banner 400x130

Kasihan Presiden Prabowo, Takdir Menguatkan Derajat Gegara “Londo Ireng”

Djoko Tetuko

Sudah wajar dan semua menjadi mafhum, ketika ratusan wartawan dan beberapa organisasi wartawan mencaci maki Presiden Prabowo Subianto, ketika sengaja dengan penuh kesadaran menyampaikan pidato bahwa masih ada di Indonesia, Londo Ireng.

Apalagi, Presiden Prabowo gegara menyebutkan bahwa Londo Ireng itu dari kalangan jurnalis, LSM, dan pengamat. Tetapi bagi penulis melihat hal ini justru pelajaran berharga diungkapkan seorang Kepala Negara, dalam situasi setelah menjalani, membaca, dan menghadapi kenyataan sesungguhnya bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta ini, bukan sekedar pemerintahan dan peradaban “hitam-putih”.

Tetapi sudah menjelma begitu rupa berubah ubah menjadi “pelangi”, bahwa negara sudah full colour, semua pilar di negeri ini punya kekuatan warna-warni, saling mensandera serta memberikan beban tidak ringan kepada anak bangsa. Bahkan negara “dipaksa” menanggung beban dengan “tetesan air mata”.

Sesungguhnya pidato Presiden Prabowo menyebut masih ada “Londo Ireng”, hanya sindiran halus tingkat tinggi. Dimana pada saat ingin mengembalikan marwah atau martabat negara pada pemerintahannya, ternyata sudah nampak dari berbagai sudut “memberi ancaman”.

Bahkan ketika disindir, bukan membela tetapi melawan karena tidak mau lagi tertawan. Maka siapa lagi yang bisa ditakdirkan disindir Presiden kalau bukan jurnalis, LSM, dan pengamat.

Dalam kondisi tertekan seperti ini, memang tidak ada kata dan kalimat paling tepat, kecuali mengikuti takdir dari Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) dengan sadar melukai wartawan/jurnalis, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan pengamat.

Tetapi, sesungguhnya takdir itu juga seaakan-akan mengingatkan bahwa tatanan berbangsa dan bernegara dalam menjaga profesi atau kinerja tiga sebutan itu sekarang banyak ditunggangi mereka yang abu-abu. “Kasihan Presiden Prabowo, Takdir Menguatkan Derajat Gegara “Londo Ireng”.

Maaf, wartawan atau jurnalis sejak Undang Undang Nomer 40 Tahun 1999 tentang Pers berlaku, maka sudah tidak ada lagi lembaga yang berani mengatur perusahaan pers berbadan hukum, kredibel, kompeten, standar, bahkan benar-benar sebuah perusahaan pers dengan tata kelola profesional.

Maaf, wartawan dan jurnalis tiba-tiba saja meramaikan dunia politik serta media massa (media pers), karena sudah tidak ada lembaga yang mampu mencegah ketika ada wartawan bertugas dengan profil dan performa mengalahkan wartawan atau jurnalis yang sesungguhnya, tetapi (maaf, bukan wartawan) tidak bisa menulis berita, tidak memahami kode etik jurnalistik. Maka dunia kita menyebut wartawan bodrek dan wartawan abal-abal mendominasi di lapangan dari menyisir Kepala Desa, Kepala Sekolah, dan sampai kepalanya kepala.

Bahkan, Dewan Pers sebagai “Dewa Tertinggi” organisasi pers, justru ditandingi dengan berbagai upaya. Peruhaaan pers tiba-tiba menggunung seperti gunungan sampah, sehingga bau tidak sedap. Wartawan dan jurnalis seperti lalat dan tawon terbang ke sana kemari, hinggap di mana saja, tanpa ada gegara. Susah memang susah, ketika semua sudah jadi susah.

Maaf, LSM, lembaga ini tiba-tiba saja semua orang bisa mendirikan LSM dan menjadi pengamat dadakan, bahkan pemantauan semua kebijakan. Lebih merinding lagi tanpa didasari keilmuan yang mumpuni sebagai lembaga pengontrol dan penyeimbang.

Sehingga, ketika LSM dengan harapan sebagai oposisi pemerintahan di semua tingkatan. Justru menjadi LSM untuk menakut-nakuti dan ujung-ujungnya menyaru angaran dana desa (ADD) tapi justru dimanfaat ADD (ada duit damai).

ADD (anggaran dana desa) ketika sudah sampai di Kepala Desa, tamu mengaku dari LSM merangkap jurnalis bahkan pengamat sekolah pengamat desa sampai pengamat kebijakan negara “muncul ke permukaan”. Bersamaan dengan dana BOS (biaya operasional sekolah) turun, semua sekolah dengan jumlah begitu banyak dan kekurangan anggaran harus dipenuhi jurnalis, LSM, dan pengamat.

Mari merenung dan membaca situasi dan kondisi ini, dengan hati terbuka dan siap menerima juga memberi pemikiran stregi demi menyelamatkan negeri ini dari rongrongan pemilik negeri sendiri.

