JAKARTA — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mendorong pencak silat menjadi bela diri nasional yang semakin kuat di dalam negeri sebelum diperluas ke panggung internasional.
Hal itu disampaikan Erick saat menghadiri Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Besar (PB) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) periode 2026-2030 di Gedung Serba Guna Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta Timur, Sabtu (5/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Erick memberikan selamat kepada kepengurusan baru PB IPSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Sugiono yang juga menjabat Menteri Luar Negeri RI. Ia berharap kepengurusan baru mampu membawa pencak silat sebagai bela diri asli Indonesia menjadi platform global bangsa.
Menurut Erick, penguatan pencak silat harus dimulai dari gerakan nasional. Upaya tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan budaya dan tradisi sebagai bagian penting dari identitas bangsa.
“Bangsa besar adalah bangsa yang mengerti, mencintai, dan melakukan kebudayaan dan tradisi secara kontinu. Di situlah ada peran pencak silat yang berdasarkan budaya bangsa kita. Jadi pencak silat harus jadi napas dan gerakan nasional sebelum ke internasional,” kata Erick.
Ia menyebut salah satu peluang untuk membangun gerakan nasional tersebut dapat dilakukan melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) yang merupakan kerja sama Kemenpora dengan Kementerian PPN/Bappenas.
Program tersebut mencakup sekitar 241 ribu sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di seluruh Indonesia.
Erick menilai keberadaan pelatih pencak silat di setiap sekolah dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas pengenalan olahraga tersebut sejak usia dini.
“Kalau masing-masing SD dan SMP itu punya satu pelatih pencak silat, itu bisa jadi gerakan nasional. Bayangkan 241 ribu SD dan SMP di seluruh Indonesia kalau bisa mengampanyekan gerakan nasional pencak silat, pasti sangat maksimal,” ujarnya.
Selain lingkungan pendidikan, Erick juga mendorong TNI dan Polri menjadikan pencak silat sebagai salah satu bela diri yang wajib dikuasai. Menurutnya, pencak silat dapat menjadi bagian dari penguatan bela negara sekaligus memperkenalkan identitas budaya Indonesia.
“Kalau Korea punya taekwondo, Jepang punya karate dan judo, kenapa Indonesia tidak bisa?” tutur Erick.
Pemerintah juga mendukung ambisi menjadikan pencak silat sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade. Namun, Erick mengingatkan bahwa proses menuju pengakuan internasional membutuhkan perjuangan panjang dan pemenuhan berbagai persyaratan.
Selain regulasi olahraga internasional, aspek antidoping serta penguatan organisasi pencak silat di berbagai negara harus menjadi perhatian.
Erick menyebut saat ini kepengurusan pencak silat telah terbentuk di 83 negara. Jumlah tersebut telah melampaui syarat minimal 75 negara di empat benua.
Namun, ia menegaskan jumlah tersebut belum cukup. PB IPSI masih harus memastikan keberadaan pencak silat benar-benar tersebar di empat benua serta memiliki kompetisi kontinental yang digelar secara reguler.
“Harus ada pertandingan di Asia, Eropa, Pan Amerika, Afrika, dan Oceania. Jadi tentu ini yang harus kita mulai disiplinkan,” katanya.
Erick juga berharap pengembangan pencak silat tidak berhenti pada aspek olahraga dan budaya. Menurutnya, pencak silat berpotensi menjadi bagian dari industri olahraga dan sport tourism Indonesia.
Dengan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, PB IPSI, serta seluruh pemangku kepentingan, ia optimistis pencak silat dapat semakin berkembang dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Supaya bisa memberikan dampak, menjadi pergerakan yang tidak hanya bermanfaat bagi kemanusiaan, tetapi tentu juga pertumbuhan ekonomi yang dicita-citakan Bapak Presiden,” pungkasnya. (*)







