KEDIRI WartaTransparansi.com – Upaya membangun keluarga harmonis kembali disorot di tengah meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga baru-baru ini di Kota Kediri. DPD LDII Kota Kediri mendorong penerapan 29 Karakter Luhur sebagai fondasi utama parenting, dengan menekankan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter dan menciptakan lingkungan keluarga yang aman bagi anak.
Sekretaris DPD LDII Kota Kediri, Asyhari Eko Prayitno, menilai, penguatan nilai karakter dalam keluarga menjadi semakin penting di tengah tantangan zaman, termasuk meningkatnya perhatian publik terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga. Ia menegaskan, edukasi parenting menjadi salah satu langkah strategis untuk mencegah konflik keluarga sejak dini.
“Parenting skill merupakan bekal bagi orang tua dalam membina keluarga. Dengan pemahaman yang baik, potensi konflik hingga kekerasan dalam rumah tangga dapat ditekan, karena orang tua mampu mengelola emosi dan komunikasi secara bijak,” ujarnya, dalam Seminar Parenting Skill yang digelar di Kediri, Minggu 19 April 2026.
Menurut dia, pola asuh yang tepat mampu menciptakan komunikasi sehat antara orang tua dan anak. Dengan begitu, lingkungan keluarga akan menjadi ruang aman sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Asyhari juga menekankan pentingnya penerapan 29 Karakter Luhur yang dikembangkan LDII sebagai pedoman pembinaan generasi. Ia menyebut, nilai-nilai tersebut tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga akhlak dan pengendalian diri anak.
“Jika 29 karakter luhur ini diimplementasikan, anak tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak yang baik, mampu mengendalikan diri, dan memberi manfaat bagi lingkungan. Ini menjadi tujuan utama pembinaan generasi di LDII,” tegasnya.
Ia menambahkan, keharmonisan keluarga menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter anak. Hubungan yang dibangun melalui komunikasi terbuka, saling menghargai, serta kemampuan menyelesaikan konflik secara dewasa akan berdampak positif terhadap kondisi psikologis anak.
“Kasus kekerasan anak yang terjadi di Kediri beberapa waktu lalu menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Anak harus dilindungi dan dibina dengan kasih sayang. Jangan sampai lingkungan keluarga justru menjadi tempat yang tidak aman bagi mereka,” tuturnya.
Dalam seminar tersebut, dr. H. Heris Setiawan Kusumaningrat turut memaparkan pentingnya pendekatan khusus dalam mendidik generasi Z. Ia menjelaskan, karakter anak zaman sekarang yang cepat menyerap informasi membutuhkan arahan yang tepat dari orang tua.
“Anak gen Z itu cepat menangkap informasi, cepat mengambil kesimpulan. Maka orang tua harus memberikan penjelasan yang detail dan terarah agar anak tidak salah dalam memahami sesuatu yang baru bagi mereka,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa kecerdasan anak dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni nutrisi, situasi, dan emosi. Selain itu, metode pembelajaran melalui pengulangan dinilai mampu memperkuat koneksi otak anak.
“Kalau sering diulang, sambungan di otak menjadi kuat, itu yang membuat anak pintar. Tapi kalau ditambah sudut pandang yang luas, anak akan menjadi cerdas karena memiliki banyak koneksi pemahaman,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya keteladanan orang tua dalam mendidik anak melalui konsep mirror neuron. Menurutnya, perilaku orang tua akan direkam dan ditiru oleh anak dalam kehidupan sehari-hari.
“Orang tua itu ibarat master, anak adalah hasil fotocopynya. Kalau orang tua rukun, bahagia, dan saling menyayangi, itu akan terekam kuat dalam diri anak,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan agar orang tua tidak mempertontonkan konflik di depan anak karena dapat berdampak pada pembentukan karakter jangka panjang.
“Konflik itu wajar, tapi jangan ditampilkan di depan anak. Karena apa yang dilihat akan tersimpan dalam ingatannya dan bisa mempengaruhi kepribadiannya,” tutupnya.(*)












