedur dan mekanisme yang jelas saat menghadapi bencana sehingga seluruh warga sekolah, khususnya peserta didik, terlindungi dari dampaknya. Untuk mewujudkan hal tersebut, sekolah perlu membentuk tim siaga bencana, menetapkan jalur evakuasi, titik kumpul, titik evaluasi, serta rutin menggelar simulasi kebencanaan.
Ia menambahkan, tantangan yang masih dihadapi banyak sekolah adalah kesiapan tenaga pendidik ketika menghadapi situasi darurat. Kepanikan guru saat bencana terjadi dapat menghambat proses evakuasi peserta didik. Selain itu, sekolah juga perlu didukung sarana dan prasarana seperti tangga darurat, jalur evakuasi, titik kumpul yang memadai, serta revitalisasi bangunan apabila kondisinya sudah tidak layak.
Salah seorang peserta pelatihan, Edo Rahmat, Guru SMAN 8 Kediri, mengaku kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru karena selama ini belum pernah memperoleh materi khusus mengenai mitigasi bencana di lingkungan sekolah.
“Materi ini sangat bermanfaat karena kami menjadi lebih siap menyampaikan edukasi kepada siswa ketika terjadi bencana. Kami juga belajar memetakan potensi ancaman bencana yang mungkin terjadi di sekolah sehingga dapat menentukan langkah pencegahan maupun penanganannya,” ujarnya.
Menurut Edo, materi pemetaan ancaman bencana menjadi bagian terpenting karena menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi di sekolah. Dengan memahami potensi risiko, sekolah dapat menyiapkan prosedur yang tepat apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.
Ia mengakui kesiapsiagaan bencana di sekolahnya masih perlu ditingkatkan. Selama ini fasilitas pendukung masih terbatas dan baru tersedia Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Sepulang dari pelatihan, Edo berencana menyampaikan hasil pembelajaran kepada kepala sekolah dan jajaran manajemen sebagai bahan penyusunan program tindak lanjut. Program tersebut meliputi identifikasi kebutuhan sarana pendukung hingga penyusunan sistem kesiapsiagaan bencana secara bertahap.
Edo juga berharap pelatihan SPAB dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau seluruh jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, agar budaya sadar bencana semakin tertanam di lingkungan sekolah sejak dini.(*)







