SURABAYA, Wartatransparansi.com — Turnamen ITF Junior International Widjojo Soejono 2026 kembali menjadi salah satu panggung bagi petenis muda dari berbagai negara. Memasuki penyelenggaraan ke-43, turnamen tenis junior internasional ini bakal menghadirkan peserta dari sekitar 20 negara.
Direktur Turnamen Widjojo Soejono, Didik Utomo Pribadi, mengatakan hingga saat ini sekitar 20 negara telah memastikan keikutsertaannya. Dari jumlah tersebut, peserta asing diperkirakan mencapai sekitar 150 atlet.
“Untuk sementara yang sudah kami komunikasikan dengan referee internasional, sudah ada 20 negara. Di antaranya Jepang, Korea, Cina, Singapura dan Filipina,” ujar Didik.
Secara keseluruhan, jumlah peserta diproyeksikan mencapai sekitar 550 petenis. Selain nomor ITF, turnamen juga mempertandingkan kelompok usia 8, 10, 12, 15 dan 16 tahun.
Untuk kelompok usia tersebut, sekitar 200 peserta telah mengonfirmasi keikutsertaan dan jumlahnya masih dapat bertambah hingga pendaftaran ditutup.
Salah satu hal yang membedakan penyelenggaraan tahun ini adalah penggunaan sistem round robin pada nomor ITF. Format tersebut membuat pemain tidak langsung terhenti hanya karena mengalami satu kekalahan.
Dalam sistem round robin, para pemain akan lebih banyak mendapatkan kesempatan bertanding sebelum memasuki fase eliminasi.
Didik mengatakan perubahan sistem tersebut merupakan ketentuan dari International Tennis Federation (ITF), bukan keputusan panitia lokal.
“Round robin ini bukan kami yang menentukan, tetapi ITF. Konsekuensinya waktu pertandingan menjadi lebih panjang dan biaya operasional juga meningkat,” jelasnya.
Meski membutuhkan persiapan lebih besar, panitia melihat sistem tersebut memberikan keuntungan bagi para petenis junior. Mereka mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman bertanding lebih banyak.
Terlebih, turnamen ini diikuti pemain dari sejumlah negara dengan tradisi tenis kuat seperti Jepang, Korea dan Cina.
“Kalau sebelumnya pemain dari luar negeri sekali kalah langsung selesai. Dengan sistem ini mereka mendapat kesempatan lebih banyak untuk bertanding,” katanya.
Lima Lokasi Disiapkan
Banyaknya peserta membuat panitia harus menyiapkan sejumlah venue pertandingan. Tahun ini pertandingan dijadwalkan berlangsung di lima lokasi di Surabaya.
Kelima lokasi itu adalah lapangan tenis UNISA Lidah Wetan, Kodam V Brawijaya, Marinir Gunung Sari, PDAM dan Pratama.
Khusus nomor yang masuk kalender ITF, pertandingan dipusatkan di lapangan tenis UNISA Lidah Wetan.
Pemilihan beberapa venue dilakukan untuk menghindari penumpukan pertandingan dan waktu tunggu yang terlalu panjang bagi pemain.
Menurut Didik, jika pertandingan hanya dipusatkan di dua lokasi, banyak pemain berpotensi harus menunggu hingga larut malam untuk mendapatkan giliran bertanding.
UNISA dinilai memiliki fasilitas yang mendukung kebutuhan turnamen internasional. Venue tersebut memiliki lapangan indoor dan outdoor yang dapat dimanfaatkan untuk pertandingan hingga malam hari.
Selain lapangan, fasilitas pendukung bagi pemain, pelatih dan perangkat pertandingan juga menjadi pertimbangan.
“Fasilitas UNISA cukup representatif. Ada dua lapangan indoor dan empat outdoor yang bisa digunakan maksimal. Tempat istirahat pemain, pelatih dan wasit juga tersedia,” tuturnya.
Panitia juga mendapatkan informasi mengenai rencana penambahan dua lapangan tenis di kawasan tersebut. Jika terealisasi, fasilitas itu dinilai semakin memperkuat kapasitas UNISA sebagai salah satu pusat pertandingan tenis.
Persiapan Pembukaan
Didik menyebut persiapan pelaksanaan turnamen saat ini sudah mencapai sekitar 90 persen. Panitia tinggal menyelesaikan sejumlah kebutuhan teknis menjelang kedatangan peserta dan pelaksanaan pertandingan.
Pembukaan ITF Junior International Widjojo Soejono 2026 dijadwalkan pada 28 September 2026 pukul 09.00 WIB di Lapangan Tenis Kodam V Brawijaya.
Ketua Umum PP Pelti Prof. Nurdin Halid dijadwalkan hadir untuk membuka turnamen secara resmi.
Sementara itu, pendaftaran peserta nomor ITF masih berlangsung hingga 7 September 2026. Karena itu, panitia belum dapat memastikan secara final nama-nama pemain unggulan yang akan tampil.
Namun, keberadaan petenis nasional junior dipastikan turut meramaikan turnamen tersebut.
“Untuk pemain nasional junior pastinya ada. Tetapi datanya belum bisa kami pastikan karena pendaftaran masih berjalan,” kata Didik.
Dorong Regenerasi Atlet
Lebih dari sekadar kompetisi, turnamen ini juga menjadi bagian dari proses regenerasi petenis muda. Didik menilai pembinaan yang dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan menjadi modal penting bagi Jawa Timur untuk mempertahankan prestasi tenis nasional.
Hal tersebut semakin penting menyusul adanya rencana pembatasan usia atlet pada ajang PON mendatang.
Berdasarkan pembahasan dalam Rakernas Pelti, terdapat rencana batas usia maksimal 25 tahun bagi atlet PON, dengan tetap memberikan ruang bagi satu atlet senior putra dan satu atlet senior putri.
Kondisi tersebut membuat pembinaan kelompok usia junior harus semakin diperkuat.
“Ini menjadi tantangan bagi kami. Mudah-mudahan dengan pembinaan yang berjenjang, berkesinambungan dan berkelanjutan, kami bisa melahirkan atlet-atlet yang nantinya mampu mendukung senior,” pungkas Didik.
Penyelenggaraan ITF Junior International Widjojo Soejono ke-43 diharapkan tidak hanya menjadi ajang perebutan prestasi, tetapi juga membuka pengalaman internasional bagi petenis muda Indonesia sekaligus memperkuat ekosistem pembinaan tenis di Jawa Timur. (*)







