SURABAYA, WartaTransparansi.com – Satu hal yang masih melekat kuat dalam ingatan Sutamar hingga kini adalah pelajaran muhadhoroh. Bagi sebagian santri, latihan berpidato di depan banyak orang mungkin menjadi tantangan.
Namun bagi pria kelahiran Jember tahun 1959 itu, muhadhoroh justru menjadi bekal berharga yang mengiringi perjalanan hidup dan pengabdiannya.
“Saya sering tampil berpidato di depan teman-teman. Seminggu sekali kami mendapat giliran,” kenang Sutamar, yang akrab disapa Pak Tamar, saat ditemui wartawan Majalah Gelora di Kantor PMI Provinsi Jawa Timur, Jalan Karangmenjangan No. 22 Surabaya, Rabu (29/7/2026).
Pak Tamar menceritakan, saat menempuh pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Baitul Arkom, Balung, Jember, ia tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu agama seperti tafsir, akidah, usuludin, nahwu, serta sejarah Perang Badar dan Perang Uhud.
Kepercayaan diri berbicara di depan umum juga ditempa melalui muhadhoroh, sebuah latihan yang tanpa disadarinya menjadi modal penting ketika memasuki dunia kerja.
Selepas lulus dari SMEA pada 1979, Sutamar memasuki dunia yang berbeda. Ia bergelut dengan berbagai mata pelajaran ekonomi dan administrasi, mulai dari tata buku, debit-kredit, penyusunan neraca, ekonomi perusahaan, stenografi, hingga hukum pidana dan perdata.
“Sekolah SMEA waktu itu memang penuh pelajaran hitung-hitungan,” ujarnya.
Tak lama kemudian, sekitar tahun 1980–1982, langkah pengabdiannya dimulai di PMI Provinsi Jawa Timur yang saat itu masih berkantor di Jalan Kalibokor, Surabaya. Ketika itu, jabatan Sekretaris PMI Jawa Timur dipegang oleh Siswo Haryoko, mantan Bupati Kediri yang istrinya berasal dari Jember.
Lebih dari empat dekade berlalu, semangat pengabdian Sutamar tak pernah surut. Di Bidang Umum PMI Jawa Timur, ia kini disibukkan dengan penyusunan data penerima penghargaan Donor Darah Sukarela (DDS) Tahun 2026 yang dijadwalkan diserahkan pada September mendatang.
Tahun ini, sebanyak 650 pendonor akan menerima penghargaan 75 kali donor, 412 pendonor memperoleh penghargaan 100 kali donor, serta 1.988 pendonor menerima PIN 50 kali donor.
Hampir seluruh PMI kabupaten/kota di Jawa Timur telah mengirimkan data usulan penerima penghargaan. Hanya Kabupaten Sumenep yang masih dalam proses, sementara Kota Batu tahun ini belum memiliki penerima penghargaan.
Bagi Sutamar, bekerja di PMI bukan sekadar menjalankan rutinitas administrasi. Ada nilai-nilai yang terus ia pegang teguh sejak masih menjadi santri, yakni disiplin, keberanian menyampaikan pendapat, serta keikhlasan dalam melayani sesama.
Muhadhoroh yang dahulu dijalani setiap pekan ternyata bukan sekadar latihan berpidato, melainkan juga proses membentuk karakter. Karakter itulah yang hingga kini tetap mengiringi langkah pengabdian Pak Tamar selama puluhan tahun di PMI Provinsi Jawa Timur. (*)







