“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.
Makna Surat At-Taubah 36 di atas memberi pesan bahwa Allwh Subhanahu wa Ta’ala menciptakan alam semesta dengan putaran penanggalan 1 tahun 12 bulan dan 4 bulan di antaranya adalah bulan haram. Bulan larangan berbuat keji dan mungkar, larangan maksiat, larangan berperang, larangan menebar kejelekan atau berbuat negatif.
Empat Bulan Haram (Suci) dari 12 bulan tersebut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dilarang melakukan kezaliman, termasuk peperangan, demi menghormati kesucian bulan haram.v
Menurut para ulama tafsir, melakukan dosa dan maksiat di bulan-bulan haram dosanya akan lebih berat dibandingkan hari-hari biasa, sebaliknya amal kebaikan akan dilipatgandakan.
Ayat ini mengandung penegasan bahwa Allah SWT senantiasa membersamai, menolong, dan melindungi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Di Indonesia 10 Muharram (ada dua ketatapan, penanggalan tertulis 25 Juni 2026 bertepatan dengan 10 Muharram serta hasil Rukyatul hilal PB NU bahwa 26 Juni 2026 bertepatan dengan 10 Muharram, tentu umat Islam dan warga NU melaksanakan keduanya dengan tetap penuh tawadu.
Mengapa? Tuntunan para ulama bahwa pada saat akhir tahun 1447 Hijriyah, maka dituntun untuk berdoa akhir tahun sehabis sholat Ashar, dan doa awal tahun sehabis shalat magrib. Amalan inilah membuat warga Nahdlatul Ulama (NU) binggung karena PB NU baru mengumumkan selepas maghrib. Sehingga khusus tahun baru Hijriyah sebaiknya antara Rukyatul hilal NU dengan ahli hisab NU supaya bergerak lebih cepat dengan menghitung dan melihat pergerakan bulan lebih awal, sehingga benar-benar bermanfaat menjadi pedoman dalam beribadah, bukan membingungkan dan menimbulkan sedikit perbedaan yang semestinya tidak perlu. Karena teknologi sudah modern dan banyak ulama NU juga mahir dalam hisab sekaligus menyaksikan keajaiban bulan.
Khusus Hari Asyura (10 Muharram) adalah salah satu hari paling bersejarah dalam Islam, dimana tidak kurang 20 mukjizat dan peristiwa keajaiban para nabi dan ulama, terjadi pada saat 10 Muharram.
Hari Raya dan Puasa
Umat Islam sangat dianjurkan untuk menghidupkan hari Asyuro dengan puasa Asyura dan memperbanyak amal ibadah, dengan menghidupkan Hari Raya Yatim, karena sangat dianjurkan memberikan kasih sayang kepada para yatim. Dan bagi bapak-bapak kepala rumah tangga sangat dianjurkan memberi uang belanja lebih. Juga bersama keluarga menghidupkan Asyuro dengan berbagi rejeki sekaligus sodaqoh serta silaturahmi.
Tradisi umat Islam di Jawa, menghidupkan Asyuro dengan menggerakkan warga dengan kegiatan positif, tahlil, istighotsah, dzikir, membaca doa Asyuro, juga membagikan sadaqoh ke para yatim, juga berbagi makanan. Seperti tradisi membuat dan membagikan bubur Asyuro (bubur syuro).
Literatur Islam klasik seperti dalam Kitab I’anah at-Thalibin, di antaranya menciptakan dan menerima taubat Nabi Adam AS.
Menyelematkan perahu besar Nabi Nuh AS berlabuh di Bukit Judi, dengan selamat setelah banjir bandang seluruh dunia. Juga diselamatkannya Nabi Ibrahim AS dari kobaran api Raja Namrud.
Mukjizat Nabi Musa AS dan Bani Israil selamat menyeberangi Laut Merah, setelah dikejar-kejar Fir’aun bersama pengikutnya.
Diturunkan Kitab Taurat, serta dibebaskannya Nabi Yusuf AS dari penjara, dibebaskan Nabi Yunus dari perut ikan Paus.
Disembuhkannya Nabi Ayub AS dari penyakit kulit. Bahkan keagungan para nabi: Diangkatnya Nabi Idris AS ke langit , dikabulkannya doa Nabi Zakariya AS dengan kelahiran Nabi Yahya AS , dan kembalinya kerajaan Nabi Sulaiman AS.
Bahkan hari lahirnya Nabi Isa AS dan diangkatnya beliau ke langit, hingga peristiwa penting wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Husein RA di Padang Karbala, juga Asyuro.
Melaksanakan Puasa Asyura (10 Muharram) menjadi tradisi dan keajaiban umat sebelumnya, sesuai peristiwa para nabinya. Khusus umat Nabi Muhammad SAW, diberi petunjuk berpuasa Asyuro beserta puasa sehari sebelum dan/atau sesudahnya, khusus Asyuro diberi ganjaran menghapus dosa kecil setahun yang lalu.
Pesan paling berarti dalam Asyuro karena syarat dengan kewajiban dan dorongan puasa Asyuro sekaligus berbagi dengan anak yatim, berbagai aktifitas positif dan silaturrahmi dengan saudara serta teman. Maka momentum Asyuro sangat tepat adalah menyatukan umat dalam rentak ibadah, dan berbagai ibadah dengan sesuai kemampuan. Dengan pesan penting, saling membantu dan saling menguatkan. Dengan berharap selalu mendapat keajaiban.
Karena sesungguhnya keajaiban hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, sebagaimana Surat Al Hujurat 18 ;
“Innallāha ya’lamu gaibas-samāwāti wal-arḍ, wallāhu baṣīrum bimā ta’malụn (“Sesungguhnya Alloh mengetahui apa yang gaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”).
Semoga dengan menghidupkan Asyuro, dengan berpuasa, bersadaqoh, dan berbagi serta menjalin silaturahmi akan mendapat keajaiban dari arah mana saja. Terutama menyelematkan bangsa dan negara Indonesia dari kesewenang-wenangan dan kedzaliman para penguasa serta pengaturan mereka yang berkuasa untuk menjajah anak bangsa. (Djoko Tetuko)







