Ketika Ilmu Tidak Lagi Melahirkan Akhlaq

Di zaman ini, ilmu berkembang begitu cepat. Sekolah semakin tinggi, gelar semakin panjang, dan akses pengetahuan terbuka lebar di mana-mana. Informasi dapat diperoleh hanya dengan sentuhan jari.

Namun di saat yang sama, kita juga menyaksikan kegelisahan sosial yang tidak sedikit. Tutur kata terasa semakin kasar, orang mudah saling merendahkan, dan perbedaan sering kali disikapi dengan kemarahan. Bahkan tidak jarang semua itu terjadi atas nama ilmu dan agama.

Di sinilah pertanyaan penting muncul: antara ilmu dan akhlaq, mana yang seharusnya kita dahulukan?

Islam sejak awal sangat memuliakan ilmu. Tidak ada keraguan sedikit pun tentang hal itu. Bahkan wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah SAW adalah perintah membaca, belajar, dan berpikir. Bukan perintah sholat, bukan pula perintah berpuasa.

Allah SWT berfirman, “Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?” Tentu tidak.

Ilmu adalah cahaya. Dengan ilmu seseorang mengenal Tuhannya. Dengan ilmu seseorang memahami syariat-Nya. Dengan ilmu pula manusia mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa ilmu adalah jalan menuju akhirat. Ilmu menjadi sarana bagi manusia untuk mengenal Allah dan memahami perintah-perintah-Nya.

Karena itu sejak dahulu para ulama hidup dalam semangat tholabul ilmi—belajar tanpa henti. Mereka mengaji, membaca, menelaah, dan terus menimba ilmu sepanjang hayat.

Namun di tengah semangat menuntut ilmu itu, ada pertanyaan yang patut kita renungkan bersama:

Apakah setiap ilmu yang kita miliki benar-benar mendekatkan diri kepada Allah?
Apakah ilmu membuat kita semakin rendah hati?
Atau justru membuat kita semakin mudah merendahkan orang lain?

Fenomena yang kita lihat hari ini sering kali menunjukkan kegelisahan itu. Banyak orang pandai berbicara, tetapi sulit menjaga lisan. Banyak yang luas wawasannya, namun sempit hatinya. Banyak yang rajin berdebat, tetapi lupa pada adab.

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan dengan kalimat yang sangat tegas:
“Al-‘ilmu idza lam yu’mal bihi, kaana hujjatan ‘ala shahibihi.”
Ilmu yang tidak diamalkan justru akan menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya.
Artinya, semakin banyak ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawab akhlaqnya. Ilmu yang tidak melahirkan amal dan akhlaq bisa menjadi bumerang di hadapan Allah SWT.

Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam juga mengingatkan dengan ungkapan yang sangat dalam:
“Rubba ‘ilmin qarranahu al-ghurur.”
Betapa banyak ilmu yang justru mewariskan kesombongan kepada pemiliknya.

Tidak sedikit ilmu yang membuat seseorang tertipu oleh dirinya sendiri. Merasa paling benar, merasa paling paham, dan merasa paling layak berbicara.
Ilmu bertambah, tetapi hati tidak semakin lembut. Pengetahuan meluas, namun empati justru menyempit. Lisan fasih menyampaikan dalil, tetapi sulit menjaga adab.

Padahal dalam Islam, akhlaq memiliki posisi yang sangat penting. Bahkan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa misi utama kenabiannya adalah menyempurnakan akhlaq.
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”

Ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantani, dalam kitab Nashaihul Ibad juga menegaskan:
“Husnul khuluqi nishfud diin.”
Akhlak yang baik adalah separuh dari agama.

Akhlaq bukan sekadar urusan pikiran, tetapi bagian inti dari keberagamaan seseorang. Bahkan akhlaqlah yang sering menjadi wajah pertama Islam di mata orang lain.

Akhlaq membuat ilmu terasa menenangkan. Akhlaq menjadikan orang alim dicintai, bukan ditakuti. Akhlaq pula yang membuat perbedaan menjadi rahmat, bukan sumber permusuhan.
Karena itu para ulama sejak dahulu selalu mengajarkan adab sebelum ilmu.
“Al-adabu fauqal ‘ilmi.”
Adab berada di atas ilmu.
Seorang murid diajarkan untuk ta’dzim kepada guru, bersikap santun kepada sesama, dan rendah hati dalam perbedaan.

Bukan karena ilmu tidak penting. Tetapi karena ilmu tanpa adab akan kehilangan berkahnya.
Ilmu dan akhlaq sejatinya tidak boleh dipisahkan. Keduanya harus berjalan bersama.
Ilmu adalah cahaya, dan akhlaq adalah wadahnya.
Cahaya tanpa wadah dapat menyilaukan.

Sementara wadah tanpa cahaya akan gelap.
Imam Al-Ghazali mengatakan, ilmu adalah pemimpin dan akhlaq adalah pengikutnya. Ilmu harus membimbing akhlaq, dan akhlaq menjadi bukti hidup dari ilmu itu sendiri.

Ibnu Athaillah juga menegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah SWT.

Ilmu yang benar bukan sekadar membuat seseorang pandai berbicara. Ilmu yang benar justru membuat seseorang semakin tawadhu.

Semakin tahu, semakin sadar betapa kecil dirinya di hadapan Allah SWT.
Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk menata kembali hubungan antara ilmu dan akhlaq. Puasa tidak hanya melatih kita menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan ego.

Bukan hanya mengurangi makan, tetapi juga mengurangi kesombongan.
Hari ini kita tidak kekurangan orang pintar. Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang ilmunya melahirkan akhlaq, dan akhlaqnya lahir dari ilmu.

Sebagaimana petuah bijak para kiai dalam bahasa Jawa:
“Wong pinter iku akeh, nanging wong sing pinter lan bener iku sethithik.”
Orang pintar itu banyak, tetapi orang yang pintar sekaligus benar itu sedikit.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diberikan ilmu yang bermanfaat dan akhlaq yang mulia. Ilmu yang mendekatkan, bukan menjauhkan. Akhlaq yang menenangkan, bukan melukai.

Semoga pula Ramadhan ini menjadi Ramadhan yang memperbaiki ilmu kita dan memperindah akhlaq kita. (Dr Habsy, Mpd)