banner 400x130

Sampah Bukan Sekadar untuk Dibuang

Prof. Dr. Indasah, Ir., M.Kes. penulis opini pemberdayaan masyarakat dan pengolahan sampah organik menjadi MOL di Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri.
Prof. Dr. Indasah, Ir., M.Kes., ketua tim pengabdian masyarakat yang menginisiasi program pengolahan sampah organik berbasis Mikroorganisme Lokal (MOL) di Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Prof. Dr. Indasah, Ir., M.Kes.; Fajar Rinawati, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.J; Muhammad Ali Sodik, S.Pd., SKM, MA; Zakka Jawara Anharu; Tegar Dwi Utomo

Sampah selalu punya nasib yang sama: dibuang.

Begitu sesuatu dianggap tidak berguna, tempat terakhirnya adalah tempat sampah. Sisa buah, sayuran, nasi basi dan limbah organik rumah tangga lainnya bercampur dengan sampah anorganik, lalu menunggu diangkut. Persoalannya, ketika sampah hanya dipindahkan dari rumah ke tempat pembuangan, sesungguhnya masalah belum selesai.

Tim pengabdian masyarakat beserta warga Kelurahan Rejomulyo Kediri berfoto bersama serah terima hibah komposter alat pengolah sampah organik MOL.
Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kemendikti Saintek 2026 bersama kelompok Bank Sampah Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri, berfoto bersama saat penyerahan hibah komposter alat pengolahan sampah organik menjadi Mikroorganisme Lokal (MOL) dan kompos. (Foto: Dok. Tim PKM Rejomulyo).

Di sinilah cara pandang kita perlu diubah.

Sampah organik sebenarnya masih memiliki nilai. Ia dapat diolah menjadi Mikroorganisme Lokal atau MOL yang kemudian dimanfaatkan sebagai bioaktivator dalam proses pengomposan. Dengan pendekatan sederhana, sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah dapat kembali menjadi bagian dari proses produksi.

Ini bukan semata persoalan teknologi. Ini persoalan kesadaran.

Pengelolaan sampah berbasis masyarakat atau Community-Based Waste Management menempatkan warga bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku utama. Masyarakat dilibatkan sejak memilah, mengolah hingga memanfaatkan kembali sampah yang dihasilkan.

Pengalaman pemberdayaan bersama kelompok Bank Sampah di Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri, memperlihatkan bahwa perubahan dapat dimulai dari hal sederhana. Limbah buah busuk dan nasi basi yang selama ini mudah dianggap tidak berguna diperkenalkan sebagai bahan pembuatan MOL. Masyarakat tidak hanya diberi teori, tetapi diajak mempraktikkannya secara langsung.

Namun, ada satu jebakan yang harus dihindari: menganggap pelatihan sebagai akhir dari sebuah program.

Pelatihan sehari, dua hari, atau beberapa kali tidak otomatis melahirkan perubahan perilaku. Setelah fasilitator pulang dan kegiatan berakhir, teknologi yang diberikan bisa saja kembali menjadi benda yang tersimpan di sudut ruangan.

Karena itu, keberlanjutan justru menjadi ujian sebenarnya.

Pembentukan Sentra Produksi MOL dan Pengomposan, pendampingan, monitoring partisipatif, hingga penguatan organisasi dan manajemen menjadi penting agar pengetahuan tidak berhenti sebagai pengetahuan.

Teknologi pun tidak harus mahal dan rumit. Drum plastik, jerigen, ayakan kompos, komposter aerob, hingga mesin pencacah organik skala komunitas dapat menjadi sarana pendukung. Tetapi teknologi hanyalah alat. Ia tidak akan banyak berarti tanpa manusia yang mampu dan mau menggunakannya.

Karena itu, membicarakan sampah sebenarnya adalah membicarakan manusia.

Apakah masyarakat memiliki pengetahuan untuk memilah? Apakah ada ruang bagi warga untuk terlibat? Apakah Bank Sampah memiliki kelembagaan yang kuat? Apakah ada pendampingan setelah program selesai?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar berapa banyak tempat sampah yang tersedia.

Kita membutuhkan perubahan dari budaya “buang” menjadi budaya “kelola”. Dari melihat sampah sebagai beban menjadi melihatnya sebagai sumber daya. Dari masyarakat sebagai penerima program menjadi masyarakat sebagai pemilik solusi.

Kegiatan di Rejomulyo menunjukkan bahwa langkah tersebut tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Memilah sampah, membuat MOL, mengolah kompos dan membangun kelembagaan adalah langkah sederhana. Namun, langkah sederhana akan memiliki dampak besar ketika dilakukan secara konsisten dan bersama-sama.

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya tentang ke mana sesuatu yang tidak terpakai harus dibuang.

Persoalannya adalah apakah kita cukup memiliki pengetahuan dan kemauan untuk melihat sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi sesuatu yang bermanfaat.

MOL dan kompos mungkin terlihat sederhana. Tetapi di balik kesederhanaan itu ada gagasan yang jauh lebih besar: masyarakat yang mampu mengelola sampahnya sendiri adalah masyarakat yang sedang belajar mengelola masa depannya.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Tahun Pendanaan 2026.

Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak berhenti pada upaya mengurangi timbunan. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi proses membangun pengetahuan, keterampilan, kemandirian dan kesadaran masyarakat agar mampu mengubah sampah organik menjadi sumber daya yang bermanfaat.

Dari sampah menjadi MOL, dari MOL menjadi kompos, dan dari pengelolaan sederhana lahir masyarakat yang semakin mandiri.(*)