Oleh Djoko Tetuko – Komisaris Utama Media Koran Transparansi
TUJUAN utama Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat Islam yang beriman berpuasa di bulan suci Ramadhan, sebagaimana diperintahkan kepada umat yang beriman (Agama Samawi) terdahulu, adalah usaha mencapai derajat takwa.
Agama Samawi (Agama Langit) adalah agama yang bersumber dari wahyu Tuhan yang diturunkan melalui malaikat kepada nabi atau rasul, ditandai dengan konsep tauhid (monoteisme mutlak) dan kitab suci yang otentik. Tiga agama utama dalam kategori ini adalah Yahudi, Kristen, dan Islam, yang semuanya mengajarkan keesaan Tuhan.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) pada Surat Al Baqarah 183;
ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumush-shiyamu kama kutiba ‘alalladzina ming qablikum la‘allakum tattaqun (artinya) Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Seperti diketahui Tafsir Wajiz dan Tafsir Tahlili menjelaskan bahwa berpuasa adalah ikhtiar adalah upaya mendidik jiwa, mengendalikan syahwat, dan menyadarkan bahwa kelebihan manusia jika tidak dikendalikan melalui puasa dapat lebih berbahaya jiwa dan syahwatnya dibandingkan hewan, sehingga pendidikan menjauhkan larangan melalui puasa adalah jalan menuju derajat takwa.
Hari ini Senin (16 Maret 2026) berdasarkan perhitungan pemerintah melalui Menteri Agama, memasuki kewajiban puasa Ramadhan hari ke-26, berarti tinggal hitungan jari saja, bulan suci Ramadhan akan berpamitan kembali ke orbitnya. Dan harus sabar menunggu 12 bulan lagi ke depan, jika ingin bertemu lagi. Itu berarti berlomba-lomba ibadah wajib dan sunnah di bulan milik manusia (umat Nabi Muhammad SAW) dengan berbagai keunggulan akan segera berakhir.
Maka secara general mengukur apakah orang orang beriman, ketika berpuasa dan memanfaatkan berbagai amal ibadah wajib dan sunnah secara optimal atau maksimal atau biasa-biasa saja, apakah sudah mampu mencapai derajat takwa. Tentu saja dengan mudah jika bersama sama introspeksi dengan mengingatkan masing-masing kita, firman Allah SWT pada Surat Al Imran 133-134;
wa sari‘u ila maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘ardluhas-samawatu wal-ardlu u‘iddat lil-muttaqin (133; artinya)
Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
alladzina yunfiquna fis-sarra’i wadl-dlarra’i wal-kadhiminal-ghaidha wal-‘afina ‘anin-nas, wallahu yuhibbul-muhsinin
(134; artinya, yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Tafsir Wajiz dan Tafsir Tahlili menjelaskan bahwa secara kasat mata selama bulan suci Ramadhan semua orang beriman berlomba lomba mengharapkan rahmat, ampunan, dan memohon dijauhkan dari api neraka. Sehingga perintah Surat Al Imran 133 sudah dilaksanakan, umat Islam yang diperintahkan berlomba meningkatkan kualitas ketakwaan, sudah melakukan berbagai aktifitas ibadah. Bahkan sudah bersegera dengan saling mendahului untuk mencari ampunan dari Allah SWT, dengan menyadari kesalahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan mengerjakan amalan-amalan yang diridoi Allah untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Tentu saja, selama bulan suci Ramadhan potret umat Islam yang beriman, sebagian besar sudah berlomba-lomba mengikuti perintah sebagaimana Surat Al Imran 133, bahkan dengan samar berharap mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, tentu dengan kesungguhan serta keikhlasan.
Tetapi semua itu hanya jalan menuju derajat takwa. Sekedar mengingatkan pada Surat Al Imran 134, yang dengan tegas sudah jelas, memberi kreteria jika ingin mencapai derajat takwa atau bertakwa, maka umat Islam yang beriman, termasuk golongan orang beriman kreteria pertama, yaitu terus-menerus berinfak di jalan Allah, baik di waktu lapang, mempunyai kelebihan harta setelah kebutuhannya terpenuhi, maupun sempit, yaitu tidak memiliki kelebihan.
Kedua, orang-orang yang mampu menahan amarahnya akibat faktor apa pun yang memancing kemarahan).
Ketiga, memaafkan kesalahan orang lain. Dan akan sangat terpuji orang yang mampu berbuat baik terhadap orang yang pernah berbuat salah atau jahat kepadanya.
Dimana ganjaran atau pahala bagi mereka, umat Islam beriman sebagaimana kreteria di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) mengingatkan, yang demikian itulah akan memproha cinta dan limpahan rahmat Allah SWT tiada henti kepada orang yang berbuat kebaikan seperti itu.
Tidak mudah memang meraih derajat takwa, apalagi mengukur dengan tolok ukur sebagaimana Surat Al Imran 134, tetapi sesuatu yang tidak mungkin bagi umat Islam yang beriman, ketika sudah melatih dalam kehidupan sehari-hari, terutama di bulan suci Ramadhan, juga tidak kalah penting mendapat rahmat dan ridlo Allah SWT. Maka jika Allah berkehendak seperti membalikkan tangan.
Apalagi di Indonesia, mengukur takwa itu juga akan nampak ketika umat Islam dan warga negara Indonesia berhari raya Idul Fitri, tempat dimana umat manusia saling menyadari untuk maaf dan memaafkan. Tanpa melihat warna kulit, suku, agama, dan bangsawan atau rakyat. Bahkan dengan kesungguhan menginfakkan sedikit atau banyak hartanya untuk menyenangkan dan meringankan beban saudaranya yang kurang mampu.
Sedang hangat dalam pemberitaan adalah Rismon Hasiholan Sianipar, tersangka kasus tuduhan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), membalikkan arah dengan mengakui keaslian ijazah Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka pada Maret 2026. Ia meminta maaf langsung ke Jokowi di Solo dan mengajukan Restorative Justice (RJ) ke Polda Metro Jaya setelah menemukan kekeliruan dalam kajiannya. Pro kontra atas peristiwa ini pasti akan terus menggeliat dari sudut pandang berbeda-beda. Bagi umat Islam yang beriman, mari melihat dari sisi mengukur ketakwaan. Sehingga tidak mudah menuduh salah atau benar. Tetapi lebih memilih kehendak Ilahi Robbi adalah kehendak suci.
Berbagai upaya menyikapi peristiwa dan introspeksi atas diri sendiri dalam ibadah dan mencapai derajat takwa. Jauh lebih berkualitas ketika mampu menahan amarah, dalam menyikapi berbagai rentak kehidupan yang kadang keras, kadang lemah lembut menyakitkan. Semua wajib diserahkan bahwa semua itu semata-mata untuk mencari keridhaan Allah SWT. Menerima takdir dengan ikhlas. Mari melakukan berbagai aktifitas ibadah menuju derajat takwa dengan sungguh-sungguh dan memohon kemudahan dari Allah SWT. Juga menanti rahmat dan ridloNya dengan terus menerus berdoa dan berusaha. InsyaAllah harapan mencapai derajat takwa akan terpenuhi. *Man Jadda wa Jadda. (artinya) “Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia pasti akan berhasil”. (*)