BLITAR, WartaTransparansi.com – Sebagai bentuk penghormatan pada leluhur, warga Lingkungan Jati malang, Kelurahan Sentul, Kota Blitar gelar acara bersih desa yang jatuh pada bulan selo. Refleksi ini diwujudkan dengan acara nyadran atau kenduri di petilasan Eyang Ngabehi Wirogati seorang yang dikenal sebagai telek sandi Mataram.
Lantas siapakah Eyang Ngabehi Wirogati tersebut?. Menurut cerita dari berbagai sumber, ia adalah salah satu putra dari Adipati Jepara yaitu Tumenggung Martopuro, sedangkan dari pihak Ibu RA Wongsodipo keturunan dari Sunan Tembayat Klaten.
Adipati Jepara, Tumenggung Martopuro dan RA Wongsodipo mempunyai tujuh anak diantaranya, Sujonopuro, Jogo Manggolo, Wirogati, Tanu Manggolo, Wongso Promo, Himo Rekso dan Wiro Mantri.
Tumenggung Martapura diangkat pada masa akhir geger keratin Mataram pada tahun 1677 penguasa ini yang terkait dalam aliansi Mataram dan VOC pada tahun 1678 terlibat peperangan dengan Tumenggung Martalaya yang anti VOC. Adipati Martapura tewas dengan tikaman keris Kyai Sepuh dan Adipati Martalaya tewas dengan tikaman keris Kyai Kasur.
Setelah ayah Ngabehi Wirogati meninggal dunia, Kadipaten Jepara dipimpin kakaknya, Tumenggung Sudjanapura yang iangkat oleh Sunan Amangkurat II pada tahun 1678 sebagai pengganti ayahnya Tumenggung Martapura yang amat setia pada Sunan dan terbunuh melawan Tumenggung Martalaya.
Kedatangannya Wirogati ke Blitar diprediksi karena perang antara Keraton Plered Sunan Pakubuwana I atau Panger dengan Keraton Kartasura (Amangkurat II) meletus pada bulan November 1680.
Dalam pengembaraannya, Wirogati bersama istrinya singgah di suatu wilayah yang banyak pohon jatinya dan banyak yang tumbang tau melintang berserakan tak karuan. Setelah membabat wilayah tersebut, akhirnya Wirogati menamai desa tersebut dengan nama Jatimalang (jati tumbang).
Wirogati di Desa Jatimalang, mempunyai empat anak yang masing-masing diberi nama, Ponjtoharjo, Mangun, Djowongso dan Djojohardjo (tidak mempunyai keturunan). Dari ketiga anaknya Wirogti ini Desa Jatimalang menjadi sebuah pedukuhan yang sangat ramai dan keturunannya tersebar sampai ke mana-mana.
Wirogati meninggal dunia di Desa Jatimalang dan dimakamkan pekuburan Swangsan yang berada di wilayah Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Pemakaman Swangsan ini dikenal sebagai pemakaman Mataram (kuburan para keturunan bangsawan Mataram yang ada di Blitar). Sedangkan Istri Wirogati disemayamkan di pemakaman umum Desa Jatimalang.
Sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur setiap bulan Selo warga Jatimang bergotong-royong menggelar acara bersih desa. Gelaran ini biasanya menyuguhkan berbagai kegiatan berupa kirap budaya dan tumpengan, penyajian, kesenian tradisional, Nyadran di makam leluhur doa bersama. (*)










