Oleh: Djoko Tetuko (Wakil ketua bidang Organisasi PWI Pusat)
“Menyelamatkan Rentak dari Berbagai Keretakan Anak Bangsa”
(Ketika Industri Pers Indonesia Merana, Ketika Kedaulatan Informasi Terjajah, Ketika Ancaman Ekonomi Nasional Mengangah, Ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia antara Terlupakan atau Masih Terjaga)
Ketika ancaman dunia pers Indonesia pada titik nadir terendah, ketika semua terasa membara. Takdir mencatat semua terjadi, rentak sebagai getaran keretakan di semua ekosistem dihadapi anak bangsa, seperti masa-masa proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Peristiwa saat itu dan saat ini terjadi pada bulan suci Ramadhan.
Hari ini memasuki puasa wajib di bulan suci Ramadhan, pada sepuluh hari kedua (pertengahan). Dimana secara khusus disabdakan Nabi Muhammad SAW, tempat memperoleh Maghfiroh. Tentu saja dengan banyak mendekatkan diri kepada sang khalik serta selalu melafalkan istighfar. Berlomba-lomba mengetuk pintu langit tertinggi dengan istighfar untuk memohon jalan keluar.
Mengapa? Karena maghfirah adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti ampunan atau perlindungan dari Allah SWT atas dosa-dosa hamba-Nya. Secara bahasa, ia bermakna “menutupi dan melindungi,” yaitu menutupi dosa dari pandangan manusia dan melindunginya dari hukuman. Maghfirah adalah bentuk kasih sayang Allah agar manusia terhindar dari dampak buruk dosa.
Istighfar ialah permohonan ampun kepada Allah SWT atas segala dosa, kesalahan, atau kelalaian yang dilakukan manusia. Secara bahasa, ia bermakna menutupi atau memperbaiki, dan diucapkan dengan kalimat Astaghfirullah (Aku memohon ampun kepada Allah) atau Astaghfirullahaladzim (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung).
Melafalkan istighfar bertujuan memohon ampunan sebagai bentuk pengakuan diri atas dosa dan usaha untuk kembali taat (bertaubat), memohon agar kesalahan ditutupi dan dihapuskan oleh Allah SWT.
Begitu agung melafalkan istighfar pada bulan Ramadhan, terutama secara khusus pada sepuluh hari kedua. Mengingat memohon ampunan kepada Allah adalah kunci keberkahan, rezeki melimpah (hujan, harta, anak), kekuatan, dan penghindar azab. Istighfar merupakan bentuk ketaatan yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat serta ampunan atas segala dosa.
Berikut adalah beberapa ayat Al-Qur’an yang memerintahkan dan menjelaskan keutamaan istighfar: Surat Ali ‘Imran (ayat 135) bahwa istighfar adalah ciri orang bertakwa. “… dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya…”
Surat Nuh (ayat 10-12) bahwa Istighfar mendatangkan rezeki dan keberkahan.
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan mengadakan sungai-sungai untukmu’.”
Surat Al-Anfal (ayat 33) bahwa Istighfar penghindar azab. “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampunan.”
Surat Hud (ayat 3) bahwa istighfar perintah untuk mendapatkan kenikmatan. “Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan…”
Surat Ghafir (ayat 55) bahwa perintah istighfar bagi kaum mukmin. ” … dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”
Bukan rahasia lagi, bahwa istighfar membuka pintu rejeki, menurunkan hujan, menambah harta dan anak. Bahkan, mendatangkan Kebaikan serta memberikan kenikmatan yang baik. Semoga ancaman semakin tajam pada industri pers dan berdampak pada ketahanan ekonomi nasional, mendapat jalan keluar baik dan terbaik.
Mengingat, di balik itu, sebagai bagian janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa istighfar akan menjadi pelindung dari Azab. Mengingat Allah tidak mengazab hamba yang beristighfar. Juga penghapus dosa-dosa yang disengaja atau tidak disengaja.
Allah SWT Maha Pengampun, memerintahkan dengan lafal istighfar menjadi amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan setiap saat, terutama setelah mengerjakan ibadah dan di waktu pagi maupun petang. Apalagi pada sepuluh hari kedua bulan suci Ramadhan.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syuabul Imam dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Sahih Ibnu Khuzaimah, dikutip dari laman NU Online. “Awal bulan Ramadhan adalah Rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka.
Seraya melaksanakan perintah Allah SWT sebagaimana difirmankan pada Surat Al Baqarah (ayat 152). Dimana memerintahkan umat Islam untuk selalu mengingat Allah (dzikir) dengan bersyukur dan tidak ingkar nikmat, agar Allah mengingat mereka.
Fadzkurûnî adzkurkum wasykurû lî wa lâ takfurûn. (“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”)
Sedangkan (ayat 153) menegaskan agar orang beriman menjadikan sabar dan salat sebagai penolong dalam menghadapi cobaan, karena Allah beserta orang-orang yang sabar.
Yâ ayyuhalladzîna âmanusta’înû bish-shabri wash-shalâh, innallâha ma’ash-shâbirîn.
(“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”)
Sebagai bekal mengisi sepuluh hari kedua bulan suci Ramadhan. Maka dzikir atau mengingat Allah dengan hati, lisan (tasbih/tahmid), dan ketaatan, balasan dari Allah dengan limpahan pahala, ampunan, dan pertolongan. Sedangkan bersyukur dengan nikmat Allah untuk ketaatan, bukan maksiat.
Begitu juga sabar dan sholat sebagai penjaga dan penguatan puasa. Dengan sendirinya
sabar akan mampu menahan diri dari hawa nafsu, amarah, dan teguh dalam ketaatan serta cobaan.
Sedangkan mendirikan sholat sebagai sarana penguat jiwa dan penghubung hamba dengan Allah.
Kedua ayat ini merupakan panduan bagi orang beriman untuk senantiasa terhubung dengan Allah dalam situasi lapang (dengan bersyukur/mengingat-Nya) maupun sempit (dengan sabar dan salat). Mari berlomba-lomba istighfar memohon ampunan. Tentu saja dengan dzikir, bersyukur, sabar dan sholat. Sehingga secara ghoib pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dari berbagai arah akan hadir dalam setiap kebaikan dan niat ibadah.
Jalan keluar ghoib itu, secara khusus semoga industri pers segera membaik, kedaulatan informasi merdeka (kemerdekaan pers terjaga), ketahanan ekonomi nasional terselamatkan, kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia senantiasa berkat Rahmat Allah SWT tetap “merdeka” secara sungguh-sungguh.
Jalan ghoib lain, orang orang yang beriman dan menjalankan ibadah puasa secara sungguh-sungguh dan totalitas, merasakan getaran istighfar mampu menyelamatkan hentak rentak berbagai keretakan anak bangsa. Terutama menghadapi Ketentuan Digital dalam Perjanjian Perdagangan RI- Amerika Serikat. (*)