banner 400x130
Kediri  

HMI Cabang Kediri Siapkan Kader Perumus Solusi Krisis Ekologi, Energi, dan Pangan

Prosesi penyerahan cinderamata pada pembukaan Training Raya Nasional LK2 HMI Cabang Kediri 2026 di Balai Kota Kediri.
Pengurus HMI Cabang Kediri menyerahkan plakat penghargaan saat Opening Ceremony Training Raya Nasional (LK2 & SC) 2026 di Balai Kota Kediri, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini mengusung isu strategis ketahanan ekologi, energi, dan pangan. (Foto: Moch. Abi Madyan).

KEDIRI WartaTransparansi.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kediri menegaskan peran kader tidak cukup berhenti sebagai pengamat persoalan bangsa. Melalui Training Raya Nasional 2026 yang berlangsung di Wisma Yohanes, Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, pada 1–6 Agustus 2026, organisasi mahasiswa tersebut menyiapkan kader yang mampu merumuskan solusi berbasis riset untuk menjawab tantangan ketahanan ekologi, energi, dan pangan.

Pelatihan yang menggabungkan Intermediate Training atau Latihan Kader II (LK2) dan Senior Course (SC) itu diikuti 44 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Selain memperkuat kapasitas kepemimpinan, seluruh peserta ditantang menghasilkan gagasan ilmiah yang dapat menjadi rekomendasi bagi pembangunan daerah maupun nasional.

Ketua Majelis Daerah Korps Alumni HMI (MD KAHMI) Kediri, Imam Wihdan Zarkasyi, mengatakan isu ekologi, energi, dan pangan merupakan persoalan strategis yang membutuhkan kajian mendalam. Menurutnya, setiap solusi harus dibangun melalui proses intelektual yang kuat dan ditopang data lapangan.

“Kristalisasi pemikiran itu tidak bisa dikerjakan sebentar. Kita tidak ingin tiba-tiba punya solusi yang langsung dipaksakan tanpa kecukupan data. Jangan sampai keputusannya tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya usai menjadi pemateri Stadium General LK2 HMI Cabang Kediri di Balai Kota Kediri, Sabtu 1 Agustus 2026.

Ia menilai pertemuan kader dari berbagai daerah menjadi modal penting untuk memperkaya perspektif dalam menyusun rekomendasi kebijakan.

Setiap peserta datang dengan pengalaman, keberhasilan, sekaligus tantangan yang berbeda sehingga proses diskusi tidak berhenti pada teori, tetapi bertumpu pada realitas yang dihadapi masyarakat.

“Masing-masing peserta membawa kebaikan dan keunggulan dari daerahnya, sekaligus membawa masalah atau kekurangan yang bisa dicari solusinya bersama-sama,” jelasnya.

Menurut Imam, budaya kader HMI yang mengikuti jenjang perkaderan di luar daerah asal juga menjadi kekuatan organisasi dalam membangun jejaring dan memperluas wawasan.

“Sama seperti saya dulu, LK2 juga tidak di kota asal. Kader HMI Punya gairah untuk mencari informasi dan berinteraksi di lahan yang lebih luas. Kader Kediri pun dikirim ke banyak tempat. Justru dinamika ini bikin jangkauan solusinya jadi lebih lebar,” jelas Imam.

Ia berharap seluruh proses diskusi selama pelatihan melahirkan rumusan yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi daerah, termasuk Kabupaten dan Kota Kediri.

“Kita berharap forum ini melahirkan rumusan yang jelas. Interaksi antarpeserta ini menjadi modal berharga bagi kader HMI Kediri untuk membawa pulang kaya informasi dan perspektif baru demi kemajuan daerah,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Kediri, Chanivan Ibadi F.H., mengatakan Training Raya Nasional 2026 mengombinasikan LK2 yang diikuti 34 peserta dan Senior Course yang diikuti 10 peserta. Mereka berasal dari berbagai daerah, mulai Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, hingga Sumatra.

Ketua Umum HMI Cabang Kediri Chanivan Ibadi F.H. memberikan keterangan pers saat doorstop wawancara media didampingi Ketua MD KAHMI Kediri Imam Wihdan Zarkasyi.
Ketua Umum HMI Cabang Kediri, Chanivan Ibadi F.H. (tengah), memberikan keterangan kepada awak media didampingi Ketua Ketum MD KAHMI Kediri, Imam Wihdan Zarkasyi (kanan), di depan Ruang Joyoboyo Balai Kota Kediri, Sabtu (1/8/2026). (Foto: Moch. Abi Madyan).

Menurut Chanivan, seluruh peserta diwajibkan menyusun jurnal ilmiah sesuai tema pelatihan sebagai syarat utama kelulusan. Karya ilmiah tersebut diharapkan tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi juga menawarkan solusi atas berbagai persoalan yang berkembang.

“Sesuai dengan tema yang kami usung terkait dengan ketahanan energi, ekologi, dan juga pangan, ini menjadi salah satu syarat kelulusan peserta, yang mana teman-teman nanti akan membuat jurnal ilmiah terkait dengan tema tersebut, yang harapannya nanti bisa menjawab persoalan dan tantangan energi, ekologi, dan pangan sampai dengan hari ini,” kata Chanivan.

Ia menjelaskan antusiasme kader dari luar Pulau Jawa menunjukkan semangat yang tinggi untuk menempuh jenjang perkaderan HMI.

“Selain memang karena faktor geografis, ini merupakan semangat yang memang saya yakin dimiliki oleh setiap kader HMI dalam menunaikan perkaderan, jenjang perkaderan teman-teman semuanya. Yaitu bagian dari jenjang training, merupakan dari kewajiban kader HMI untuk melanjutkan jenjang training mereka ke tingkat yang lebih lanjut,” tegasnya.

Chanivan menambahkan, tema ketahanan ekologi, energi, dan pangan dipilih karena berkaitan langsung dengan tantangan yang sedang dihadapi Indonesia maupun dunia. Bencana alam, konflik geopolitik, hingga penguatan ketahanan pangan nasional menjadi alasan utama tema tersebut diangkat dalam pelatihan.

“Salah satu alasan tema ini kami angkat yaitu karena memang faktor kita seperti lihat Aceh kemarin belum lama, kemudian kita melihat faktor energi yang kemarin efek konflik di Timur Tengah, kemudian jangan lupa pangan yang hari ini menjadi salah satu program prioritas dari pemerintah Prabowo, ini juga harus betul dikawal betul oleh teman-teman kader HMI dan seluruh teman-teman LSM yang ada seperti itu,” paparnya.

Untuk memperdalam materi, panitia menghadirkan 20 pemateri pada kelas LK2 dan 15 pemateri pada kelas Senior Course. Para narasumber berasal dari kalangan akademisi, pengurus PB HMI, tokoh alumni HMI, hingga pengamat politik nasional.

Melalui Training Raya Nasional 2026, HMI Cabang Kediri ingin memastikan proses perkaderan tidak berhenti pada pembentukan karakter kepemimpinan. Forum ini diarahkan menjadi ruang lahirnya gagasan yang berbasis penelitian, adaptif terhadap tantangan zaman, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kebijakan di bidang ekologi, energi, serta pangan.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan