Di Usia 103 Tahun, Mbah Mardi Menjawab Panggilan Tanah Suci

Jemaah berusia 103 tahun Mbah Mardi menjadi perhatian petugas Haji

Langkah itu memang tak lagi tegap. Tubuh renta itu kini lebih banyak bersandar pada kursi roda. Namun, semangat di mata Mardijiyono—atau yang akrab disapa Mbah Mardi—tetap menyala terang saat perjalanan menuju Tanah Suci memasuki fase terpentingnya.

Di usia 103 tahun, lelaki asal Indonesia itu berangkat dari Madinah menuju Makkah bersama rombongan kloter YIA 9. Senin sore sekitar pukul 16.30 Waktu Arab Saudi, kursi rodanya perlahan didorong petugas menuju bus keberangkatan di Hotel Makarem Haram View Suites, Madinah.

Sejak selepas Ashar, Mbah Mardi sudah duduk tenang di dalam bus. Di sekelilingnya, sejumlah jemaah lanjut usia juga bersiap menempuh perjalanan menuju Bir Ali, tempat mengambil miqat dan niat ihram sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah.

Sementara sebagian jemaah lain masih menunaikan salat di Masjid Nabawi, petugas tampak sigap membantu mobilitas Mbah Mardi—mulai dari hotel hingga naik ke dalam bus. Tidak ada keluhan dari wajah sepuh itu. Yang tampak justru ketenangan, seolah perjalanan panjang hidupnya bermuara pada satu tujuan: memenuhi panggilan Allah di usia senja.

Ketua Sektor 1 Madinah, Ramlan Sudarto, mengatakan rombongan diberangkatkan lebih awal karena seluruh jemaah telah siap.
“Kalau semua jemaah sudah masuk bus, jumlahnya sudah dicek dan siap berangkat, maka lebih baik diberangkatkan lebih awal agar tidak terlalu lama menunggu di dalam bus,” ujarnya.

Perjalanan menuju Makkah bukan tanpa ujian bagi Mbah Mardi. Sebelumnya, ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi. Namun kondisinya kini stabil. Selama masa pemulihan, ia tetap kooperatif dan memiliki nafsu makan yang baik.

“Makanannya enak, saya suka,” katanya singkat sambil tersenyum.
Kalimat sederhana itu seolah menggambarkan cara Mbah Mardi menjalani hidup: menerima dengan ikhlas dan menikmati apa yang ada.

Di balik usianya yang telah melewati satu abad, tersimpan keteguhan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Selama di Madinah, Mbah Mardi tetap menjalani berbagai rangkaian ibadah. Ia melaksanakan salat di Masjid Nabawi, berziarah ke Raudhah, hingga mengunjungi makam Rasulullah SAW. Semua dilakukan dengan pendampingan petugas yang terus memastikan kesehatannya tetap terjaga.
Ada satu hal lain yang membuat kisahnya terasa semakin istimewa.

Mbah Mardi mengaku tak pernah merokok sepanjang hidupnya. Ia memilih menjalani hari-harinya dengan sederhana, tenang, dan bahagia dalam keadaan apa pun.
Kini, perjalanan menuju Makkah membawa Mbah Mardi semakin dekat pada puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Di tengah keterbatasan fisik, semangatnya justru menjadi pengingat bahwa usia bukanlah penghalang untuk memenuhi panggilan suci.

Di kursi roda itu, seorang lelaki 103 tahun sedang mengajarkan banyak hal: tentang ketulusan, kesabaran, dan keyakinan yang tak pernah menua. (Ais)