Launching Pondok Pesantren Sepakbola eLKISI, 10 Mei 2026, bukan sekedar menandai dari bumi Mojokerto tempat bersejarah jaman Kerajaan Majapahit dengan berbagai simbol kebesaran juga kedigdayaan. Bahkan tidak berlebihan terpercaya di hampir tanah Asia Tenggara dan sekitarnya.
Kerajaan Majapahit (1293–1527 M) adalah imperium terbesar di Nusantara yang berpusat di Jawa Timur, didirikan oleh Raden Wijaya. Majapahit mencapai puncak kejayaan di bawah Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, yang berhasil menyatukan sebagian besar Nusantara serta semenanjung Malaya melalui Sumpah Palapa.
Gunung Penanggungan (1.653 mdpl) di Jawa Timur adalah banyak situs suci peninggalan Majapahit yang sangat istimewa, memuat lebih dari 130-an situs arkeologi seperti punden berundak, gua pertapaan, dan candi di lereng-lerengnya. Diyakini sebagai bagian dari Mahameru, gunung ini menjadi pusat meditasi dan tempat tinggal para dewa.
Gunung Penanggungan juga menjadi pusat spiritual, yang dulunya disebut Gunung Pawitra, dimana disakralkan sebagai tempat meditasi (pertapaan) para rishi dan bangsawan pada masa kerajaan Medang Kamulan hingga Majapahit.
Gunung Penanggungan dianggap sebagai gunung suci yang memadukan keindahan alam dan kekayaan sejarah yang tak ternilai, sering disebut sebagai museum terbuka peradaban Jawa kuno.
Pesantren Sepakbola eLKISI, secara nyata juga berada di kaki gunung bersejarah dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Gunung Penanggungan. Tentu saja semua bukan sekedar kebetulan, tetapi garis takdir mungkin sudah mencatat bahwa ke depan salah satu kebangkitan sepakbola di tanah air, dengan sungguh-sungguh jujur dan berdiri di atas kaki bumi Pertiwi dengan menjaga asah dan asuh kepada pemain dan seluruh insan sepakbola, menjadi beradab atau berakhlak mulia. Menjadi dakwah dari lapangan sepakbola karena selalu menjaga keseimbangan antara ngaji dan sepakbola, antara kualitas habluminnalloh (hubungan dengan Alloh SWT) dan kualitas bermain sepakbola sebagai bagian habluminannas (hubungan dengan manusia).
Salah satu pemain legen paling muda, Evan Dimas, dengan daya kejut prestasi ketika membawa Timnas U-16 moncer, membagikan filosofi kejujuran dan di mana bumi dipijak disitu memberi manfaat kepada sesama, terutama mengembangkan prestasi sepakbola.
Evan Dimas saat ini fokus mendidik generasi muda di Sanggar Saraswati Nuswantara, Tulungagung, Jawa Timur, setelah memutuskan vakum dari sepak bola profesional. Ia melatih sekitar 75 anak di Sekolah Sepak Bola (SSB) sanggar tersebut, menanamkan karakter, etika, seni, dan spiritual.
Evan Dimas yang laris manis permintaan foto santri dan wali santri, Pesantren Sepakbola eLKISI, kini di sanggar lebih memilih menanamkan karakter dan ilmu sejak usia dini di SSB Saraswati daripada melatih tim profesional.
Filosofi kejujuran dan menjunjung tinggi peradaban di mana bumi dipijak, telah menggabungkan sepakbola dengan pendidikan karakter, etika, estetika, dan ritual sosial kemasyarakatan.
Potret Pesantren Sepakbola eLKISI semakin lengkap ketika, Bupati Mojokerto Dr. H. Muhammad Al Barra, Lc., M.Hum, ternyata sejak remaja sudah gemar sepakbola bahkan selalu mengikuti perkembangan sepakbola. Juga sempat tergiur antara memilih prestasi sepakbola atau melanjutkan ke pendidikan di pondok pesantren.
Gus Barra –Dr. H. Muhammad Al Barra, Lc., M.Hum– masih dengan ingatan kuat, mengisahkan kegembiraan ketika Evan Dimas dkk dibawah polesan Indra Sjafri mengalahkan Korea Selatan, mengisahkan kembali M. Salah, pemain Mesir yang merumput di Liverpool, menjadi panutan dan mengubah Islampobia ke Islam menjadi contoh, serta di luar dugaan ketika jadi mahasiswa di Mesir selalu bermain sepakbola mewakili Jawa Timur dalam kompetisi antarprovinsi mahasiswa Indonesia di Mesir. Karena ketika remaja pernah dihadapkan pilihan masuk Persebaya Junior atau lanjut ke pondok pesantren.
Bupati Mojokerto dan Yai Pengasuh Pesantren Sepakbola eLKISI, Dr KH Fathur Rohman M.PdI, ternyata satu frekuensi sama-sama penggemar sepakbola dan punya mimpi melahirkan presrasi pesepakbola dengan peradaban mulia, budi pekerti luhur dan tinggi atau akhlak mulia.
Abah Yai, menceritakan hampir setiap pertandingan di Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya, ijin ke pondok pesantren tempat menimbah ilmu untuk menyaksikan sepakbola, bahkan kadang ijinnya setelah selesai menonton.
Pada saat launching begitu membanggakan Persebaya dan pemain-pemain legen, mengundang secara khusus Hanafing (mantan kiri luar Niac Mitra dan Timnas), Yusuf Ekodono (gelandang Persebaya dan sejumlah klub serta Timnas kadang gelandang penyerang), Joko Susilo sang Direktur Tehnik, juga mantan coach Timnas Indra Sjafri yang beberapa kali mencatat prestasi untuk anak negeri.
Satu frekuensi atau “sefrekuensi” adalah istilah gaul yang menggambarkan kesamaan pemahaman, pemikiran, visi, atau hobi antara dua orang atau lebih. Ini menandakan kecocokan (chemistry) yang membuat komunikasi terasa nyambung, nyaman, dan saling mengerti tanpa perlu banyak penjelasan.
Catatan fenomenal Pesantren Sepakbola eLKISI ini, karena banyak chemistry para saksi launching, apalagi InsyaAllah satu-satunya pondok pesantren yang membina sepakbola sudah mempunyai klub Liga 4, anggota PSSI Jawa Timur. Kesungguhan ini adalah menuju cita-cita mulia, “man Jadda wa Jadda” (barang siapa sungguh-sungguh akan menghasilkan prestasi dari niat sesungguhnya).
Salah satu profil pemain nasional, pelatih sukses, pendakwah, PNS sukses, dengan kepribadian sangat low profile, sosok almarhum Rusdy Bahalwan, menjadi harapan Abah Yai, mimpi para tokoh sepakbola “satu frekuensi”, guna melahirkan pemain sekurang-kurangnya, seperti sang da’i hebat (almarhum) Rusdy Bahalwan, saat pemain pernah membawa Persebaya juara, sebagai pelatih membawa Persebaya juara, pemain Timnas, dan sejumlah catatan mengagumkan.
Mengikuti jejak para legen yang “satu frekuensi” mendukung Pesantren Sepakbola eLKISI, maka kesungguhan ini, tinggal menunggu waktu satu tempat pengemblengan pemain akan menjadi bagian dari Timnas Indonesia menuju prestasi internasional dan Piala Dunia. Dari bumi Pesantren Sepakbola eLKISI sebuah harapan besar. (Djoko Tetuko/bersambung)






