Dalam forum yang digelar di Hotel JS Luwansa tersebut, Emil memaparkan kekuatan ekonomi Jawa Timur yang dinilai mampu menjadi penopang pertumbuhan nasional. Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada Triwulan I Tahun 2026 mencapai 5,96 persen secara year on year, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
“Jawa Timur menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa sekaligus nasional. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Jatim sebagai Gerbang Baru Nusantara,” kata Emil.
Kontribusi ekonomi Jawa Timur tercatat mencapai 25,16 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa dan 14,40 persen terhadap perekonomian nasional. Struktur ekonomi daerah juga ditopang sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian yang menyerap jutaan tenaga kerja.
Selain itu, Emil menyoroti keunggulan konektivitas dan logistik Jawa Timur. Pelabuhan Tanjung Perak disebut melayani 24 dari 41 rute tol laut nasional, sehingga hampir 80 persen distribusi logistik menuju 19 provinsi di Indonesia Timur disuplai dari Jawa Timur.
“Posisi ini menjadikan Jawa Timur sebagai hub logistik nasional yang menghubungkan kawasan barat dan timur Indonesia,” ujarnya.
Menurut Emil, kekuatan tersebut diperkuat dengan dukungan infrastruktur strategis berupa 12 ruas jalan tol, 37 pelabuhan, tujuh bandara, 13 kawasan industri, dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), serta satu kawasan industri halal.
Dalam kesempatan itu, Emil juga menekankan pentingnya penguatan Kelompok Usaha Bank (KUB) sebagai strategi transformasi Bank Pembangunan Daerah (BPD) agar tetap kompetitif di tengah tantangan industri perbankan global.
Ia berharap KUB Bank Jatim dapat menjadi role model penguatan sektor perbankan nasional melalui kolaborasi sehat dan produktif antaranggota KUB.
“KUB harus dipandang sebagai strategi transformasi bersama, bukan sekadar pemenuhan regulasi,” tegasnya.
Emil menilai tantangan perbankan saat ini semakin kompleks, mulai dari perlambatan ekonomi global, disrupsi digital, perubahan perilaku nasabah, hingga risiko siber. Karena itu, BPD dinilai tidak bisa berjalan sendiri-sendiri dan membutuhkan penguatan skala serta sinergi antardaerah.
Ia juga mengapresiasi kinerja Bank Jatim sepanjang Tahun Buku 2025 yang dinilai solid dan resilien. Transformasi digital Bank Jatim menunjukkan capaian positif dengan lebih dari 993 ribu pengguna aplikasi JConnect dan nilai transaksi digital mencapai Rp65,77 triliun.
Rapat Kerja Tahunan 2026 KUB Bank Jatim turut dihadiri anggota KUB di antaranya Bank NTB Syariah, Bank NTT, Bank Banten, Bank Sultra, dan Bank Lampung, serta perwakilan OJK dan sejumlah narasumber nasional. (*)






