PENGELOLAAN sampah bukan lagi sekadar urusan membuang dan mengangkut. Di Jawa Timur, persoalan sampah mulai didorong menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, sekolah, komunitas hingga masyarakat.
Upaya tersebut berbuah penghargaan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur dinobatkan sebagai Provinsi Terbaik I Kategori Pengolahan Sampah dan Lingkungan Asri dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 yang digelar Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.
Penghargaan diserahkan langsung Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam acara di Bali Nusa Dua Convention Center, Badung, Bali, Jumat (28/8) malam.
Bukan hanya piagam penghargaan, Pemprov Jatim juga mendapatkan bantuan pemerintah sebesar Rp2 miliar.
Bagi Khofifah, penghargaan tersebut bukanlah hasil kerja pemerintah provinsi semata. Ada banyak tangan yang ikut menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di berbagai daerah di Jawa Timur.
“Alhamdulillah, kerja keras, komitmen dan kepedulian seluruh pihak dan masyarakat membuahkan apresiasi oleh Pemerintah Pusat,” ujar Khofifah.
Ia secara khusus mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak, termasuk unit SMA, SMK dan SLB negeri maupun swasta yang rutin melakukan kegiatan kurve atau bersih-bersih lingkungan.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak berhenti pada mengumpulkan sampah. Sampah yang terkumpul juga diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung program ketahanan pangan di sekolah.
Bagi Khofifah, pola seperti itu penting. Sebab, persoalan sampah tidak akan selesai jika hanya mengandalkan petugas kebersihan.
Sampah perlu dikelola sejak dari sumbernya. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat, sistem pengelolaan yang baik dan inovasi menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang bersih dan sehat.
Gerakan kurve pun terus digalakkan. Pemerintah, Forkopimda, komunitas, aktivis lingkungan, dunia pendidikan dan masyarakat diajak turun bersama membersihkan lingkungan, termasuk kawasan pantai dan sungai.
Lebih dari sekadar bersih-bersih, kegiatan itu menjadi ruang untuk membangun kembali budaya gotong royong.
“Aksi kurve atau bersih-bersih, baik di pantai maupun sungai, merupakan wujud nyata pentingnya budaya gotong royong lintas sektor dalam mengatasi persoalan sampah di Indonesia,” kata Khofifah.
Gerakan tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto melalui Gerakan Indonesia Asri.
Namun, pekerjaan rumah soal sampah tentu tidak selesai hanya dengan kegiatan kurve. Sampah yang sudah dikumpulkan tetap membutuhkan pengolahan hingga tahap akhir.
Karena itu, Pemprov Jatim mendorong solusi yang lebih panjang melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Pemprov Jatim telah melakukan Perjanjian Kerja Sama proyek PSEL bersama tujuh bupati dan wali kota di kawasan Surabaya Raya dan Malang Raya. Pengembangan ini diarahkan untuk membangun pengelolaan sampah yang lebih modern sekaligus menghasilkan energi berbasis teknologi ramah lingkungan.
Kapasitas awal PSEL Surabaya Raya direncanakan mencapai 1.100 ton sampah per hari. Angka itu berada di atas ketentuan minimal 1.000 ton sampah per hari sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 105 Tahun 2025.
Khofifah mengatakan, persoalan sampah membutuhkan solusi jangka panjang. Sampah yang selama ini dianggap sebagai masalah diharapkan bisa diubah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat.
“Bagaimana kita mentransformasi sebuah masalah menjadi potensi untuk lingkungan yang lebih baik, lebih sehat dan lebih bersih sekaligus berkelanjutan,” tuturnya.
Keseriusan tersebut juga terlihat dari capaian pengelolaan sampah Jawa Timur. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup RI per Maret 2026, capaian pengelolaan sampah Jatim mencapai 52,7 persen.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi secara nasional dan jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 24,95 persen.
Meski demikian, Khofifah mengingatkan agar penghargaan tidak membuat semua pihak berhenti bergerak.
Penghargaan tersebut justru harus menjadi pemacu untuk terus memperbaiki pengelolaan sampah dan menjaga lingkungan.
“Penghargaan ini tentu menjadi kebanggaan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana capaian ini menjadi energi untuk terus memperkuat pengelolaan sampah dan menjaga lingkungan Jawa Timur secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Mendagri Tito Karnavian turut memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang dinilai berhasil melakukan inovasi dan menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.
Menurut Tito, pengelolaan sampah membutuhkan strategi dari hulu ke hilir maupun sebaliknya. Ia menyebut Kota Surabaya sebagai salah satu daerah yang berhasil menerapkan pengelolaan tersebut.
“Banyak daerah yang sudah dan tengah berusaha mengimplementasikan kedua hal itu, ada yang berhasil ada yang belum. Salah satu yang berhasil adalah di Kota Surabaya, Jawa Timur,” puji Tito.
Tito juga mendorong kegiatan kurve terus menjadi kebiasaan. Pemerintah daerah diminta tidak hanya membuat aturan, tetapi ikut memberikan contoh kepada masyarakat.
Ia mencontohkan kegiatan bersih-bersih dapat dilakukan secara rutin di kantor dinas maupun kantor desa. Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan tersebut diharapkan tumbuh menjadi budaya di tengah masyarakat.
Prestasi Jawa Timur dalam ajang tersebut tidak berhenti pada tingkat provinsi. Sejumlah kabupaten dan kota di Jatim juga meraih penghargaan pada berbagai kategori.
Pada kategori Implementasi Program 3 Juta Rumah, penghargaan diraih Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Madiun dan Kota Surabaya.
Di kategori Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan, Kota Mojokerto menjadi Terbaik I, sedangkan Kota Surabaya meraih Terbaik III.
Sementara pada kategori Akses Penduduk terhadap Layanan Pendidikan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan, Kota Blitar dan Kota Madiun turut menjadi daerah berprestasi.
Untuk kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri, Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kota Blitar dan Kota Surabaya juga masuk jajaran daerah penerima penghargaan.
Deretan capaian itu menunjukkan bahwa menjaga lingkungan di Jawa Timur mulai bergerak menjadi kerja bersama.
Bagi Khofifah, penghargaan hanyalah salah satu penanda. Pekerjaan yang lebih penting adalah memastikan kebiasaan menjaga kebersihan terus hidup, dari lingkungan sekolah, kantor, desa, sungai hingga kawasan perkotaan.
Sebab, lingkungan yang asri tidak lahir dalam sehari. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama dan terus dijaga.
(fir/min)







