KEDIRI – Sarung bukan sekadar pakaian yang identik dengan keseharian santri. Di tangan perempuan muda Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Kediri, sarung menjadi bagian dari permainan yang menguji kelincahan, strategi, dan kekompakan. Gobak sodor sarungan pun hadir sebagai cara berbeda untuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026.
Sebanyak 28 tim dari ranting Fatayat NU se-Kota Kediri mengikuti lomba permainan tradisional gobak sodor sarungan di Salim Sport Center MAN 2 Kota Kediri. Kegiatan tersebut tidak hanya mempertemukan peserta dalam sebuah kompetisi, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat tradisi sekaligus mempererat silaturahmi antarkader.
Di arena permainan, gobak sodor menuntut setiap anggota tim untuk membaca pergerakan lawan, mencari celah, dan menyusun strategi bersama. Sarung menambah tantangan karena peserta harus menyesuaikan langkah dan gerakan agar bisa melewati penjagaan lawan. Kekompakan menjadi bagian penting dalam upaya mencapai kemenangan.
Ketua PC Fatayat NU Kota Kediri, Dewi Nafi’ah, S.Th.I., mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026. Menurut dia, lomba itu dirancang bukan semata-mata untuk mencari pemenang, melainkan menghidupkan kembali permainan tradisional Indonesia, khususnya di kalangan perempuan muda.
“Kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, tetapi juga menjadi upaya kami untuk melestarikan permainan tradisional Indonesia, khususnya di kalangan perempuan muda, sekaligus mempererat silaturahmi antar-ranting Fatayat NU se-Kota Kediri,” ujarnya, Minggu 25 Oktober 2026.
Pemilihan gobak sodor, menurut aktivis yang akrab disapa Dewi, sarungan juga memiliki alasan tersendiri. Permainan tersebut mengandung nilai kekompakan, strategi, kedisiplinan, kelincahan, hingga sportivitas. Nilai-nilai itu sejalan dengan semangat kebersamaan yang ingin dibangun melalui kegiatan organisasi.
Bagi Fatayat NU, tradisi dan budaya santri tidak harus selalu dihadirkan melalui kegiatan formal. Permainan tradisional dapat dikemas secara kreatif dan menyenangkan tanpa kehilangan nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan cara itu, peringatan Hari Santri menjadi ruang untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi muda.
Rangkaian kegiatan diawali pertandingan persahabatan antara tim PC Fatayat NU Kota Kediri dan Tim Penggerak PKK Kota Kediri. Pertandingan tersebut menjadi pembuka sebelum para peserta dari 28 ranting bertanding dalam lomba utama.
Dewi menyampaikan terima kasih kepada PCNU Kota Kediri, Pemerintah Kota Kediri, seluruh pihak pendukung, peserta, dan pihak lain yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan.
Dia berharap lomba gobak sodor sarungan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali permainan tradisional sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, nilai sebuah permainan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berhasil melewati garis akhir. Kejujuran, sportivitas, persaudaraan, dan kebahagiaan yang dibawa pulang setiap peserta menjadi bagian penting dari kemenangan yang sesungguhnya.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, memberikan sambutan positif terhadap penyelenggaraan perlombaan Gobak Sodor Sarungan yang diinisiasi oleh Fatayat NU dalam rangka memperingati Hari Santri. Kegiatan ini dinilai tidak hanya menjadi wadah pelestarian budaya, tetapi juga sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepahlawanan.
Ia mengungkapkan bahwa permainan tradisional gobak sodor tersebut sangat sejalan dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh para santri terdahulu, seperti gotong royong, kebersamaan, kedisiplinan, dan ketangguhan dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Dengan adanya permainan ini, saya berharap bahwa nilai-nilai ini nanti bisa diaplikasikan bagi pesertanya di kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Selain aspek historis dan nilai kebersamaan, Vinanda juga menekankan pentingnya sportivitas. Meskipun para peserta harus adu strategi di lapangan, ia mengingatkan agar setelah perlombaan selesai, seluruh peserta tetap saling bermaaf-maafan guna menghindari gesekan sosial.
Ketika disinggung mengenai tantangan mengenakan sarung saat bermain, ia memastikan bahwa jalannya pertandingan berlangsung aman dan lancar.
“Alhamdulillah enggak, aman-aman, saja mas.” tuturnya.
Melihat tingginya antusiasme dan dampak positif dari kegiatan ini, Pemerintah Kota Kediri bersama PCNU dan para santri berkomitmen untuk terus berkolaborasi serta memfasilitasi kegiatan serupa pada perayaan Hari Santri, dan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada tahun mendatang.
“Kegiatan positif ini merupakan tradisi yang harus kita lestarikan. Saya berharap permainan ini bisa dibudayakan di sekolah misalnya lewat ekstrakurikuler KORMI maupun di tingkat kelurahan pada momen 17-an. Selain biayanya murah, ini juga sarana olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh bersama,” tutupnya.
Pada akhirnya, gobak sodor sarungan mengingatkan bahwa kebersamaan tidak selalu harus dibangun melalui pertemuan formal. Lapangan permainan pun dapat menjadi ruang untuk belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, dan merawat kegembiraan bersama.
Permainan boleh berasal dari masa lalu, tetapi nilai yang dibawanya tetap relevan hari ini. Selama masih ada orang yang bersedia memainkannya dan mewariskannya kepada generasi berikutnya, gobak sodor bukan sekadar kenangan.(*)







