Oleh Djoko Tetuko Abdul Latief – Dirut PT. Media Koran Transparansi
JIKA malam terakhir Ramadhan tiba, langit dan bumi, serta para Malaikat menangis karena merupakan musibah bagi umat Nabi Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam (SAW).
Begitu agung bulan Ramadhan yang tinggal menunggu hitungan detik saja, meninggal umat Islam, ternyata membuat langit, bumi, dan para Malaikat pun menangis. Ramadhan 1447 Hijriyah, totalitas ibadah sudah digelar dengan meluangkan waktu beserta niat ibadah, mulai puasa wajib hingga sholat tarawih (yang hanya berlangsung setahun sekali).
Belum lagi berbagai amal ibadah, termasuk i’tikaf 10 malam akhir Ramadhan yang merupakan tradisi Nabi Muhammad bersama keluarga. Juga memburu janji Alloh Subhanahu wa Ta’ala, ketika menurunkan satu malam lebih baik dari amal ibadah selama 1000 bulan (83 tahun).
Begitu Agama Islam menjaga keseimbangan antara kualitas spritual dan kesehatan, maka setelah puasa wajib satu bulan penuh, kemudian diberi iming-iming puasa sunnah Syawal, guna menyempurnakan puasa seperti puasa selama satu tahun. Apalagi digambarkan bahwa berakhirnya bulan sangat mulai bulan sangat luar biasa, banyak keistimewaan telah berakhir.
Bahkan zakat fitrah sebagai pelengkap sekaligus pembeda, karena menjadi pembersih amal ibadah puasa wajib selama satu bulan Ramadhan, dan ibadah sia-sia lainnya, sehingga zakat fitrah menjadi sangat bermakna.
Sebagaimana diketahui, zakat fitrah bermakna sebagai penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kotor selama Ramadhan, sekaligus penyempurna ibadah puasa. Zakat fitrah juga wujud kepedulian sosial untuk berbagi kebahagiaan dengan fakir miskin agar dapat merayakan Idul Fitri bersama-sama, menyucikan harta, dan melatih keikhlasan.
Sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib, menyedekahkan semua simpanan pangannya di akhir Ramadhan sebagai bentuk refleksi atas pedihnya lapardan syukur atas rejeki.
Selain itu, ketika musibah atau umat Islam kehilangan amal ibadah di bulan istimewa, maka Allah SWT menyiapkan ibadah sebagai jalan menyempurnakan, diibaratkan seperti puasa selama 1 tahun, ketika puasa sunnah pada bulan Syawal. Inilah satu keseimbangan ketika Malaikat, bumi dan langit menangis karena pahala istimewa untuk umat Islam sudah berakhir. Maka diberi janji seperti puasa1 tahun.
Dan ketika keseimbangan kesehatan setelah puasa satu bulan penuh, maka janji pahala puasa sunnah Syawal membantu menjaga keseimbangan perut supaya tidak kaget dan mampu melakukan transisi ritme ibadah.
Mengingat, puasa Ramadan membawa perubahan signifikan pada metabolisme tubuh, pola makan, dan gaya hidup. Secara fisiologis, tubuh beralih menggunakan cadangan energi (glikogen ke lemak) setelah 8-12 jam, meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan kolesterol jahat, dan detoksifikasi. Pola makan bergeser ke sahur/berbuka, serta aktivitas harian menyesuaikan ritme ibadah.
Melakukan puasa sunnah setelah puasa wajib, merupakan langkah awal aklimitisasi tubuh umat Islam. Mengingat aklimatisasi manusia adalah proses penyesuaian fisiologis tubuh secara singkat terhadap perubahan lingkungan ekstrem—seperti panas, dingin, atau ketinggian—untuk mengurangi stres fisik.
Ini melibatkan adaptasi sistem kardiovaskular, pernapasan, dan metabolisme agar tubuh dapat beraktivitas dengan efisien dan aman di lingkungan baru, biasanya berlangsung selama 1-2 minggu. Hal itu juga berlaku setelah puasa wajib di bulan suci Ramadhan.
Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshari, di mana Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutkannya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka itu seperti puasa setahun penuh”.
Hadits lain, “Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutkannya enam hari dari bulan Syawal, maka seperti puasa satu tahun.” (HR Muslim: 1164).
Musibah Ramadhan Berakhir
Ramadhan berakhir dimaknai sebagai musibah besar bagi umat Islam karena berakhirnya waktu mustajab doa, diterimanya sedekah, dan dilipatgandakannya kebaikan. Kepergiannya membuat langit, bumi, dan malaikat bersedih karena hilangnya peluang maghfirah dan rahmat Allah. Hal ini adalah kehilangan kesempatan emas beribadah.
Hadits diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. dari Nabi SAW. Disebutkan bahwa malam terakhir Ramadhan adalah musibah bagi umat Muhammad karena hilangnya kesempatan beramal, terkabulnya doa, sedekah diterima, dan ditolaknya azab. Hadits (Riwayat Jabir):
“Jika malam terakhir Ramadhan, langit dan bumi, serta para Malaikat menangis karena merupakan musibah bagi umat Nabi Muhammad SAW.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, musibah apakah itu?” Rasulullah menjawab, “Perpisahan dengan bulan Ramadhan, karena di dalamnya doa-doa dikabulkan, sedekah diterima, kebaikan dilipatgandakan, dan azab ditolak.”
Makna Ramadhan berakhir merupakan musibah karena waktu emas di mana rahmat Allah turun, pintu surga dibuka, dan setan dibelenggu, telah berakhir pula.
Menjaga keseimbangan spritual dan kesehatan umat Islam, maka dengan memulai langkah awal membayar zakat fitrah (bagi yang mampu maupun yang terbatas, hingga sebelum sholat Idul berlangsung), menebar maaf dengan saling memaafkan, juga mengikuti ajaran untuk puasa sunnah Syawal 6 hari sepanjang bulan Syawal.
Bahkan jauh lebih dahsyat menjaga tenun ibadah selama bulan Ramadhan dengan dzikir, syukur, sholat dan sabar. Supaya Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) senantiasa datang memberi rahmat dan ridloNya. Juga mengurangi tetes air mata langit, bumi dan para Malaikat. (*)