Fenomenal Ponpes Sepakbola eLKISI: Ngaji, Ngaji, dan Sepakbola Berakhlak (4-Habis)

Laporan Djoko Tetuko

Indra Sjafri saat launching Pesantren Sepakbola eLKISI

Abah Yai — panggilan populer Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.I — menyatakan optimistis sepakbola Indonesia ke depan mampu menembus Piala Dunia.

“Saya optimistis sepakbola Indonesia akan semakin baik hingga mampu tampil di Piala Dunia, salah satunya melalui usaha pembinaan pemain berakhlak di Pesantren Sepakbola eLKISI,” katanya.

Jika harapan itu terwujud, lanjut Abah Yai, maka prestasi sepakbola dapat berjalan berdampingan dengan dakwah. Sebab, dakwah bisa dilakukan di mana saja dan melalui media apa saja. Terlebih, sekitar 70 persen masyarakat Indonesia merupakan penggemar sepakbola.

“Maka sepakbola bisa menjadi media dakwah yang sangat efektif,” tandasnya.

Mengenai metode pembelajaran di Pesantren Sepakbola eLKISI, Abah Yai menjelaskan bahwa pola pendidikannya pada dasarnya sama seperti pesantren pada umumnya, hanya saja ditambah dengan pembinaan sepakbola dan kajian Islam dalam perspektif olahraga.

“Jadi, ngaji… ngaji… lalu sepakbola,” tegasnya.

Karena itu, Pesantren Sepakbola eLKISI tetap berikhtiar memberikan pengajaran agama yang baik, sekaligus pembinaan sepakbola dengan pelatih berkualitas.

Para santri tidak hanya dibekali kemampuan bermain bola, tetapi juga akhlak dalam bermain dan menonton sepakbola.

“Hal itu mudah, karena Islam dalam paradigma sepakbola mengajarkan kedamaian di lapangan. Bisa sholat di lapangan, sekaligus berdakwah di lapangan,” ujarnya.

Menurut Ketua PSSI Kabupaten Mojokerto itu, Pesantren Sepakbola eLKISI tetap membuka pembinaan mulai usia SD hingga jenjang berikutnya.

Apalagi kini eLKISI telah memiliki klub amatir anggota PSSI Jawa Timur dan berlaga di Liga 4 sebagai media kompetisi bagi para santri. Kondisi tersebut menjadi pembeda dibanding sejumlah pesantren lain yang hanya membangun akademi sepakbola.

Karena itu, bukan tidak mungkin Pesantren Sepakbola eLKISI terus menapaki jenjang kompetisi lebih tinggi, mulai Liga 3 Nusantara, Liga 2, hingga Super League.

Abah Yai juga menegaskan, konsep kelas khusus maupun kelas umum tidak menjadi persoalan karena keduanya dapat berjalan bersamaan. Kelas elit diproyeksikan mengisi kompetisi Liga 4 hingga berjuang menuju Liga 1.

“Kita berpikir tidak biasa-biasa saja. Kita wajib memiliki tim di Liga 4, karena Liga 4 juga bagus,” tuturnya.
Menurut kajian Pesantren Sepakbola eLKISI, jika nantinya para pemain direkrut klub lain pun tidak menjadi masalah. Sebab, apabila pemain memiliki adab dan akhlak yang baik, maka misi dakwah tetap akan tercapai.

Inilah fenomena pembinaan sepakbola ala pesantren modern: membina sejak usia dini hingga berkompetisi di kasta Liga 4. Bahkan, berani bermimpi melangkah ke Liga 3 Nusantara, Liga 2, hingga Super League.

Jika berhasil, inilah potret sejati insan sepakbola dari pesantren: berakhlak, berdakwah, dan berprestasi.

Sementara itu, Joko Susilo selaku Direktur Teknik dengan penuh keyakinan menatap masa depan sepakbola Indonesia sangat cerah. Menurutnya, minat masyarakat terhadap sepakbola sangat besar dan mimpi sekecil apa pun tetap penting demi perbaikan prestasi sepakbola nasional.

Apalagi, budaya pesantren memiliki karakter tersendiri.

“Anak-anak itu manut,” tuturnya.
Optimisme Getuk — panggilan akrab Joko Susilo — sejalan dengan harapan Indra Sjafri yang pernah menyebut bahwa 10 persen dari 40 juta peminat sepakbola Indonesia dapat menjadi pemain berprestasi apabila dibina secara konsisten dan berkomitmen bersama PSSI.

Semoga Pesantren Sepakbola eLKISI menjadi bagian dari 10 persen tersebut demi kemajuan sepakbola Indonesia. Memang tidak mudah, tetapi kesungguhan akan selalu melahirkan jawaban. Prestasi anak negeri lahir dari dedikasi dan kesucian nurani. (*)

Penulis: Djoko Tetuko