BLITAR, WartaTransparansi.com – Memperingati Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April kemarin, peran perempuan dalam kesetaraan gender sangat krusial sebagai agen perubahan yang setara, bukan sekadar pelengkap.
Sebagai perempuan harus berperan aktif dalam hal segala bidang seperti, pembangunan ekonomi, pengambilan keputusan, birokrasi, serta pendidikan keluarga.
“Peran aktif perempuan dalam kesetaraan gender mempunyai tujuan untuk menciptakan masyarakat yang adil, produktif, dan inklusif,” jelas Hj. Ratna Dewi Nirwana Sari S.S., S.H., M.Kn, kepada Muslimat NU Ranting Jatinom di Pondok Pesantren Maftahul Uluum Jatinom Blitar, Rabu (22/04/2026).
Legislator Gerindra tersebut mengatakan, sinergi antara partisipasi aktif perempuan dan dukungan lingkungan sangat penting. Perempuan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dengan melakukan aktifitas kerja membuka peluang kerja atau masuk dalam dunia kerja.
Dalam peran birokrasi dan politik, perempuan mengambil peran strategis dalam merumuskan kebijakan yang inklusif, responsif gender, dan memperkuat pemberantasan korupsi di berbagai struktur pemerintahan.
“Perempuan dalam keluarga juga mempunyai peran yang sangat luar biasa seperti mendidik anak agar berakhlak tahu budi pekerti. Dan menerapkan pola asuh yang tidak membedakan gender,” papar Ratna Dewi.
Untuk menerapkan kesetaraan gender, setidaknya perempua harus berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan untuk memastikan hak-hak perempuan terwujud dalam aspek sosial.
“Dalam membangun keadilan perempuan harus mampu mewujudkan kemitraan yang saling menghargai antara laki-laki dan perempuan. Saling menghargai ini harus dilakukan baik dalam keluarga maupun di ranah publik,” ujar Wakil Ketua DPC Gerindra Kabupaten Blitar ini.
Kepada Muslimat NU Jatinom, Ratna Dewi berpesan, sebagai perempuan harus bisa berkarya dan berjuang bersama untuk menghilangkan diskriminasi, kekerasan, serta mewujudkan keadilan sosial.
“Kita mempunyai kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan di semua sektor kehidupan, termasuk pendidikan, pekerjaan, dan kepemimpinan. Kesetaraan gender bukan sekadar perjuangan perempuan, melainkan hak asasi manusia yang menguntungkan semua pihak,” pungkas Ratna Dewi Nirwana Sari. (*)












