HASIL Survei Nasional Q1 Muda Bicara ID yang menempatkan sejumlah gubernur dalam daftar 10 terbaik versi anak muda justru menyisakan tanda tanya besar.
Absennya Gubernur Jawa Timur, di tengah banyaknya penghargaan yang telah diraih, memunculkan ironi sekaligus membuka ruang kritik terhadap metodologi penilaian yang digunakan.
Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans) menyoroti kelemahan mendasar dalam pendekatan survei tersebut. (Wartatransparansi, tanggal 30 April 2026)
Ia menilai, penilaian yang hanya berfokus pada figur gubernur secara individu tidak mencerminkan realitas kepemimpinan daerah. Pemerintahan provinsi bukanlah kerja personal, melainkan hasil kolaborasi antara gubernur dan wakil gubernur beserta seluruh perangkatnya.
Kritik ini bukan tanpa dasar. Dalam praktiknya, banyak kebijakan strategis, program pembangunan, hingga capaian penghargaan merupakan buah dari kerja kolektif. Mengabaikan peran wakil gubernur dalam penilaian kinerja sama saja dengan menyederhanakan kompleksitas tata kelola pemerintahan.
Lebih jauh, hasil survei ini justru mengindikasikan adanya bias persepsi di kalangan responden, atau bahkan keterbatasan instrumen yang digunakan dalam mengukur kinerja. Ketika indikator seperti kebijakan publik, ekonomi, dan kesehatan mental generasi muda dinilai tanpa melihat struktur kepemimpinan secara utuh, maka hasilnya berpotensi tidak representatif.
Jika pendekatan parsial terus dipertahankan, bukan tidak mungkin penilaian publik akan semakin menjauh dari realitas. Survei seharusnya menjadi alat refleksi yang objektif, bukan sekadar potret persepsi yang terfragmentasi.
Ke depan, lembaga survei perlu merumuskan metodologi yang lebih komprehensif dan kontekstual. Penilaian kinerja kepala daerah seharusnya berbasis pada kerja tim, sinergi kepemimpinan, serta dampak nyata kebijakan di lapangan. Tanpa itu, hasil survei hanya akan menjadi angka-angka yang kehilangan makna substantif. (*)



