banner 400x130
Kediri  

Kibarkan Budaya Nusantara, 20 Mahasiswa UNP Kediri Jalani KKN Internasional Perdana di Malaka

Mahasiswa dan dosen pembimbing UNP Kediri berfoto bersama membentangkan spanduk Program KKN Internasional 2026 sebelum bertolak ke Malaysia.
Civitas akademika Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri berfoto bersama dalam pelepasan delegasi Program KKN Internasional Tahun 2026 yang akan melaksanakan pengabdian di Kampung Paya Dalam, Malaka, Malaysia.(Foto: Moch Abi Madyan).

KEDIRI – Koper-koper telah tertutup rapat, dan paspor di tangan para mahasiswa, yang siap mencatatkan sejarah baru. Sebanyak 20 mahasiswa Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri bersama 12 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) bersiap terbang melintasi selat, menuju sebuah titik di peta bernama Kampung Paya Dalam, Malaka, Malaysia.

Di perkampungan yang menjadi denyut nadi komunitas keturunan Jawa di negeri jiran itu, mereka tidak sedang berdarmawisata. Selama sepekan, 2–7 November 2026, misi utama mereka sederhana namun agung: merawat ingatan tentang tanah leluhur.

Bagi Wakil Rektor 3 Bidang Riset, Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Inovasi UNP Kediri, Dr. Agus Muji Santoso, M.Si., langkah perdana ini adalah ikhtiar membentangkan cakrawala berpikir mahasiswa agar menembus batas teritorial.

“Tujuan KKN Internasional ini adalah meningkatkan wawasan global mahasiswa UNP Kediri agar memiliki jejaring, pengetahuan, dan keterampilan yang tidak hanya berskala nasional, tetapi juga internasional,” ujarnya, Jumat 30 Oktober 2026.

Di balik layar, mesin birokrasi kampus bergerak cepat. Program ini mendapat sambutan hangat, didukung langsung oleh Pemerintah Kerajaan Malaysia serta menggandeng Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Kampus meringankan langkah peserta lewat skema sharing fund atau subsidi tiket, pembuatan paspor, dan transportasi—yang dikawinkan dengan sharing cost mandiri. Sebagai timbal balik akademik, mereka dibebaskan dari KKN reguler, dan sertifikat internasional di tangan mereka dikonversi menjadi Satuan Kredit Semester (SKS).

Namun, denyut terdalam dari ekspedisi ini berada pada kebudayaan itu sendiri. Ketua LPPM UNP Kediri, Dr. Ika Santia, M.Pd., merancang tujuh program unggulan yang menyentuh akar tradisi: mulai dari pelestarian Bahasa Jawa, tari tradisional, herbal drink, kuliner Nusantara seperti sambal pecel dan tahu telur, jamasan pusaka, hingga etnocraft Jawa.

Sebelum menginjakkan kaki di Malaysia pekan depan, para mahasiswa digembleng habis-habisan. Dosen seni UNP Kediri, Ayu Titis Rukmana Sari, M.Pd., memutar otak ketika menghadapi tantangan di tengah jalan. Semula, materi tari dirancang untuk remaja. Namun, aturan setempat menuntut penyesuaian. Dalam waktu singkat, tarian anak-anak karya orisinal produksi kampus disiapkan melalui latihan intensif berdarah-darah selama tiga pekan di bawah komando tiga mahasiswa pilihan sebagai PIC.

Bagi Wisnu Surotama Wardana, mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Sejarah yang lolos seleksi ketat dari puluhan pendaftar, perjalanan ini adalah sebuah pertaruhan kebanggaan.

“Motivasi kami sebagai peserta KKN Internasional 2026 UNP Kediri merupakan sebuah suatu kebanggaan tersendiri karena bisa membawa kampus kami untuk menuju ke mancanegara,” ucap Wisnu mantap, usai mengantongi restu penuh dari orang tuanya.

Di Paya Dalam Malaysia nanti, para mahasiswa UNP Kediri tidak sekadar menari atau meracik jamu. Mereka diwajibkan memetakan kemampuan warga, mengeksekusi program, hingga mengukur persentase keberhasilan pemberdayaan yang terdokumentasi rapi di ruang-ruang digital.

Ketika tirai penutupan nanti turun di Malaka, gaung gamelan dan aroma rempah Nusantara mungkin akan berangsur reda. Namun, bagi UNP Kediri, jejak-jejak kecil yang ditinggalkan para pemuda ini telah menanam fondasi kokoh: menautkan kembali akar rumpun yang sempat kabur, sekaligus menempatkan kampus di tepian peta pendidikan regional ASEAN.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan