banner 400x130

Gus Ali Sentil NU, Persatuan Jangan Bergantung pada Musuh Bersama

SURABAYA, WartaTransoaransi.com — Nahdlatul Ulama (NU) tidak semestinya menunggu munculnya musuh bersama untuk bisa rukun. Persatuan harus tumbuh dari kesadaran, mahabbah, dan kemampuan mengelola perbedaan. Pesan itu disampaikan KH Agoes Ali Masyhuri atau Gus Ali dalam Dialog Publik “Transformasi Orientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II” di Surabaya, Rabu (12/8).

Dialog tersebut digelar Wartawan Pokja Grahadi, JUST, dan PMII Jawa Timur. Di hadapan peserta, Gus Ali menyoroti kondisi internal NU yang menurutnya kerap lebih solid ketika menghadapi ancaman dari luar.

“NU iku iso kuat, rukun, nek digolekno mungsuh,” ujar Gus Ali, disambut tawa peserta.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kerukunan tidak seharusnya dibangun karena adanya lawan. Jika musuh tidak ada, persaudaraan di internal organisasi tetap harus dijaga.

“Dadi nek mungsuhe ora ono, rukun nek njero,” lanjutnya.

Gus Ali mengawali paparannya dengan mengutip ungkapan ulama hadis Sufyan bin Uyainah, “Inda dzikris-shalihin tanzilur-rahmah”, yang bermakna ketika orang-orang saleh disebut, rahmat turun. Pesan tersebut, kata dia, kemudian diperkuat Imam Al-Ghazali.

Ia menekankan, tradisi ulama terdahulu dibangun dengan saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Karena itu, mahabbah atau kecintaan kepada orang-orang saleh harus menjadi salah satu modal sosial NU.

“Ulama-ulama dulu itu saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan,” tegasnya.

Gus Ali kemudian mencontohkan situasi ketika NU menghadapi Partai Komunis Indonesia (PKI). Menurutnya, adanya ancaman bersama kala itu mampu mendorong warga NU bergerak secara cepat dan kompak.

“Dulu zaman PKI, nggawe masjid iku seminggu mari NU iku. Opo’o? Orah mungsuhe. Saiki? Ya Allah, nggawe masjid ditar-tarino,” katanya.

Ia menilai tantangan NU memasuki abad kedua justru semakin kompleks. Ancaman tidak selalu hadir dalam bentuk musuh yang kasatmata, tetapi dapat berupa perbedaan kepentingan, perebutan pengaruh, fragmentasi internal, hingga ketidakmampuan mengelola perbedaan.

Karena itu, Gus Ali mendorong lahirnya kader NU yang mampu menghadapi perbedaan tanpa terjebak dalam konflik. Ia mencontohkan H.O.S. Cokroaminoto sebagai figur yang mampu berdiskusi dan berdebat, tetapi tetap istikamah serta menghargai perbedaan pendapat.

Ia berharap kepemimpinan NU ke depan memiliki karakter serupa, yakni mampu tetap tenang menghadapi konflik, aktif dalam menyelesaikan persoalan, serta menjadikan perbedaan sebagai kekuatan.

“Mampu membingkai perbedaan menjadi kuat,” tegasnya.

Menurut Gus Ali, besarnya jumlah warga, luasnya jaringan pesantren, dan kuatnya struktur organisasi belum cukup menjadi ukuran keberhasilan NU pada abad kedua. Yang lebih penting adalah kemampuan menjaga soliditas ketika organisasi tidak sedang menghadapi musuh bersama.

Ia pun mengingatkan bahwa jika kerukunan hanya muncul ketika ada lawan, persatuan tersebut akan mudah rapuh. Sebaliknya, jika mahabbah menjadi fondasi, perbedaan seharusnya tidak berkembang menjadi pertarungan internal.

Pesan Gus Ali tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi NU dalam memasuki abad kedua: menjaga persaudaraan bukan karena adanya musuh, melainkan karena kesadaran bahwa perbedaan merupakan bagian dari kekuatan organisasi. (*)

Penulis: Fahrizal ArnasEditor: Amin Istighfarin