banner 400x130

Misi Dagang Jatim-Arab Saudi Catat Potensi Transaksi Rp6,71 Triliun

JEDDAH — Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatat potensi transaksi perdagangan senilai Rp6.716.785.201.275 atau sekitar Rp6,71 triliun dalam Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur di Jeddah, Arab Saudi, Kamis (24/9). Nilai tersebut berasal dari pertemuan bisnis yang mempertemukan pelaku usaha Jawa Timur dengan sekitar 50 perusahaan dan kelompok usaha Arab Saudi.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, transaksi tersebut mencerminkan terbukanya peluang ekspansi perdagangan sekaligus investasi antara kedua wilayah. Komoditas yang ditransaksikan mencakup produk industri, pangan, fesyen, hingga kebutuhan pendukung logistik haji dan umrah.

Produk yang ditawarkan antara lain briket dan arang kayu, suku cadang kendaraan, lembaran kaca, kertas, baterai dan aki, produk plastik, bahan kimia, RBD palm oil, mesin industri, pakan ternak, susu, kopi, teh, rempah-rempah, produk olahan ikan dan daging, rendang, bumbu pecel, tuna kaleng, alpukat, serta produk fesyen berbasis wastra dan bordir.

“Besarnya nilai potensi transaksi menunjukkan terbukanya ruang kerja sama yang luas antara pelaku usaha Jawa Timur dan Arab Saudi,” kata Khofifah.

Menurutnya, komitmen bisnis tersebut perlu segera ditindaklanjuti melalui pembahasan kebutuhan produk, kapasitas pasokan, standar, sertifikasi, serta regulasi perdagangan di masing-masing negara agar potensi transaksi dapat direalisasikan menjadi perdagangan aktual.

Jawa Timur juga menawarkan kapasitasnya sebagai basis rantai pasok regional. Provinsi ini memiliki 13 kawasan industri, dua Kawasan Ekonomi Khusus, satu kawasan industri halal, 37 pelabuhan, tujuh bandara, dan 12 ruas jalan tol.

Pelabuhan Tanjung Perak disebut melayani 24 dari 41 rute tol laut nasional, sehingga Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam distribusi logistik menuju kawasan Indonesia Timur.

Dari sisi industri halal, Jawa Timur memiliki Halal Industrial Park Sidoarjo, 15 Lembaga Pemeriksa Halal di luar LPH LPPOM, Sucofindo dan Surveyor Indonesia, 85 LP3H, serta 16.424 pendamping proses produk halal. Infrastruktur tersebut diperkuat laboratorium halal dan 196 RPH halal.

Khofifah menyebut ekosistem tersebut dapat menjadi basis pengembangan pasokan pangan, produk olahan, fesyen, jasa, hingga logistik untuk kebutuhan haji dan umrah.

Hubungan dagang kedua wilayah juga menunjukkan surplus bagi Jawa Timur. Pada Januari–Juni 2026, ekspor Jawa Timur ke Arab Saudi mencapai US$74,68 juta, sedangkan impor sebesar US$24,28 juta. Dengan demikian, surplus perdagangan tercatat US$50,40 juta.

Dalam periode 2022–2026, Misi Dagang Luar Negeri Jawa Timur telah mencatat total transaksi Rp33,17 triliun melalui 122 transaksi. Khusus dengan Arab Saudi, sebelumnya tercatat tiga transaksi senilai Rp8,12 miliar.

“Jawa Timur ingin hadir bukan hanya sebagai daerah penghasil, tetapi juga sebagai mitra strategis,” ujar Khofifah. (*)