Percepatan Revitalisasi Kawasan Makam Taman Bungkul, Surabaya Bidik Wisata Religi Berbasis Cagar Budaya

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Disbudporapar Surabaya, Herry Purwadi

Surabaya, Wartatransparansi.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) terus memacu penataan kawasan makam di Taman Bungkul dan sekitarnya.

Upaya ini diarahkan untuk mengoptimalkan kawasan sebagai destinasi wisata religi tanpa mengabaikan nilai historisnya sebagai cagar budaya.

Penataan kawasan ini menjadi perhatian serius sejak dilakukannya inspeksi mendadak (sidak) pada 15 Januari 2025, yang kemudian dilanjutkan dengan pembahasan dalam hearing bersama Komisi D DPRD Surabaya.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Disbudporapar Surabaya, Herry Purwadi, menjelaskan bahwa hingga kini proses revitalisasi masih berjalan dan melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).

“Perkembangannya, kawasan tersebut akan ditata agar lebih bersih dan rapi karena merupakan bagian dari cagar budaya. Penataan mencakup pengelolaan area makam hingga sentra wisata kuliner (SWK) di sekitarnya,” kata Herry, Kamis (16/4/2026).

Ia menambahkan, pembenahan ini diharapkan mampu menghadirkan kawasan yang lebih nyaman dan representatif, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Dengan konsep tersebut, Taman Bungkul diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga berkembang sebagai salah satu destinasi wisata religi unggulan di Surabaya.

Meski progres terus berjalan, Herry mengakui bahwa jadwal pasti pelaksanaan belum dapat ditentukan. Saat ini, proses masih berada pada tahap koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Dinas Cipta Karya dan pihak pengelola SWK.

“Masih dalam tahap koordinasi. Kami belum bisa memastikan waktunya, tetapi kami optimistis dalam waktu dekat akan terlihat perubahan signifikan,” ujarnya.

Selain fokus pada penataan fisik, Pemkot Surabaya juga mengedepankan pendekatan humanis kepada warga yang bermukim di sekitar kawasan makam. Langkah ini dilakukan guna memastikan proses penataan berjalan kondusif.

Herry mengungkapkan, mayoritas warga telah memahami status lahan sebagai aset milik pemerintah kota dan menunjukkan sikap terbuka terhadap rencana penataan, termasuk kemungkinan relokasi.

“Komunikasi terus kami bangun. Warga sejauh ini kooperatif dan bersedia mendukung proses penataan,” imbuhnya.

Ke depan, Pemkot Surabaya menargetkan revitalisasi kawasan Taman Bungkul dapat berjalan lancar tanpa menimbulkan konflik sosial. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha dinilai menjadi faktor penting dalam mewujudkan kawasan wisata religi yang tertata dan berkelanjutan.

“Harapannya, seluruh potensi wisata dan cagar budaya di Surabaya bisa dikelola secara maksimal, sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan daya tarik wisata kota,” pungkas Herry. (*)

Penulis: Fahrizal Arnas