Kediri  

Pasar Ekspor Terpukul Perang, BI Kediri Dorong UMKM Lirik Asia dan Jalur Domestik

Deputi BI Kediri Deasi Surya Andarina memberikan keterangan kepada media terkait kondisi ekonomi 2026 di Ngasem Kediri.
Deputi Perwakilan Bank Indonesia Kediri Deasi Surya Andarina memberikan keterangan kepada awak media usai kegiatan HARMONI di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Selasa 14 April 2026. (Foto: Moch Abi Madyan).

KEDIRI WartaTransparansi.com – Konflik global yang tengah berkecamuk mulai memberikan dampak nyata bagi sektor industri ekspor di wilayah Kediri. Salah satu komoditas yang paling terdampak adalah industri arang disinyalir yang selama ini mengandalkan pasar Timur Tengah sebagai tujuan utama pengiriman.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri melalui Deputi Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri, Deasi Surya Andarina, mengungkapkan bahwa situasi perang menyebabkan terjadinya penurunan kuota pesanan hingga penghentian permintaan ekspor secara total dari negara-negara terdampak. Menghadapi situasi ini, BI mendorong pelaku UMKM untuk segera melakukan diversifikasi pasar agar roda produksi tetap berputar.

“Salah satu caranya adalah bagaimana pengusaha-pengusaha UMKM atau industri-industri ekspor ini bisa mencari celah atau bisa mencari peluang-peluang baru,” ujarnya saat ditemui di Kediri, Selasa di Tempat Bercakap Kopi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Selasa 14 April 2026.

Dea menambahkan, pengusaha tidak boleh terpaku pada satu wilayah tujuan saja. Jika pasar utama seperti Arab Saudi terganggu, pelaku usaha harus berani menjajaki negara-negara lain yang cenderung stabil.

“Kalau dulu itu tujuan utama ekspornya itu hanya ke misalnya hanya ke Arab saja gitu. Nah sekarang harus cari penjajakan lagi yang baru, oh misalnya ada di Asia yang lain, misalnya ada di negara mana ya, Vietnam atau negara-negara di Asia yang mungkin tidak terdampak perang,” lanjutnya.

Selain pasar internasional, Dea juga menekankan pentingnya mengoptimalkan potensi pasar dalam negeri. Menurutnya, kebutuhan arang di wilayah lain di Indonesia masih sangat terbuka lebar.

“Atau bisa juga di dalam negeri. Jadi misalnya arang, oh ternyata ada lho kebutuhan arang itu di misalnya Sumatera, atau di Kalimantan, atau di Sulawesi. Nah itu kan bisa juga tercipta perdagangan dalam negeri,” tuturnya.

Selain tantangan global, BI Kediri juga menyoroti kesiapan produsen pangan lokal dalam menyongsong Program Makan Bergizi (MBG). Dea memprediksi program tersebut akan memicu lonjakan permintaan komoditas seperti telur, beras, dan buah-buahan. Ia meminta para petani untuk meningkatkan kapasitas produksinya melampaui capaian tahun-tahun sebelumnya.

“Berarti harus antisipasi dari produsennya. Jadi produsen ini maksudnya petani itu harus siap-siap mempersiapkan stok, mempersiapkan pasokan sebelum adanya gangguan cuaca itu tadi,” tegas Dea.

Diskusi Bank Indonesia Kediri bersama media dalam kegiatan HARMONI di Ngasem Kabupaten Kediri membahas kondisi ekonomi 2026.
Deputi Perwakilan Bank Indonesia Kediri Deasi Surya Andarina menyampaikan paparan kondisi ekonomi global dan regional dalam kegiatan HARMONI bersama insan media di Ngasem, Kabupaten Kediri, Selasa 14 April 2026. (Foto: Moch Abi Madyan).

Ia memberikan gambaran konkret mengenai intensifikasi lahan. “Kalau tahun lalu tidak ada MBG, misalnya petani semangka hanya cukup bertani produk panennya misalnya 2 ton. Nah dengan sekarang ada MBG, permintaan pertama ya dia sudah harus memikirkan, oh berarti nanti akan ada peningkatan lebih dari 2 ton. Berarti saya mungkin lahannya atau misalnya cara bercocok tanamnya yang lebih intensifikasi lagi supaya menghasilkan lebih dari 2 ton,” jelasnya.

Menutup keterangannya, Dea menegaskan bahwa BI akan terus berfokus pada pengendalian inflasi, khususnya dari sektor pangan yang sangat dipengaruhi oleh stabilitas pasokan dan cuaca.

Sementara untuk sektor energi, pihaknya tetap bersinergi dengan kebijakan pemerintah pusat dalam mencari sumber energi baru yang lebih berkelanjutan.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan