banner 400x130

Unesa Siapkan Pendekatan Sport Science dan Usulkan Beasiswa bagi Atlet Asian Para Games 2026

Ketua NPCI Jatim, Imam Kuncoro dan Wakil Rektor IV Unesa, Prof. Dwi Cahyo Kartiko (kanan). (Foto: Zal)

SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memperkuat komitmennya dalam mendukung pengembangan atlet disabilitas melalui pendekatan sport science dan akses pendidikan tinggi. Langkah ini menjadi bagian dari kolaborasi dengan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jawa Timur untuk meningkatkan kualitas atlet sekaligus menyiapkan regenerasi menuju kompetisi internasional.

Wakil Rektor IV Unesa Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi, Prof. Dwi Cahyo Kartiko, mengatakan pengembangan olahraga disabilitas membutuhkan dukungan multidisiplin. Selain program latihan, atlet perlu mendapatkan pendampingan berdasarkan ilmu keolahragaan serta kesempatan pendidikan yang memadai.

“Unesa memiliki tiga keunggulan, yakni olahraga, disabilitas, dan seni. Irisan antara disabilitas dan olahraga sangat besar. Karena itu, melalui kolaborasi dengan NPCI, kami mencoba mengembangkan pendekatan sport science untuk meningkatkan kualitas atlet disabilitas,” ujar Prof. Cahyo, Senin (26/10/2026) di Unesa.

Menurut dia, sport science berperan dalam membantu mengidentifikasi potensi atlet, mengevaluasi kemampuan, dan merancang program pengembangan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing atlet.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu atlet disabilitas mencapai performa optimal, baik ketika mengikuti kompetisi nasional maupun saat membawa nama Indonesia di ajang internasional.

Prof. Cahyo menjelaskan, kerja sama Unesa dan NPCI juga telah dilakukan dalam kegiatan talent scouting untuk mencari calon atlet disabilitas yang memiliki potensi prestasi.

Melalui program itu, pengembangan atlet tidak hanya diarahkan pada mereka yang telah berprestasi, tetapi juga pada calon atlet muda yang membutuhkan pembinaan sejak tahap awal.

Jawa Timur Sumbang 13 Medali

Komitmen pengembangan atlet tersebut sejalan dengan capaian kontingen Jawa Timur pada Asian Para Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang.

Ketua Umum NPCI Jawa Timur, Imam Kuncoro, menyampaikan sembilan atlet asal Jawa Timur yang memperkuat Indonesia berhasil menyumbangkan 13 medali. Rinciannya terdiri atas dua emas, lima perak, dan enam perunggu.

“Capaian ini membuktikan bahwa atlet-atlet disabilitas Jawa Timur memiliki potensi besar. Kami ingin prestasi tersebut terus berkembang melalui pembinaan yang terarah dan berkelanjutan,” kata Imam.

Maulana Rifki menjadi salah satu atlet yang mencatatkan hasil menonjol dengan raihan dua medali emas dan dua perak. Sementara itu, atlet muda seperti Zara dari cabang renang dan Mutiara Cantik juga berhasil menyumbangkan medali.

Bagi NPCI Jawa Timur, hasil tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga kesinambungan pembinaan agar atlet muda dapat berkembang hingga mencapai level kompetisi tertinggi.

Imam mengatakan, pihaknya telah menjaring sekitar 400 calon atlet disabilitas melalui talent scouting pada 2025. Program yang melibatkan Unesa dan NPC Indonesia itu menyasar anak-anak berusia di bawah 17 tahun dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, khususnya penyandang disabilitas daksa dan netra.

Sejumlah calon atlet yang memenuhi kriteria telah menjalani latihan selama empat bulan. Namun, Imam menilai pengembangan mereka membutuhkan dukungan yang lebih luas, terutama untuk menjamin keberlanjutan program latihan.

“Kami memiliki potensi atlet yang besar. Persoalannya adalah bagaimana pembinaan itu bisa berjalan secara kontinu. Karena itu, kolaborasi dengan Unesa dan dukungan pemerintah sangat penting untuk menjaga perkembangan atlet,” ungkapnya.

Pendidikan Atlet Jadi Perhatian

Selain peningkatan prestasi olahraga, Unesa juga menaruh perhatian pada keberlanjutan pendidikan atlet disabilitas. Dwi mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan atlet tetap mempunyai kesempatan melanjutkan pendidikan meskipun menjalani aktivitas latihan dan kompetisi.

Sebagai bentuk dukungan, Unesa telah mengirimkan surat kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, dengan tembusan kepada Chef de Mission (CdM) dan Ketua NPC Indonesia. Surat tersebut berisi usulan pemberian beasiswa pendidikan jenjang S1, S2, dan S3 bagi atlet, pelatih, serta ofisial yang terlibat dalam Asian Para Games 2026.

“Bagi kami, atlet tidak hanya perlu didukung agar berprestasi, tetapi juga harus mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi. Karena itu, kami mengusulkan beasiswa S1, S2, dan S3 bagi atlet, pelatih, serta ofisial yang terlibat di Asian Para Games,” kata Dwi.

Ia menegaskan, pendidikan merupakan bagian penting dari masa depan atlet, terutama untuk mempersiapkan kehidupan setelah mereka tidak lagi aktif bertanding.

Dukungan pendidikan juga dapat membuka peluang bagi atlet untuk mengembangkan karier di bidang lain, termasuk kepelatihan, pendidikan olahraga, dan profesi sesuai kompetensi masing-masing.

Kolaborasi Unesa dan NPCI Jawa Timur diharapkan mampu membangun ekosistem olahraga disabilitas yang tidak hanya berorientasi pada perolehan medali, tetapi juga memperhatikan pengembangan sumber daya manusia.

Melalui sport science, penjaringan atlet muda, pembinaan berkelanjutan, dan perluasan akses pendidikan, atlet disabilitas Jawa Timur diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk berprestasi sekaligus meraih masa depan yang lebih baik.

Penulis: FahrizalEditor: Redaksi