Di sebuah gang di Jalan Dinoyo Baru, Surabaya, kebahagiaan sederhana kini bersemi di rumah milik Wandhori. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga keamanan di SMAN 2 Surabaya itu tak lagi cemas setiap kali hujan turun. Tak ada lagi atap bocor, plafon runtuh, atau lantai yang tergenang air. Rumahnya kini berdiri kokoh—layak huni, nyaman, dan penuh harapan baru.
Perubahan itu datang sebagai hadiah istimewa di momen Hari Pendidikan Nasional.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, datang langsung meninjau hasil program bedah rumah yang telah rampung 100 persen. Bagi Wandhori, kunjungan itu bukan sekadar formalitas, melainkan simbol kepedulian yang nyata.
Dulu, rumahnya jauh dari kata layak. Dinding lembap dan retak, atap sering bocor, dan plafon beberapa kali jebol. Keinginan untuk memperbaiki rumah sudah lama ada, namun keterbatasan ekonomi membuatnya hanya bisa bertahan dengan kondisi seadanya.
“Kalau hujan, air masuk ke dalam rumah. Kami harus siap-siap menampung air,” kenangnya.
Kini, semua itu tinggal cerita.
Program bedah rumah yang menyentuh Wandhori merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam meningkatkan kesejahteraan insan pendidikan. Menariknya, sasaran program ini tak hanya guru, tetapi juga tenaga penunjang seperti satpam dan petugas kebersihan—mereka yang selama ini bekerja di balik layar keberlangsungan proses pendidikan.
“Insan pendidikan itu bukan hanya guru,” ujar Khofifah. “Semua yang mendukung pendidikan berhak mendapatkan perhatian, termasuk hunian yang layak.”
Program ini dibiayai dari dana zakat yang dihimpun oleh jajaran Dinas Pendidikan Jawa Timur dan disalurkan melalui Baznas. Dana tersebut ditasyarufkan untuk membantu perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu), sekaligus mendukung program afirmasi pendidikan seperti beasiswa bagi keluarga kurang mampu.
Tahun ini, sebanyak 38 rumah direnovasi di 24 cabang dinas pendidikan. Secara keseluruhan, program ini telah menyasar 135 insan pendidikan di Jawa Timur, dengan nilai bantuan rata-rata Rp20 hingga Rp25 juta per rumah. Proses pengerjaannya pun melibatkan semangat gotong royong, memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyebut program ini sebagai bentuk nyata empati terhadap para pelaku pendidikan yang sering luput dari perhatian.
“Ini bukan sekadar renovasi rumah, tapi juga bentuk penghargaan atas dedikasi mereka,” ujarnya.
Bagi Wandhori, rumah barunya bukan hanya soal bangunan fisik, tetapi juga tentang martabat dan rasa aman bagi keluarganya.
“Sekarang kami bisa tinggal dengan tenang dan nyaman. Ini kebahagiaan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Di balik tembok yang kini berdiri tegak, tersimpan cerita tentang kepedulian, gotong royong, dan harapan. Sebuah pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang ruang kelas, tetapi juga tentang kehidupan layak bagi mereka yang menjaganya setiap hari. (*)






