Musim kemarau belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Matahari terus memanggang tanah di Dusun Karangpocok, Desa Sibon, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan. Di kampung yang dikelilingi perbukitan itu, air bersih berubah menjadi barang yang paling berharga. Bagi sebagian orang, seember air mungkin terasa biasa. Namun bagi warga di dusun ini, setiap tetesnya adalah harapan.
Di sebuah rumah sederhana, Maulita memulai hari dengan menghitung sisa air yang tersedia. Ember-ember di sudut rumah menjadi penentu apakah keluarganya yang beranggotakan enam orang masih bisa memasak, mencuci, atau sekadar memenuhi kebutuhan dasar hari itu.
Saat kemarau datang, sungai yang selama ini menjadi andalan tak lagi mampu menyediakan air yang layak. Alirannya tinggal sedikit, berwarna keruh, dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Meski begitu, sungai itu tetap menjadi pilihan untuk mandi.
“Kalau mandi ya masih di sungai. Airnya sedikit dan baunya tidak enak,” tutur Maulita, Sabtu (1/8/2026)
Untuk mendapatkan air minum, perjuangannya jauh lebih berat. Ia harus menempuh perjalanan sekitar lima kilometer menuju desa tetangga hanya untuk membawa pulang beberapa jeriken air bersih. Rutinitas itu terus berulang setiap musim kemarau tiba.
“Biasanya kami menunggu truk tangki air datang, tapi sering kali tidak ada yang datang,” ujarnya.
Harapan itu akhirnya datang ketika sebuah mobil tangki milik Palang Merah Indonesia (PMI) memasuki dusun. Warga bergegas membawa ember, jeriken, dan berbagai wadah penampung air.
Antrean terbentuk dengan tertib. Tak ada yang berebut, karena mereka sama-sama memahami betapa berharganya bantuan tersebut.
Bagi Maulita, air yang dibagikan PMI bukan sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan itu menjadi penyelamat bagi keluarganya untuk memasak, minum, dan menjalani aktivitas tanpa harus terus-menerus menempuh perjalanan jauh mencari air.
“Alhamdulillah, air dari PMI sangat membantu. Bisa dipakai untuk memasak dan kebutuhan sehari-hari,” katanya dengan wajah lega.
Perasaan serupa dirasakan Pak Andar, seorang lansia yang tinggal tidak jauh dari rumah Maulita. Bersama lima anggota keluarganya, ia juga harus menghadapi sulitnya memperoleh air bersih setiap musim kemarau. Selama ini mereka mengambil air dari lokasi yang cukup jauh, sementara untuk mandi masih mengandalkan sungai yang debit airnya terus menyusut.
“Kami sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih dari PMI. Sekarang tidak perlu mencari air terlalu jauh untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Bagi Pak Andar, air yang mengalir dari selang mobil tangki PMI bukan hanya memenuhi ember dan jeriken. Air itu mengurangi beban perjalanan yang melelahkan, memberi rasa tenang bagi keluarganya, sekaligus memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi di tengah musim yang belum juga menghadirkan hujan.
Kisah Maulita dan Pak Andar hanyalah sepotong cerita dari banyak warga yang menghadapi krisis air bersih selama kemarau. Di Dusun Karangpocok, seember air memiliki makna yang jauh melampaui fungsinya. Di balik setiap ember yang terisi, tersimpan perjuangan untuk bertahan hidup, ketabahan menghadapi keterbatasan, dan kepedulian yang hadir melalui uluran tangan sesama.
Melalui layanan distribusi air bersih, PMI menghadirkan lebih dari sekadar bantuan kemanusiaan. Di tengah tanah yang mengering dan sumber air yang semakin menipis, bantuan itu mengalirkan harapan—bahwa di saat kesulitan datang, selalu ada tangan yang siap membantu mereka yang membutuhkan. (*)







