banner 400x130

“Bapak Angkat” : Mahasiswa dan Dosen Muda Umsida yang Sukses

Direktur Utama Media Koran Transparansi bersama Dr. Totok

Sidoarjo, Wartatransparansi. com – “Hendra mahasiswa dan dosen muda Umsida yang sukses, dan hari ini alhamdulillah berhasil meraih gelar Doktor dengan predikat memuaskan,” kata Dr Totok Wahyu Abadi, M.Si, Senin (10/8/2026) di Gedung Pascasarjana Universitas Hang Tuah Surabaya.

Doktor Hendra saat sambutan menyampaikan rasa syukur menyebut “bapak angkat” Ahmad Riyadh UB Phd, Dr Totok Wahyu Abadi, Dr. Isnaini Rodiyah, Dr. Didik Hariyanto. Hadir juga Dr. Poppy Febriana.

Hendra meneliti Wisata Bahari Tlocor di Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo berkembang di kawasan Pulau Lusi dan memerlukan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Sementara teori collaborative governance yang dikembangkan oleh Ansell dan Gash serta Emerson, Nabatchi, juga Balogh belum secara eksplisit menempatkan nilai budaya lokal sebagai dimensi substantif yang memengaruhi keberhasilan kolaborasi.

Selama penelitian, Hendra bertujuan untuk menganalisis kolaborasi stakeholder dalam pengembangan Wisata Bahari Tlocor berkelanjutan, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat kolaborasi, serta merumuskan rekomendasi model kolaborasi stakeholder yang adaptif dan berkelanjutan.

Penelitian menggunakan metode kualitatif dan dianalisa dengan model interaktif Miles Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi stakeholder telah berkembang melalui tata kelola multipihak, namun belum sepenuhnya kondusif karena masih terdapat ketidakselarasan kewenangan antarinstansi, harmonisasi kebijakan dan kerja sama formal yang belum optimal, implementasi konservasi lingkungan yang belum terstruktur, serta ketergantungan terhadap dukungan pemerintah dan rencana investasi eksternal.

Faktor pendukung kolaborasi meliputi potensi kawasan wisata yang khas, sinergi pemerintah daerah dan pemerintah desa,

kepastian regulasi, dukungan Kementerian Kelautan dan Perikanan, penyelenggaraan event wisata, serta kesiapan pelaku usaha lokal.

Sedangkan faktor penghambat meliputi ketidakjelasan kewenangan pengelolaan aset pada masa transisi, koordinasi lintas sektor yang belum optimal, keterbatasan sumber daya dan regenerasi pengelola, fluktuasi kunjungan wisata, serta kekhawatiran terhadap dominasi investor.

Penelitian menghasilkan rekomendasi model collaborative governance integratif yang mensinergikan principled engagement, shared motivation, dan capacity for joint action dengan dimensi new culture values, yang terdiri atas harmonisasi budaya Jawa-Madura, semangat gotong royong, rasa memiliki kolektif, dan relasi kekeluargaan sebagai faktor penguat kolaborasi, sehingga memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan tata kelola wisata bahari berkelanjutan berbasis masyarakat. (*)

Penulis: Djoko Tetuko