Elit Londo Ireng

Gambaran di atas adalah “Londo Ireng” di lapisan kalangan bawah, dan suka-suka bermain di bawah. Tetapi jauh lebih ngeri ketika “Elit Londo Ireng” yang sudah menjadi sutradara semua kebijakan di negeri ini, lewat berbagai saluran media (politikus, LSM, Ormas, Orpol, Akademisi) karena kebetulan kran demokrasi sudah bebas, bahkan seperti tidak ada negara, seperti tidak ada pemerintah, seperti tidak ada pejabat. Yang ada siapa diperintah menjabat siapa, siapa memerintah siapa, siapa menjadi penyelenggara negara karena gegara itu-itu saja.

Tekanan “Elit Londo Ireng” ini, juga memainkan peran menggunakan kekuatan jurnalis, LSM, pengamat, bahkan lebih dari itu. Sehingga sekali lagi saya sebut,
“Kasihan Presiden Prabowo, Takdir Menguatkan Derajat Gegara “Londo Ireng.”

Jika fenomena ini sudah disadari semua pihak, maka tidak perlu menyalahkan Presiden Prabowo, kasihan karena takdir harus menjadi bulan-bulanan, tetapi itu justru mengangkat juga menguatkan derajat dan terbebaskan dari rencana begitu rapi dan jahat, kebusukan mau menjatuhkan pemerintahan sang presiden.

Falsafah Jawa

Falsafah Jawa dalam menyelesaikan setiap ada pergesekan antara pemimpin dengan simpul-simpul kekuatan pilar demokrasi serta simpul-simpul kekuatan pilar rakyat, dari mana saja, kekuatan apa saja, maka musyawarah mufakat dengan sama-sama legowo jika ada salah dan khilaf saling memaafkan juga berbagai strategi menyelematkan negeri, dari para pengkebiri yang sudah lama menguat tanpa mampu dihambat. Adalah jalan terbaik menyelesaikan keruwetan.

Salah satu falsafah Jawa, adalah (Jowo, bahwa Jawa/artinya loman ; suka memberi tanpa pamrih), loman juga berarti suka menolong tanpa mau disebut-sebut sebagai pahlawan kesiangan. Maka dalam kondisi semua memang tidak dalam keadaan baik-baik saja, kecuali “Elit Londo Ireng”, mari bersama sama menciptakan kedamaian dengan keadilan sejati.

Forum-forum non-normal dengan ngopi bareng, dengan jagongan, dengan cangkrukan, dengan silaturrahmi non-formal, dengan bicara-bicara dari hati ke hati, bersama jurnalis yang sungguh-sungguh, bersama LSM yang sungguh-sungguh, bersama pengamat yang sungguh-sungguh.

InsyaAllah akan menemukan jalan keluar terbaik, dengan “tangan Tuhan” ikut campur menyelematkan bangsa dan negara, dan mengembalikan pada jati diri suci dan abadi. Mengapa? Karena semua ini adalah campur tangan Allah SWT, Tuhan Yang
Maha Esa.

Gema ripo lo ji nawi (negeri subur maknur, dan sejahtera semua kebutuhan ada), akan terus membaik dan menjadi baik, kalau setiap persoalan kebangsaan diselesaikan secara gotong royong dengan sungguh-sungguh. Bukan gotong royong dibuat main-main, dibuat “menipu” apalagi “memperdaya”, tetapi karena kesadaran dan panggilan hati nurani, mau memperbaiki negeri. Mau menjaga anak warisan bumi Pertiwi.

Jujur sangat suka ketika Presiden Prabowo ditakdirkan pidato menyentuh kalangan jurnalis atau wartawan, LSM, dan pengamat. Karena dari sisi filosofi dan ilmu tasawuf siapa yang tulus ikhlas menerima “hinaan” bukan karena disengaja Allah SWT akan mengangkat derajatnya, semoga Presiden, Wartawan, LSM, pengamat, dan siapa yang sungguh-sungguh juga dengan ikhlas menerima takdir melalui perjalanan apa saja, dari kacamata dunia memang tekesan kasihan, tetapi dari kacamata di luar kemampuan dunia, akan menjadi penguatan derajat dan menambah derajat.

Semoga sebagai oto kritik atas semua peristiwa di negeri ini, dari inspirasi “Londo Ireng” walaupun ini hanya sebatas di permukaan, akan membuahkan hasil mengubah berbagai ketimpangan, termasuk “budaya korupsi”, “budaya Elit Londo Ireng dalang berbagai hancurnya peradaban”, “budaya Elit Londo Ireng, menciptakan Londo Ireng Jadi Jadian dan merusak tatanan”, akan segera berakhir. Dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ditakdirkan kembali susi dengan keabadian hakiki, mewujudkan, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Semua cita-cita bersama dari kolong jembatan terjelek di pedesaan sampai di bawah jembatan langit ke tujuh. Aamiin yaa rabbal aalamiin. (*)

Penulis: Djoko Tetuko