SURABAYA, Wartatransparansi.com — Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Jawa Timur menggelar forum group discussion (FGD) bertajuk Gen Z Melek Politik: Dari Apatis Jadi Kritis sebagai langkah konkret merumuskan strategi mendekatkan politik kepada generasi muda secara lebih relevan dan humanis.
Kegiatan yang digelar di Kantor DPD Partai Golkar Jawa Timur, Rabu (29/4/2026), ini menjadi ruang dialog terbuka antara partai politik dan generasi Z yang selama ini kerap dianggap apatis terhadap isu politik.
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, Ali Mufthi, menegaskan komitmen partainya untuk membuka ruang seluas-luasnya bagi keterlibatan anak muda.
“Ini adalah kegiatan yang didesain oleh kaderisasi dan AMPG Jawa Timur dalam rangka merumuskan strategi inovasi mengelola partai. Kami persilakan Gen Z untuk bergabung, kami sangat welcome,” ujarnya.
Menurutnya, FGD ini tidak berhenti pada diskusi semata, melainkan akan menghasilkan silabus kurikulum pendidikan politik yang lebih adaptif bagi generasi muda. “Silabus ini akan menjadi acuan dalam pendidikan politik ke depan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua AMPG Jawa Timur, Adiel Muhammad Kanantha, menekankan pentingnya pendekatan baru dalam menjangkau Gen Z yang dinilai tidak bisa lagi disentuh dengan metode konvensional.
“Kita tidak bisa menyalahkan anak muda yang apatis. Justru kita harus memahami cara berpikir mereka, termasuk dari sisi mental dan emosional,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya juga melibatkan perspektif psikologis untuk memahami karakter Gen Z yang kritis namun sensitif terhadap pola komunikasi yang tidak sehat. Karena itu, AMPG mendorong terciptanya ruang diskusi yang terbuka, setara, dan bebas tekanan.

“Jangan sampai diskusi justru memunculkan mental blocking atau denial. Kita ingin komunikasi yang sehat, tanpa emosi dan tanpa paksaan,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, AMPG Jatim mulai mengemas pendekatan politik melalui aktivitas yang dekat dengan keseharian anak muda, seperti olahraga dan komunitas hobi.
“Kita masuk lewat hati. Anak muda sekarang kritis, jadi kita dekati melalui hal-hal yang mereka sukai seperti fun padel, soccer, dan kegiatan komunitas,” ujarnya.
Selain itu, AMPG juga memperluas rekrutmen kader muda hingga tingkat kabupaten/kota dengan mendorong pengurus daerah aktif menjaring potensi generasi baru.
Adiel menilai, peran Gen Z akan sangat menentukan dalam kontestasi politik mendatang, khususnya pada 2029.
“Gen Z bukan hanya pendukung, tapi akan menjadi pencari suara. Ini tantangan besar bagi kami untuk benar-benar menyentuh kesadaran politik mereka,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya keterlibatan perempuan muda sebagai bagian dari regenerasi politik yang inklusif.
FGD ini menjadi sinyal pergeseran pendekatan politik—dari yang sebelumnya formal dan satu arah menjadi lebih dialogis, inklusif, dan berbasis empati. AMPG berharap, pendekatan tersebut mampu mengubah stigma politik menjadi ruang partisipasi yang relevan dan bermakna bagi generasi muda.
(fir/min)






